REMAKE / JINKIBUM / TWIN / ONESHOOT


Lee Jinki

Lee Kibum

.

.

.

.

.

 

Disini ceritanya Jinki sama Kibum kembar ya. Kibum kakak nya dan Jinki adik nya.

.

.

.

.

.
Kibum terbangun kala sinar mentari berusaha menerobos masuk melalui celah ventilasi kamar, menembus jutaan lubang serat benang tirai jendela. Ia memegang kepalanya yang terasa pening. Darah rendah. Ingin sekali rasanya menjambak helaian surai madu dikepalanya guna mengurangi rasa tak mengenakan tersebut.
 
“E-eegh~ pusing…” keluhnya dengan suara parau.
 
Ia berniat meninggalkan ranjang namun tubuhnya berhenti bergerak ketika merasakan sesuatu yang hangat melingkari pinggang rampingnya. Kibum menoleh dan menatap sosok rupawan disebelahnya dengan mata sayu, ia mendesah pelan. Perlahan Kibum melepaskan tangan Jinki dari tubuhnya dan segera beranjak menuju kamar mandi yang memang ada dikamar mereka.
 
Suara percikan shower mulai terdengar samar dari luar kamar mandi, disusul oleh senandung pelan tanpa syair.
 
Jinki terbangun dan segera menyadari bahwa Kibum tidak ada disampingnya. Ia menyibak selimut dan membiarkan telapak kakinya merasakan dingin lantai kamar. Mendengar suara-suara dari kamar mandi, ia segera menyadari jika pastilah Kibum didalam sana. Pemuda berkulit putih itu menguap sejenak lalu mengusak helai darkbrown dikepalanya.
 
“Kibum, kau sedang mandi?” tanya Jinki didepan pintu kamar mandi seraya menggeliat, merentangkan kedua tangannya.
 
“Ung! Aku tidak akan lama!” balas suara dari dalam sana.
 
Jinki hanya mendengus kemudian melepas satu-persatu pakaian ditubuhnya dan menjatuhkannya begitu saja dilantai “Tidak perlu, aku akan masuk…”
 
“Okay, masuklah…”
 
Hawa hangat segera menyapa tubuh polos Jinki ketika ia memasuki kamar mandi, Kibum mandi dengan menggunakan air panas rupanya.
 
“Kau kedinginan?”
 
“Tidak, hanya saja…aku sedikit pusing.”
 
Jinki yang awalnya hendak meraih tube facialwash diatas wastafel, menoleh dan menemukan Kibum dibawah shower, tengah kesulitan menggosok punggunggnya. Ia lalu mengabaikan tube facialwash-nya dan melangkah mendekati pemuda bertubuh mungil tersebut, hingga tubuh tegapnya turut merasakan hangat butiran air yang berjatuhan dari lubang shower. Kemudian merampas begitu saja sponge sabun dari tangan Kibum.
 
“Ah, terima kasih…” ucap Kibum ketika Jinki mulai menggosok punggungnya dengan sponge penuh busa beraroma lemon segar.
 
“Jika merasa tidak baik, seharusnya tidak perlu mandi pagi…”
 
“Tubuhku juga berkeringat. Semalaman kau memelukku erat sampai terasa gerah, bodoh!”
 
Jinki tersenyum tanpa menyeka buliran air hangat yang membasahi parasnya “Maaf, kebiasaanku…”
 
“Cih, seenaknya…”
 
.
.
.
Jinki mulai merasa risih karena sejak memasuki gedung sekolah, Kibum terus saja memandanginya tanpa henti. Namun hebatnya, pemuda bertubuh mungil itu sama sekali tak mengalami hambatan meski berjalan tanpa memandang kedepan.
 
“Hei, Jinki…” ucap Kibum mendahului mulut Jinki yang hendak mengeluarkan suara.
 
“Hm?”
 
“Berapa…tinggimu sekarang?”
 
Tatapan penuh tanya kini melayang pada sang pemilik mulut yang baru saja bertanya. Detik selanjutnya Jinki nampak berfikir seraya memandang sejenak langit-langit koridor kelas.
 
“Hmm…182 sentimeter…seingatku…” (anggap aja tinggi nya Jinki segitu lah, hahahaha, nama nya juga FF)
 
Kibum berdecak kesal “Sialan. Aku lahir lebih dahulu mengapa selalu dirimu yang lebih segala-galanya dariku? Sebagai kakak, tidak seharusnya aku menengadah ketika menatapmu!”
 
“Sayang sekali, kakak…” ujar Jinki sedikit mencibir dengan senyum jahil diwajah tampannya “Sebagai kakak, kau juga harus selalu mengalah dariku.”
 
“Heh, bersyukurlah kau memiliki kakak yang selalu bermurah hati sepertiku.”
 
Keduanya berjalan bersama menyusuri lorong kelas. Suasana mulai ramai dikarenakan pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi.
 
“Sebentar, aku mau ketoilet.” Ucap Kibum seraya menunjuk pintu toilet didepan mereka. Jinki tak mengatakan apapun kecuali hanya mengikuti langkah saudaranya kedalam sana.
 
Kibum menghampiri salah satu washtafel, air mengalir begitu saja ketika ia mendekatkan kedua tangannya pada mulut keran. Sementara Jinki hanya diam bersandar pada salah satu sisi dinding seraya menyusupkan kedua tangan dalam saku celana seragamnya.
 
“Ah, aku lupa memberitahumu.” Ucap Kibum membuat Jinki mendelik kearahnya. Mereka saling melempar pandang melalui cermin washtafel “Ayah dan ibu…mereka menghubungiku lewat video call saat kau sedang tidur siang kemarin. Sepertinya bulan ini mereka tetap tidak bisa pulang karena─”
 
“Akh! Enggh~ hentikan…akh, Minho…kubilang─”
 
Pemuda bertubuh mungil itu menghentikan ucapannya. Tatapannya pada Jinki berubah menjadi sedikit bingung. Keduanya menoleh kearah sumber suara, salah satu pintu bilik toilet nampak bergetar serta terdengar suara berisik seperti benturan dan…desahan─
 
“Ini tidak akan butuh waktu lama, Taemin. Masih ada beberapa menit sebelum masuk, hm?”
 
“Kubilang, akh─ setidaknya…ja-jangan seka…si-sialhh~”
 
Kibum mengeringkan tangannya dengan beberapa lembar tisu yang diambilnya dari slot yang tersedia disisi cermin. Ia dan Jinki masih menatap pintu bilik sumber kebisingan tersebut.
 
“Akh~ Cukup, hentikan!!” kali ini terdengar suara seperti benturan yang cukup keras, tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan sosok seorang lelaki bertubuh mungil seperti Kibum dengan wajah manisnya yang nampak kesal. Ia tengah memperbaiki kancing seragamnnya yang kacau ketika itu. “Menyusahkan! Bisakah kau tidak berbuat seperti itu padaku sehari saja?!”
 
Disusul keluarnya seorang lelaki lain, kali ini bertubuh jauh lebih tinggi dan tegap, bersurai gelap dan mengenakan seragamnya secara asal…dari tempat yang sama.
 
“Selamat pagi! Kibum, Jinki!” ucapnya ceria. Ia bahkan tidak mengenakan dasi dan membiarkan ujung kemejanya diluar celana begitu saja.
 
“Pagi yang menyusahkan, hm? Minho.” Sahut Kibum setelah melempar gumpalan tisu-nya kedalam tempat sampah.
 
“100 persen tepat sekali, Kibum!! Apa kau tahu, aku baru saja meletakan tasku diatas meja dan orang ini langsung menyeretku kedalam toi─ hmppph! Hei, sialan! lepaskan─ hmmph!”
 
Kibum dan Jinki nampak tertegun melihat betapa gesitnya Minho ketika ia merengkuh Taemin dari belakang dan segera membekap mulutnya hingga pemuda yang merupakan kekasihnya itu kesulitan bicara…dan juga bernapas.
 
Minho lalu mendekatkan mulutnya ketelinga Taemin dan berbisik pelan “Akan lebih baik jika kau menjerit dan mendesahkan namaku ketimbang berbicara tak karuan seperti itu, sayang.”
 
Sepercik sengatan listrik segera menggelitik sekujur tubuh Taemin dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dengan wajah merona merah, sekuat tenaga ia melepaskan diri dari pelukan kekasihnya tersebut.
 
“Aku-tidak-akan-sudi!!” ejeknya seraya menjulurkan lidah kemudian berlari begitu saja meninggalkan toilet.
 
Minho berdecak dan mengacak helaian hitam pekat dikepalanya “Menyusahkan saja.” Keluhnya sambil melangkah mendekati pintu, namun ia menoleh kepada Jinki dan Kibum tepat sebelum memijakan kaki diluar pintu “Tolong katakan pada guru kalau aku dan Taemin izin tidak masuk kelas sampai istirahat siang nanti. Okay? Thank you! Bye!”
 
Hening menyeruak. Tak terdengar lagi suara langkah Taemin yang berlari atau pun Minho yang berjalan dengan santai.
 
“Ah, soal ayah dan ibu yang tadi kau bicarakan…bagaimana kelanjutannya?” tanya Jinki menyadarkan Kibum yang pada awalnya masih terdiam menatap pintu dimana Taemin dan Minho menghilang.
 
“Oh, mengenai itu…seperti biasa, mereka tidak akan pulang lagi bulan ini karena masalah pekerjaan. Besok mereka akan bertolak ke China atau kemana…entahlah.”
 
“Heeehh~ aku bertaruh kalau mereka tidak ingat alamat rumah kita.” Jinki mencibir.
 
“Haha! Mungkin saja.”
 
Bunyi bel terdengar nyaring memaksa Kibum dan Jinki untuk berlari menuju kelas mereka.
 
……………

“Ini apa? Cupcake coklat?”
 
“Hm.” Jinki menangguk tanpa mengalihkan perhatian dari layar notebook dihadapannya, pemuda berkulit putih ini telah berkutat dengan benda elektronik canggih itu sejak sekitar 20 menit lalu.
 
“Kau mendapatkannya darimana?” tanya Kibum lagi, kali ini ia terlihat mengendus aroma coklat yang menguar dari kotak ditangannya.
 
“Erika.”
 
“Erika? Siapa?”
 
“Erika Takagi. Murid pindahan dikelas sebelah.”
 
“Dia orang Jepang?”
 
“Begitulah.”
 
Kibum terdiam memandangi kotak imut ditangannya. Terdapat gambar dan tulisan lucu dengan warna yang menarik disana. Feminine sekali gadis yang memberikan benda ini pada Jinki, ia pikir…meski pun belum pernah bertemu dan melihat sosoknya secara langsung.
 
“Aku rasa gadis bernama Erika itu menyukaimu, Jinki.”
 
“Oh ya? Aku juga berfikir seperti itu.”
 
“Lalu?”
 
“Biasa saja.”
 
Mulut kecilnya kembali bungkam. Kibum kembali merasakannya, perasaan aneh yang kerap kali menghampiri hatinya ketika orang lain mencoba menjalin tali kedekatan dengan adik kembarnya itu. Ia memainkan kotak berisi cupcake ditangannya…seraya memikirkan hal-hal random yang membuat seisi kepalanya bagaikan diaduk-aduk dengan brutal. Memang, ini bukan kali pertama Jinki didekati seorang gadis ─atau bahkan laki-laki─ adik kembarnya itu memiliki cukup banyak penggemar, sering mendapat surat cinta dan juga kerap kali difoto secara diam-diam oleh pencari bakat yang berkeliaran dijalan, tidak heran jika esoknya foto Jinki terpampang jelas sebagai ‘Siswa SMA paling menawan’ dalam majalah, urutan pertama.
 
Mengapa?
Kibum sendiri tidak mengerti mengapa hati kecilnya mempermasalahkan hal tersebut.
 
“Kau boleh menghabiskannya. Benda itu sengaja kusimpan untukmu.”
 
“Eh?” Kibum berpaling memandang Jinki yang entah sejak kapan telah menatapnya. Pemuda berparas cantik itu mendengus “Kau tidak keberatan? Gadis itu memberikannya untukmu, bukan untukku…”
 
Jinki menghela nafas dan kembali memutar kursinya menghadap notebook. “Bukan masalah. Kita sudah terbiasa berbagi segala sesuatunya.”
 
Kibum tersenyum tipis. Ia merasa cukup puas, karena Jinki akan selalu mengutamakan kepentingan dirinya.
 
“Thanks.”
 
.
.
.
Saat ini jam telah menunjukan pukul Sembilan malam, dan karena udara cukup mampu memancing peluh, Kibum memutuskan untuk tidur hanya dengan mengenakan kaus dalam tipis dan celana training hitam panjang. Ia sudah siap diatas kasur, belum berbaring…pemuda bersurai coklat-madu itu menyempatkan diri menghabiskan waktu dengan bermain Play station Portable-nya.
 
Detik selanjutnya terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, uap air segera mengepul dari dalam sana, disusul keluarnya seorang pemuda tampan tengah bertelanjang dada seraya mengeringkan surai gelap dikepalanya dengan selembar handuk putih.
 
Jinki memandang saudara kembarnya yang bertingkah laku seperti anak sekolah dasar, begitu bersemangat memainkan PSP ditangannya.
 
“Ada sisa pasta gigi disikat gigi-ku. Berhentilah membeli sikat gigi dengan warna dan model yang sama denganku.“ ucap Jinki seraya melempar handuknya ke atas ranjang, bukan masalah…karena malam ini keduanya telah berencana untuk tidur diranjang Kibum.
 
“Maaf. Kebiasaanku…” sahut Kibum tak acuh tanpa mengabaikan PSP-nya sedikit pun.
 
“Cih, seenaknya.” Rutuk Jinki yang mulai melangkah mendekat kemudian menaiki ranjang Kibum. Menempatkan dirinya tepat dibelakang saudara kembarnya yang tengah duduk bersila memainkan PSP.
 
Jinki merengkuh pinggang ramping Kibum erat, dengan kedua tangannya. Kibum mulai kehilangan focus bermain PSP-nya…ujung dagu bangir Jinki menyentuh pundak kanannya, terasa hangat.
 
“Ada apa?”
 
Pemuda berkulit putih itu tak menjawab. Ia merendahkan tali kaus dalam ditubuh Kibum agar dapat lebih leluasa mengecup pundak lembut kembarannya tersebut.
 
Tanpa perlu melihat langsung, Jinki dapat mengetahui dan merasakannya…kini Kibum tengah tersipu.
 
“…Jinki?”
 
“Aku tidak merindukan ayah dan ibu. Aku tidak peduli mereka akan kembali atau tidak. Aku sama sekali tidak keberatan jika harus menghabiskan sisa hidupku tanpa kehadiran mereka.”
 
Rasa ketertegunan membuat tubuh Kibum membeku, ia masih memegang PSP-nya meski jemari kecilnya tak lagi bergerak menekan berbagai tombol disana.
 
Kedua orang tua mereka adalah orang yang tak pernah berhenti mengejar karir. Sejak kecil Kibum dan Jinki dibesarkan oleh pengasuh sementara orang tua mereka sendiri sibuk bekerja keberbagai tempat, meninggalkan anak kembar mereka.
 
Jinki dan Kibum adalah kembar identik sampai usia 10 tahun, sejak saat itu…mereka tumbuh dengan postur tubuh dan wajah yang berbeda. Dimana Jinki menjelma menjadi pemuda bertubuh tinggi sempurna, rupawan dan merupakan dambaan para gadis mau pun lelaki. Sementara Kibum, ia tumbuh sebagai pemuda berparas manis, bertubuh mungil dan lebih banyak didambakan lelaki ketimbang perempuan…kebalikan dari Jinki.
 
Namun semua perbedaan itu tak mengubah kenyataan bahwa mereka lahir dari satu telur yang terbelah menjadi dua.
 
Kibum tersenyum tipis lalu sedikit menoleh, bermaksud untuk melihat wajah Jinki…ia dapat merasakan puncak hidung Jinki mengenai pipi empuknya.

“Aku juga…tidak membutuhkan mereka.” Ucapnya lirih dengan kedua tangan memegang erat tangan Jinki yang melingkari pinggangnya.
 
Dan kemudian Kibum pun sedikit memutar tubuhnya agar ia dapat menatap lekat wajah Jinki, menangkupnya lembut dan mengecup pelan tiap lekuk pahatan indah tersebut.
 

 

“Aku ditembak.”
 
“HAH?!”
 
“Maksudku, seseorang menyatakan perasaannya padaku…”
 
“O-oohh…” Kibum mengambil gigitan kedua roti coklat ditangannya, perasaannya tiba-tiba saja menjadi kacau.
 
Keduanya kini tengah berdiri didekat jendela lorong kelas, waktunya istirahat siang namun baik Kibum atau pun Jinki sama sekali tak berniat mendatangi kafetaria sekolah untuk makan siang. Mereka lebih memilih membeli beberapa bungkus camilan lalu memakannya bersama sambil mengobrol dan bersenda gurau. Semua berlangsung wajar seperti biasa, sampai ketika Jinki membuka percakapan perihal seseorang yang menyatakan perasaan kepadanya.
 
Hal yang paling membuat Kibum gundah…adalah ketika seseorang mencoba menjalin tali kedekatan dengan Jinki.
 
Dan kini…
 
“Siapa…orangnya?”
 
“Gadis yang memberiku cupcake coklat beberapa waktu lalu.” Tanpa ragu Jinki menjawab.
 
Kibum menelan rotinya dan menghela nafas “Sudah kuduga. Seperti apa dia?”
 
“Lihat saja…dia ada didepan pintu kelas 3-D, sedang bersenda gurau dengan temannya.”
 
Tanpa bertanya lebih lanjut Kibum segera melayangkan tatapannya ketitik yang baru saja Jinki sebutkan. Tanpa sadar mulut mungilnya sedikit terbuka ketika menemukan seorang gadis yang nampak menawan dengan senyum cerahnya.
 
“Dia Erika, yang mengenakan jepit rambut berbentuk cherry.”
 
Kibu. mengabaikan ucapan Jinki dan terus saja menatap lekat gadis bernama Erika itu, gadis yang membuat nafasnya tercekat.
 
Satu kesimpulan terangkai dengan cepat diotaknya…gadis itu…pantas bersanding dengan Jinki.
 
“Bagaimana menurutmu?”
 
“U-uh…itu─”
 
Mulut Kibu. berhenti bersuara ketika menyadari bahwa Erika tengah menatap kearahnya, tidak…menatap Jinki lebih tepatnya. Gadis itu tersenyum riang sebelum akhirnya meninggalkan teman-temannya untuk menghampiri Jinki.
 
“Bolehkah aku pergi bersamanya?”
 
“U-uh…yeah, tentu saja…”
 
“Baiklah, sampai nanti kalau begitu.”
 
Gadis itu datang untuk mengajak Jinki pergi bersamanya, entah kemana, ia hanya membisikkan pada Jinki. Tak ada yang dapat Kibum lakukan selain hanya mengangguk dan memberikan jawaban postif, ia tidak sanggup menolak permohonan Jinki…meski dadanya bagaikan disayat secara perlahan.
 
Kini Jinki berjalan bersama orang lain, tertawa bersama orang lain, berbicara dengan orang lain dan bersentuhan dengan orang lain.
 
Jinki…kotor.

“Eh, Kibum?” ucap suara nyaring yang membuyarkan lamunannya.
 
“T-Taemin?”
 
“Apa yang kau lakukan, jangan diam saja, kau menghalangi jalan…” lanjut Taemin seraya menarik Kibum sedikit menepi. Ia sedikit heran karena tak menemukan kehadiran Jinki disekitar pemuda bertubuh mungil tersebut “Dimana Jinki?”
 
“Dia pergi…dengan gadis bernama Erika.”
 
“Eh?! Gadis yang katanya menyukai Jinki itu kah?” tanya Taemin memastikan yang segera disambut anggukan kepala oleh Kibum “Gadis yang sangat bersemangat, mungkin sebentar lagi mereka akan segera menjalin hubungan…”
 
Menjalin…hubungan???
 
.
.
.

.

.

 
Jinki belum kembali kerumah, ia tak langsung pulang melainkan pergi ketempat lain, sepertinya…Kibum tak perlu susah payah menerka dengan siapa saudara kembarnya itu menghabiskan waktu, sudah pasti…gadis bernama Erika.
 
Pemuda bertubuh mungil itu tengah duduk dilantai bersandar pada kaki ranjang dan berhadapan dengan televisi layar datar. Kamar mereka cukup besar dengan dua ranjang single dan satu kamar mandi, dilengkapi televisi serta seperangkat personal computer untuk masing-masing, tak lupa sebuah kulkas mini dan dispenser. Tentu saja kedua orang tua mereka selalu mencukupi ─bahkan melebihkan─ kebutuhan keduanya, sebagai ganti kebersamaan mereka sebagai satu keluarga…katanya.
 
Sejak dilahirkan, ia dan Jinki selalu menempati kamar yang sama…mereka menolak tegas ketika ayah dan ibunya hendak memisahkan kamar mereka.
 
Semua sudah jelas…karena mereka kembar, tidak ada alasan untuk tidak bersama.
 
Kibum memeluk erat kedua lututnya. Suasana kamar terasa hampa tanpa kehadiran Jinki, ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Berkali-kali ia membatalkan niatan untuk menghubungi ponsel Jinki, Kibum merasa ia tak memiliki alasan yang kuat, toh nanti Jinki juga akan pulang…ia hanya perlu menunggu, meski rasanya tak sanggup lebih lama lagi menunggu.
 
Terdengar suara terbukanya pintu.
 
Sosok pemuda tampan berkulit seputih salju segera didapatinya berdiri diambang pintu ketika Kibum menoleh, Jinki…masih dalam seragam lengkapnya serta tas ransel yang menggantung hanya dipundak kanannya saja.
 
Jinki tersenyum lembut, namun Kibum membalasnya dengan tersenyum masam.
 
“Kau belum tidur?” tanya Jinki selagi menutup pintu lalu meletakan tas ranselnya diatas meja belajar.
 
“Ung.” Kibum mengangguk lalu kembali menatap televisi “Aku masih ingin melihat acara di televisi…”
 
Kening Jinki berkerut, sejak kapan Kibum suka menyaksikan acara stand up comedy? pikirnya…lagipula saudaranya itu sama sekali tidak tertawa dan malah menatap kosong siaran tersebut. Merasa ada yang aneh, pemuda rupawan itu memutuskan untuk menghampiri Kibum…tepat duduk dihadapan saudara kembarnya tersebut. Kibum sama sekali tak protes meski pada kenyataannya Jinki menghalangi pandangannya pada televisi.
 
“Tolong lepaskan dasi seragamku.” ucap Jinki seraya menarik kasar dasi yang melingkar dilehernya.
 
Kibum terdiam beberapa saat, matanya berkedip beberapa kali membuat Jinki tersenyum tipis…sebelum akhirnya ia mendesah lalu melepaskan dasi seragam Jinki dengan gerakan lembut.
 
“Kau memikirkan hubunganku dengan Erika?” tanya Jinki seolah dapat membaca pikiran Kibum.
 
Kedua pipi putih Kibum segera diresapi rona kemerahan, tanpa sadar ia menggenggam erat dasi seragam Jinki ditangannya.
 
“U-uh…”
 
Jinki tertawa kecil “Sudahlah, tak perlu kau katakan pun…aku dapat menebak seluruh isi kepalamu.”
 
“Yeah, selalu dan akan selalu seperti itu.” ujar Kibum seraya mendudukan diri ditepi ranjang disusul oleh Jinki yang melakukan hal serupa. “Aku hanya cemas, bodoh! Kau pergi tanpa memberi kabar…”
 
“Lalu mengapa kau tidak menghubungi ponselku saja?”
 
“Heh~ Ha-hal itu tidak terpikirkan olehku!” kilah Kibum yang gugup mengucapkan kebohongan.
 
“Oh ya? Padahal aku sangat berharap kau menelponku, menanyakan keberadaanku juga memintaku segera pulang.”
 
Rona kemerahan segera kembali meresapi pipi putih Kibum, kali ini disertai debaran jantungnya yang berpacu cepat layaknya bom waktu…melihat senyum lembut diwajah saudara kembarnya itu ketika ia mengutarakan harapannya.
 
Kibum meneguk liur-nya beberapa kali. Bibirnya terasa kelu dan kamus kata-kata dikepalanya bagaikan lenyap begitu saja.
.
‘Aku tidak suka gadis itu. Jangan berdekatan dengannya. Jangan bersentuhan dengannya dan jangan pergi bersamanya.’

.

 
Kibum mendengus seraya memalingkan wajahnya “Jangan bicara gombal pada kakakmu sendiri! Cepat mandi dan segeralah tidur!” hardiknya sebelum menarik selimut dan merebahkan diri diatas ranjangnya sendiri.
 
“Ya, baiklah…kakak.” sahut Jinki disertai nada meledek. Pemuda yang bertubuh lebih tinggi dari saudara kembarnya itu kemudian melepas seragam ditubuhnya dan menyampirkannya pada sandaran kursi belajar.
 
Kibum terdiam seraya berlindung dibalik selimutnya, ia meneguk liur berkali-kali…tak sanggup lagi menahan diri hingga akhirnya ia mengeluarkan suara. “Bagaimana…hubunganmu dengan gadis i─”
 
“Ah, benar juga! Itu yang ingin kutanyakan padamu!”
 
“Eh?” Kibum sedikit menjauhkan kepala dari bantal agar dapat memandang Jinki.
 
“Bagaimana menurutmu? Apa aku harus menerima perasaannya?”
 
“Kau menyukainya?”
 
Jinki terdiam dan mengulum senyum, ia melangkah menghampiri Kibum dan duduk ditepian ranjang…dalam keadaan hanya mengenakan kaus dalam, karena baru hanya kemeja dan jas seragamnya saja yang ia lepas.
 
“Aku…tidak yakin. Tapi jika menurutmu gadis itu baik, akan kupertimbangkan untuk menerima perasaannya.”
 
Benar…
Jinki memang selalu mendahului dirinya diatas segalanya. Ia bahkan tidak yakin akan perasaannya dan meminta pendapat Kibum lebih dulu.
 
Namun akan sampai kapan hal ini terus berlanjut?
Bukankah kelak, mereka akan menyusuri jalan yang berbeda?
“Dia gadis yang baik, sepertinya. Selalu tersenyum, ceria dan bersemangat. Dia juga sangat menyukaimu.” ucap Kibum lirih karena menahan rasa tak nyaman dihatinya. Ia kembali meletakan kepalanya diatas bantal dan menghadap kearah yang berlawanan dengan posisi Jinki duduk.
 “Jinki…cobalah…menjalin hubungan dengannya…”
 
……………

Jika Kibum mengatakan bahwa bentuk bumi adalah kubus, maka Jinki berpendapat sama.
Jika Kibum mengatakan bahwa gula itu pahit rasanya, maka Jinki akan berpendapat sama.
Jika Kibum berkata bahwa salju itu panas, maka Jinki akan berpendapat sama.
 
Bahkan untuk hal dengan tingkat kesalahan paling fatal sekalipun, Jinki akan tetap menganggukan kepala sambil tersenyum.
 
Jinki akan selalu berkata ‘Ya’
Jinki akan selalu berkata ‘Benar’
Jinki akan selalu berkata ‘Boleh’
 
Maka disinilah Kibum sekarang, memandang dikejauhan ketika Jinki tengah memulai tali kedekatannya dengan gadis asal Jepang bernama Erika. Ia bersentuhan dengan gadis itu, tersenyum kepada gadis itu dan tertawa bersama gadis itu. Jinki melakukan segala yang Kibum katakan…termasuk untuk menerima perasaan Erika meski Kibum sendiri menyadari bahwa Jinki masih ragu akan hatinya.
 
Kibum hanya merasa…jika ia berkata ‘Jangan’ ketika itu…
Ia tak ubahnya bagai seonggok batu hambatan.

.

.

.

.

.

Dilorong kelas yang sepi, ketika pelajaran telah usai dan seluruh siswa meninggalkan sekolah…Kibum berusaha untuk menyaksikan, berusaha untuk memetik sebuah…sebuah saja kebahagiaan dari senyum Jinki yang ditujukan bukan untuk dirinya.
 
Namun buah yang seharusnya terasa manis itu, tetap saja terasa pahit dihatinya…karena Jinki tidak membagi kebahagian kepadanya, melainkan kepada gadis itu.
 
Kibum hanya mampu berbalik dengan hati sesak, ketika gadis itu dan Jinki berciuman.
 
Ia tak sanggup melihatnya.
 
.
.
.
 
Hari ini giliran dirinya yang pulang terlambat, nyaris mendekati waktu tidur. Kibum dengan gontai melangkah menuju kamar tidurnya dilantai dua. Ia merasa sangat lelah, setelah seharian berkeliaran ditengah kota tanpa tujuan yang jelas…namun jelas dengan maksud menghibur diri.
 
Apa yang akan ia lakukan jika bertemu Jinki nanti?
Apa yang akan ia katakan jika nanti saudara kembarnya itu bertanya perihal kondisinya yang menyedihkan ini?
 
Kibum hanya mampu menghela nafas berat dan membuka pintu kamarnya.
 
“Sudah pulang?”
 
“Ng?” dengan lesu Kibum mengangkat kepalanya dan langsung berhadapan dengan Jinki yang baru saja meninggalkan kamar mandi.
 
Pintu kamar mandi dan pintu kamar memang berdekatan jaraknya. Ia memandang Jinki sejenak, pemuda berkulit putih nyaris pucat itu sepertinya baru saja selesai mandi, tubuhnya hanya tertutupi sehelai handuk merah sebatas pinggang hingga lutut, sementara surai darkbrown-nya terlihat basah hingga beberapa tetes air terjatuh dari ujung surai dikepalanya.
 
Wangi maskulin yang segar dan terkesan dewasa. Jinki memang menggunakan sabun mandi yang berbeda dengannya.
Sekali lagi…Kibum hanya menghela nafas “Ng…yah, begitulah.” ucapnya lesu, ia melempar tas ranselnya kesembarang tempat dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja diatas ranjang.
 
“Apa apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Jinki pada Kibum yang menenggelamkan wajahnya pada bantal.
 
“Tidak. Tidak ada apa-apa.”
 
Kali ini giliran Jinki yang menghela nafas. Tak perlu memeras otak untuk menyadari bahwa saudara kembarnya itu kini tengah merasa tertekan, entah mengapa hati Jinki pun turut merasa tak nyaman jika melihatnya.
 
Jinki menyentuh punggung Kibum “Apa yang terjadi? Aku tahu kau tidak berkata jujur, Kibum. Sebenarnya apa yang─”
 
Dengan kasar, Kibum menepis tangan Jinki.
 
“Jangan sentuh aku!!” jeritnya dan menatap kembarannya itu nyalang.
 
‘Jangan sentuh aku! Aku tidak mau bersentuhan denganmu karena kau telah bersentuhan dengan gadis itu! Itu menjijikan!’
 
Suasana bagai membeku, meski udara tak terasa dingin sama sekali. Kibum tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan, pertama kali dalam hidupnya ia memperlakukan saudara kembarnya dengan kasar. Kedua matanya yang melebar itu berbenturan langsung dengan mata Jinki yang menampilkan hal serupa, terliputi keterkejutan dan ketidakpercayaan.
 
Sial, tidak, ini tidak benar. Semua kacau. Apa yang terjadi sebenarnya? Dunia apa ini…mengapa ia merasa terpisah jauh dari Jinki?
 
Kibum menundukan kepala, hingga helaian poni rambutnya menutupi mata…tak perlu ia berucap banyak untuk menunjukan penyesalannya pada Jinki “A-aku mau mandi…”
 
Langkahnya masih gontai ketika ia meninggalkan ranjang. Tubuh yang tak seimbang itu akhirnya jatuh tersungkur kelantai, menimbulkan bunyi debuman yang menggema keseluruh penjuru kamar. Pemilih tubuh limbung itu tak langsung berdiri, ia terdiam sebentar membiarkan rasa dingin meresapi pori-pori kulitnya. Kepalanya terasa sakit dan pening…sinar lampu dilangit-langit begitu menyilaukan ketika menatapnya langsung dengan mata dalam waktu lama.
 
Kibum menutup kedua mata dengan lengannya.
Sial, ada apa dengan dirinya?
Tak sepatutnya ia menyakiti Jinki…seseorang yang merupakan dirinya yang lain.
Belahan jiwanya. Kepingan hatinya.
 
“Kibum.”
 
Sang pemilik nama membuka matanya perlahan dan ia terkejut luar biasa kala mendapati wajah Jinki yang begitu dekat dengan penglihatannya.
 
Kibum memberontak. Ia bersikeras menyingkirkan Jinki dari atas tubuhnya, atau setidaknya menjauhi saudara kembarnya tersebut. Jinki yang mengetahui isi pikiran Kibum, telah lebih dulu mencekal kedua tangannya dikedua sisi kepala. Kibum sempat meringis pilu sesaat, membuat Jinki turut merasa sakit.  Namun hal itu tak membuat Kibum menyerah untuk menjauhi Jinki…ia meronta, meraung dan menjerit sekuat tenaga. Membuat Jinki cukup kewalahan…bukan karena kesulitan atau masalah kekuatan.
 
Karena…Kibum menolaknya…belahan jiwanya itu menolak dirinya.
 
“Aku akan mengakhiri hubunganku dengan gadis itu…jika memang hal itu yang kau harapkan.”
 
Jeritan penolakan itu berhenti. Kibum mulai tenang meski nafasnya terengah…namun kedua matanya terselimuti rasa ketertegunan.
 
Lagi-lagi Jinki…menomorsatukan dirinya.
 
“Ja-jangan bercanda…hubungan kalian bukan seperti waktu sekolah yang dimulai pagi hari dan berakhir pada sore hari.”
 
Jinki menambah kekuatan cengkramannya terhadap tangan Kibum…sang pemilik terdengar mengerang pilu “Aku tidak peduli.”
 
“Kau harus peduli pada kekasihmu…”
“Aku tidak peduli pada orang lain! Aku hanya peduli padamu!”
 
Seruan Jinki cukup mampu membuat Kibum tersentak. Terkejut. Tertegun. Tidak percaya. Ia, sebenarnya…sangat ingin bersuka cinta akan hadirnya rona merah muda yang menjadi warna baru memperindah parasnya. Namun sekali lagi, ia mempertegas diri…ia tidak boleh egois, ia dan Jinki memang kembar…tapi bukan berarti mereka akan terus bersama.
 
Akan tiba saatnya dimana Jinki harus berjalan kearah utara sementara dirinya kearah selatan.
Akan tiba saatnya dimana Jinki harus memilih hitam sementara dirinya memilih putih.
Akan tiba saatnya dimana Jinki harus terbang kelangit sementara dirinya bertahan diatas tanah.
 
Dan saat itu…adalah sekarang.
 
“Tidak. Jangan…” ucap Kibum lirih. Ia menatap Jinki sendu…dengan kedua matanya yang telah ternodai serpihan kaca bening “Kita harus berhenti bersikap egois, Jinki…”
 
Kata Kibum yang membuat Jinki merasa lemah. Kibum menolaknya kedua kali…
Mereka satu jiwa…apa salahnya?
 
“Mengapa tidak boleh bersikap egois? Selama ini kita terus bersikap egois terhadap orang lain…sejak dulu aku tidak pernah menganggap siapa pun didunia ini kecuali dirimu. Aku tidak peduli akan penderitaan orang lain selama kau bahagia, Kibum. Mengapa sekarang harus berhenti? Mengapa kini semua harus berubah?”
 
Paras Jinki terlihat seperti tengah menahan sakit. Kibum paham meski tubuh pemuda itu baik-baik saja…namun tidak dengan hatinya. Ia dapat merasakannya…urat syaraf dan pembuluh darah ini saling terkait.
 
“Kita tidak akan bahagia jika hidup terpisah. Kita tak kan pernah sampai ketujuan jika menyusuri jalan yang berbeda. Aku tidak akan memilih hitam jika kau memilih putih. Jika aku malaikat dan kau tetap manusia, akan kupatahkan sayapku agar kaki ini dapat terus berpijak diatas tanah. Kau tahu mengapa?”
 
Kibum terdiam…namun meski begitu Jinki mengerti akan jawaban negatif yang tengah dipikirkan saudara kembarnya itu. Pemuda berkulit putih nyaris pucat itu tersenyum lembut.
 
“Karena kau adalah aku, aku adalah kau. Karena kita kembar. Kembar hanya memiliki satu hati. Tidak ada seorang pun yang dapat mengusik kita.”
 
“Tapi…bagaimana dengan…”
 
Jinki tersenyum lalu membelai lembut sebelah pipi Kibum dengan punggung jemari kokohnya.
 
“Aku memang menyukai Erika…tapi aku jauh lebih menyukai dirimu…”
 
……………
 

 
“Ini bukanlah cinta, melainkan lebih dari itu.”
 

 
Kedua kalinya Kibum berada dikoridor kelas ketika sekolah benar-benar telah sepi, bagaikan deja vu atau roll film yang rusak dan menampilkan kejadian sama berulang-ulang. Ia berdiri dikejauhan, memandang Jinki dan calon mantan kekasihnya kini tengah membicarakan sesuatu yang telah lebih dulu ia bicarakan bersama Jinki.
 
Detik selanjutnya Kibum mendengar gadis itu meraung seraya menutup wajah dengan kedua tangannya. Jinki hanya terdiam, tak menenangkan mau pun melakukan sesuatu sebagai bentuk penyesalan hati
 
Kibum meneguk liurnya paksa. Jinki berkata…tidak ada ruang kosong diantara kita, jika ada seseorang yang bersikeras ingin menempatinya, buat dia mengerti agar mengenyahkan diri dengan suka rela.
 
Tidak apa menjadi egois…selama ia dan Jinki akan terus bersama.
 
Kibum terbelalak ketika menyadari bahwa gadis itu tengah melayangkan tangan hendak menyarangkan tamparannya kewajah Jinki, namun sebelum hal tersebut sempat terlaksana…ia telah lebih dulu melesat maju dan mencegahnya.
 
Dengan tatapan penuh amarah…Kibum berkata.
 
“Jika kau melukai Jinki…aku tidak akan segan-segan melukaimu!”
 
Wajah gadis itu berubah pucat dengan cepat…ia bagaikan seekor anak ayam yang sebentar lagi akan binasa disantap hewan buas.
 
“Pergilah.” ucap Jinki dengan tenang. Detik selanjutnya gadis itu pergi seraya menangis tersedu-sedu.
Kini mereka kembali hanya berdua…seperti semula, seperti seharusnya dan memang sepatutnya demikian.
 
“Sekarang, akan kulakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu…”
 
“Huh? Apa maksudmu?”
 
Sebelum terjadi pembicaraan lebih lanjut, Kibum segera berjinjit dan menarik kerah seragam Jinki, mendekatkan wajah mereka dan mempersatukan bibir kecilnya dengan bibir merah diantara hamparan kulit putih nyaris pucat tersebut.
 
Semua kata terkunci rapat dalam penyatuan kecil mereka. Kedua belah bibir masing-masing saling memanja pasangannya…saling menyalurkan perasaan dan berbagi kehangatan.
 
“Apa yang kau lakukan?” tanya Jinki ketika mereka menghentikan sejenak penyatuan kecil tersebut untuk bernafas bebas.
 
“Membersihkanmu dari sentuhan gadis itu.”
 
Dan Kibum memulai kembali kegiatan manis yang beberapa detik lalu juga mereka lakukan. Jinki tersenyum ketika dengan sengaja ia membiarkan lidah Kibum agar berhasil memasuki rongga mulutnya.
 
“Bersihkanlah sesukamu, kalau begitu…”
 

 

 
Sungguh menyenangkan ayah dan ibu pulang hari ini meski hanya untuk satu malam saja karena keesokan harinya, mereka harus segera bertolak ke Australia untuk pekerjaan lainnya.
 
Tentu saja ini adalah hal yang membahagiakan dihati Kibum dan Jinki. Hanya seperti itu, tidak lebih dan tidak memberikan kesan berarti bagi keduanya. Ada tidaknya ayah dan ibu mereka, semua sama saja…tidak ada sedikit pun yang berubah. Mereka tetap jarang berbicara satu sama lain dan sekalinya berbicara pun…selalu saja menggunakan bahasa formal, layaknya mitra bisnis. Seperti itulah mereka, anak mereka yang sesungguhnya adalah kerajaan bisnis dan uang mereka yang terus berkembang biak dibank.
 
Bahkan dimeja makan, tempat dimana seharusnya sebuah keluarga menjalin kedekatan dan kehangatan satu sama lain…masalah bisnis dan pekerjaan selalu menjadi topik utama.
 
Jinki dan Kibum makan dengan tenang, lebih menarik memerhatikan makan malam mereka ketimbang saling bertatap muka dengan kedua orang tua mereka yang kini mulai mencela dan merendahkan rekan bisnisnya.
 
“Kami selesai. Terima kasih atas makanannya.”
 
Setelah berkata demikian secara bersamaan, tanpa direncanakan dan tanpa dipikirkan terlebih dahulu, Kibum dan Jinki segera bangkit dari kursi dan meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Perbincangan kedua orang tua mereka mengenai bisnis masih terus berlanjut ketika itu.
 
Sepasang anak kembar itu hanya terus melangkah menuju kamar mereka…bersama.
 .

.

.

.

.
 
“Aaah~ akh…” desah Kibum pilu ketika Jinki mulai memasuki dirinya.
 
Posisi mereka kini berada dalam satu tempat, Jinki diatas dan Kibum dibawah…tentu saja, ukuran tubuh dan kekuatan jelas menjadi faktor utama untuk menentukan siapa yang lebih dominan…sudah jelas Jinki lah sang dominan.
 
Setetes bulir air mata mengalir dari sudut mata indah Kibum dan Jinki menjilatnya dengan penuh kehati-hatian.
 
“Ke…kenapa aku yang…hh~ se…lalu dibawah…?” ucap Kibum dengan susah payah seraya meremas kuat-kuat seprai alas tidurnya.
 
Jinki tersenyum penuh arti dan terus memperdalam penyatuan tubuh mereka, Kibum terpekik merasakan rasa sakit yang tak tertahankan. Sampai pada puncak kenikmatan duniawi…untuk kedua kalinya Kibum menangis. Dengan mata berair yang indah seperti danau dikala malam bertabur cahaya bintang, ia menatap Jinki sendu.
 
Pemuda berkulit putih pucat yang kini dipenuhi peluh itu membelai salah satu pipi Kibum dengan ujung jemari kokohnya, ia tersenyum lembut.
 
“Bukankah seorang kakak harus selalu mengalah pada adiknya?” dan kemudian mengecup kening sang belahan jiwa “Aku menyayangimu, Kibum.”
 
 
………
……

END

Advertisements

REMAKE / JINKIBUM / MR.PERFECT  1 / TWOSHOOT

​Lee Jinki

Kim Kibum
.

.

.

.

.

.

.

.
Kibum! Kau di mana? Aku sudah sampai di

sekolah. Ini hari pertama kita di kelas yang

baru. Kau tidak mau terlambat, kan?

From: Kyungie^^

.

Kibum tersenyum menatap pesan yang baru

saja masuk di ponsel layar sentuhnya. Tanpa

membalas pesan itu, ia menoleh ke luar

jendela. Sekolahnya hanya tinggal beberapa

meter lagi saja. Dan dari tempat duduknya,

Kibun bisa melihat seseorang tengah duduk di

halte sekolah.

.

Bis yang ditumpangi Kibum mulai memelankan

lajunya sebelum akhirnya berhenti di depan

halte. Namja manis itu mengucapkan

terimakasih pada ahjussie supir, beranjak

turun dari bis dan langsung menghampiri

sahabat baiknya yang hanya duduk menunggu

di halte.

.

“Kyuuuung!” teriaknya heboh. Tanpa malu, ia

memeluk erat tubuh mungil Kyungsoo. “Aku

merindukanmu!!” ujarnya.

Kyungsoo melepaskan pelukan mereka dan

berdecih pelan. Ia akui, sebenarnya ia juga

merindukan sahabatnya itu. Sebulan kemarin,

selama liburan, mereka sama sekali tidak

bertemu. Eomma dan Appa mengajaknya

berlibur ke rumah nenek di Jeju. Dan

Kyungsoo tidak mungkin melewatkan

kesempatan berlibur ke pulau indah itu. Ia

ingin mengajak Kibum, tapi pasti 

Eomma Kibum tidak akan melepaskan ‘bayi’nya begitu saja.

.

“Kau tertawa senang seperti itu. Apa kau

sudah melihat pengumuman pembagian

kelasnya? Aku yakin kau tak akan tertawa

begitu jika melihatnya!”

.

Kibum menatap sahabatnya itu dengan tatapan bingung. Namun tatapan itu langsung berubah menjadi tatapan tak percaya -dan juga tak rela- begitu ia mengetahui apa yang

dimaksudkan oleh sahabat baiknya itu. Di

depannya, di papan pengumuman sekolah,

namanya tertera di kelas 3E dan Kyungsoo di

kelas 3A. Bukan hanya itu. Yang membuatnya

terserang heart attack adalah nama lain yang

tertulis tepat di bawahnya. Dia…

.

“Aiiissshh! Ini menyebalkan! Mengapa aku

harus satu kelas dengannya!!!”

Suara protesan cempreng dan sarat akan

nada tak terima terdengar dari arah belakang

Kibum. Mungkin sekitar tiga meter dari

tempatnya berdiri. Kibum dan Kyungsoo sama-

sama membalik tubuh mereka dan menatap

ke arah asal suara. Seorang namja  manis terlihat berjalan ke arah Kibum

bersama dengan beberapa temannya. Tatapan

mereka bertemu. Tatapan yang jauh akan

kesan ramah.

.

“Yaaaa! Kucing kampung! Kau tahu, kan? Berada

satu kelas denganmu saja sudah membuat

hariku buruk. Jadi aku harap kau tidak akan

membuat hariku semakin buruk dengan

melakukan hal-hal bodoh! Dan jangan dekat-

dekat denganku!” tembak namja manis itu

tanpa sungkan. Kedua tangannya terlipat di

depan dada dengan angkuh.

.

“Tch!” Kibum berdecih keras, membalas gestur

yang ditunjukkan oleh namja di depannya itu.

“Kau pikir aku bahagia satu kelas denganmu?

Tenang saja, dibayar sekalipun, aku tidak

pernah ada niat untuk dekat-dekat denganmu,

 Lee Taemin!” tukasnya tak mau kalah. “Kajja,

Kyungsoo-ya!”

.

“Iiisshh! Yaaaaaaaaaak!!!”  Lee Taemin menatap sebal pada Kibum yang

dengan seenaknya berlalu setelah

mengucapkan kata-kata menyebalkan itu

padanya.

.

Namun Kibum sama sekali tak

mengacuhkannya. Ia malah melenggang

dengan santai bersama Kyungsoo menuju

kelas mereka masing-masing. Ini adalah hari

pertama ia kembali ke sekolah. Dan dia tidak

mau memulai hari pertamanya dengan kesan

yang buruk.

.

“Seharusnya kau lebih bisa menjaga emosimu

saat bertemu dengan Taemin, Kii!” tegur

Kyungsoo. Kibum memutuskan untuk

menghabiskan sisa beberapa menit sebelum

bel masuk berbunyi di kelas Kyungsoo. Dari

pada harus menghadapi tatapan tak suka dari

Taemin di kelas mereka.

.

“Kau sangat mengenal bagaimana Taemin,

kan?” imbuh namja bermata bulat itu lagi.

Kibum mendesah pelan mendengar itu.

Kyungsoo benar, dia mengenal Taemin.

Sangat mengenalnya. Bagaimana pun,

Taemin adalah sahabatnya. Dulu. Saat

mereka masih kecil, sampai dua tahun yang

lalu. Ia, Taemin, dan Kyungsoo. Mereka

adalah tiga sahabat yang tak terpisahkan.

Setidaknya sampai sebuah kejadian

menghancurkan itu semua dalam sekejap.

.

“Entahlah,” Kibum mengedikkan bahunya

pelan. “Aku rasa, sekarang aku tak

mengenalnya lagi, Kyungsoo-ya!” Namja

manis itu menempelkan kepalanya di atas

meja, menghadap Kyungsoo. “Dia… berbeda.”

Kyungsoo ikut meletakkan kepalanya di atas

meja. “Keadaan yang menuntutnya untuk

bersikap seperti itu, Kii. Nanti, dia juga akan

kembali menjadi Taemin kita yang dulu!”

.

Taemi  kita yang dulu.

.

Kalimat itu terdengar indah. Jujur saja,

setelah lebih dari setahun hubungan mereka

seperti ini, Kibum masih berharap suatu hari,

‘nanti’ yang dibicarakan Kyungsoo akan

datang. Tapi kapan? Apa masih mungkin?

.

.

.

~O.O~

.

.

 

Kibum memasuki kelas 3E dengan langkah

ringan setelah berpisah dengan Kyungsoo

yang berjalan menuju kelasnya sendiri.

Seminggu sudah ia duduk di ruangan yang

sama dengan Taemin. Ternyata tak seburuk

bayangannya. Tentu saja Taemin sering

mencari gara-gara dan mengusik kehidupan

tenangnya, tapi sejauh ini Kibum masih bisa

mengatasi semua itu dengan cukup baik.

.

Kelas Kibum terlihat ramai, seperti biasa.

Beberapa siswa terlihat sedang berbincang-

bincang. Beberapa yang lain -mereka yang

duduk di bangku paling depan- tengah

membolak-balik buku pelajaran sembari

menunggu guru. Ada juga yang bermain

lempar kertas dengan temannya. Dan ada lagi

yang sedang bermesra-mesraan di pojok

ruangan.

.

“Kibum!” Minseok, teman sebangku Kibum,

memanggilnya dengan penuh semangat. Dari

wajah sumringah namja chubby itu, sepertinya

ada berita bagus yang ingin diceritakannya.

Kibum tersenyum. Berjalan menuju bangkunya.

Dari ekor matanya, ia bisa melihat Taemin

dan geng-nya tengah bergosip ria. Sesekali

tersenyum dan tertawa cekikikan entah karena

apa. Kibum mengedikkan bahunya dan

menyimpan tasnya di atas meja.

.

“Mereka kenapa? Sepertinya bahagia sekali!”

tanya Kibum, menunjuk Taemin dan teman-

temannya dengan dagunya.

Minseok memperhatikan arah dagu Kibum,

kemudian tersenyum paham. “Itulah yang mau

aku ceritakan padamu!” ujarnya dengan mata

yang berbinar-binar.

.

“Memangnya ada apa?” Kibum memasang

ancang-ancang untuk menjadi pendengar yang

baik. Karena jika Minseok sudah memasang

ekspresi seperti itu, berita yang dibawanya

pasti bukan berita biasa.

“Kau pasti tidak tahu, kan? Sekolah kita akan

kedatangan guru-guru baru!” pekiknya.

Kening Kibun berkerut. Pandangannya datar

tertuju pada Minseok yang tersenyum lebar.

That’s it? Hanya itu? Lalu dimana letak WOW-

nya?

.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan, Kibum! Tapi

itu belum semuanya.” Minseok menatapnya

sok misterius. “Para ‘guru’ yang aku maksud,

bukan mereka yang sebaya dengan Park atau

Jung Seonsaeng -nim. Mereka adalah para

mahasiswa yang tengah magang. Kau tahu

artinya, kan?”

Kibum menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Dia paham. Itu artinya, selama beberapa

minggu ke depan, mereka tidak akan

bertatapan dengan para guru yang galak dan

sok berkuasa itu melainkan dengan

mahasiswa-mahasiswa yang -mudah-

mudahan- tampan. Tapi tetap saja, Kibum

tidak menemukan apa yang begitu spesial dari

ini semua. Lagi pula…

.

“Hei, bukankah kelas tiga tidak boleh diisi oleh

guru magang?” tanya Kibum, mengingatkan

teman yang terlihat terlalu antusias.

Minseok melongo. Binar-binar di matanya

surut dan berubah suram.

“Tapi aku dengar Choi Seonsaeng-nim tidak

bisa mengajar semester ini, jadi salah satu

dari mahasiswa tampan itu akan mengajar di

kelas kita!” Kevin, tiba-tiba saja ikut nimbrung

dalam pembicaraan mereka. “Aku sempat

melihat ke ruang guru tadi saat mereka

datang. Dan believe me! Mereka tampan-

tampan. Bahkan salah satu dari mereka

terlihat begitu menonjol. Jauuuuh lebih

tampan dari yang lainnya. So perfect !!” ujarnya

menekankan. Ia terlihat menerawang dengan

kedua tangan di bawah dagu.

Binar-binar di mata Minseok kembali, dan ia

terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.

.

“Aaaah~ Aku harap mahasiswa perfect yang

dibicarakan Kevin adalah yang akan

menggantikan Choi Seonsaeng -nim.” Lay,

teman sebangku Kevin yang juga ikut

bergabung, memasang muka penuh harap.

.

Kibum tertawa pelan melihat tingkah teman-

temannya. Ia membenarkan posisi duduknya

dan mengeluarkan beberapa buku ke atas

meja. Pelajaran pertama adalah pelajaran

matematika. Pelajaran yang seharusnya diisi

oleh Choi Seonsaeng -nim. Sebenarnya, Kibum

tidak terlalu ambil pusing dengan semua hal

tentang ‘mahasiswa magang’ dan ‘si perfect ’

yang dimaksudkan oleh Kevin. Kibum hanya

berharap, siapa pun dia, semoga orang itu bisa

membantunya meningkatkan kemampuan

matematika Kib yang begitu lemah.

Sisanya, ia tak perduli. Ia tak tertarik.

.

Well , setidaknya sampai seseorang masuk ke

dalam kelas 3E dan menyebabkan keheningan

seketika. Bahkan Minseok, Lay dan Kevin yang

sebelumnya masih mengoceh di samping

Kibum, terdiam. Choi Seonsaeng -nim berdiri di

depan kelas mereka dengan wajah sangarnya.

Mengintimidasi setiap pasang mata yang

berada di dalam kelas.

Tapi bukan itu yang menarik perhatian Kibum.

Bukan itu yang membuat Kibum menelan

mentah-mentah semua pikiran cueknya

barusan. Bukan itu. Melainkan seseorang yang

berdiri di samping Choi Seonsaeng-nim yang

kemudian dikenalkan sebagai pengganti

dirinya selama beberapa minggu ke depan.

.

Lee Jinki

.

Choi Seonsaeng-nim memperkenalkan guru

baru mereka dengan nama itu. Seorang namja

tampan, terlalu tampan, yang tengah menatap

seisi kelas. Sepertinya mencoba membaca

wajah-wajah calon muridnya, atau mungkin

sedang menyihir mereka semua lewat

tatapannya yang tajam dan menawan itu?

Mungkin pertanyaan itu terdengar begitu

berlebihan. Tapi ini lah yang terjadi pada kelas

3E sekarang. Karena saat ini, jika diperhatikan

baik-baik, hampir seisi kelas tengah menatap

takjub pada namja tampan itu. Taemin

terlihat sedikit membuka mulutnya, beberapa

teman satu gengnya juga melakukan hal yang

sama. Kevin terpekik pelan dan berkali-kali

menyebutkan kata ‘namja perfect’ sambil

menunjuk-nunjuk ke depan dengan samar. Dan

reaksi Minseok dan Lay tak jauh berbeda

dengannya. Semua terpaku. Beberapa

mungkin hanya tertarik karena dia adalah guru

baru. Dan beberapa yang lain, sebahagian

besar, terpaku karena wajah tampan guru baru

mereka.

Kibum, tak terkecuali.

Wajah tampan. Rahang tegas. Hidung

mancung. Bibir tebal. Mata tajam. Tinggi badan

proporsional. Dan kulit seputuh susu itu.

Semuanya begitu sempurna!

.

Kibum mengulum senyum samar. ‘Lee Jinki

Seonsaeng -nim! Sepertinya beberapa minggu

ke depan akan sangat menarik!’ pikirnya.

Pandangan matanya tak luput dari sosok

tampan di depan sana.

Ia tidak menyadari tatapan Taemin yang

sudah beralih dari guru baru mereka padanya.

Namja manis yang pernah menjadi sahabatnya

itu menatap Kibum dengan senyum miring di

wajahnya.

.

Drrrrt drrrrt

Kibu. meraih ponsel di saku saat benda itu

bergetar. Menandakan satu pesan masuk di

sana. Untungnya, karena ini pertemuan

pertama, mereka tidak langsung membahas

pelajaran. Para siswa dengan sebelah pihak

mengadakan sesi wawancara setelah Choi

Seonsaeng -nim undur diri, dengan alasan agar

mereka lebih saling mengenal.

Sepertinya, ada yang menaruh perhatian lebih

pada guru baru kita!!

.

Kibun terbelalak kaget mendapatkan pesan

singkat itu. Ia langsung beralih pada si

pengirim pesan. Pandangan mata mereka

bertemu. Taemin tersenyum remeh karena

ia tahu kalau tebakannya benar. Ia menaikkan

satu alisnya untuk mengejek Kibum sebelum

menatap guru baru mereka.

.

“ Seonsaeng-nim!” panggilnya sembari

mengangkat tangan kanannya. Semua mata di

kelas 3E tertuju pada Taemin. Menunggu

apa yang akan dikatakan selanjutnya oleh

namja centil itu.

.

“Iya, Lee Taemin?” jawab Jinki.

Sebelumnya tadi, dia memang sempat

mengabsen para siswa dan meminta mereka

untuk memperkenalkan diri.

“Apa Seonsaeng-nim sudah memiliki seorang

kekasih?”

Seisi kelas dibuat gaduh oleh pertanyaan

Taemin. Beberapa siswa terlihat menatap

Jinki antusias. Tak terkecuali Kibum.

.

Jinki tersenyum tipis. Ia mencondongkan

badannya ke depan dan menopang tubuhnya

dengan kedua siku di atas meja guru.

“Bagaimana menurutmu?” alih-alih menjawab,

ia justru balik bertanya.

.

Taemi  tersenyum senang. Siswa lain pun

berorak heboh karenanya. Sepertinya Jinki

tengah menggoda Taemin. Namja manis

itu memasang wajah berfikir sejenak.

Membuat ekspresi wajah seimut mungkin

sebelum menjawab. “Aku rasa, seseorang

dengan wajah yang perfect seperti anda tidak

mungkin kalau belum mempunyai kekasih.”

Jinki tersenyum lagi. “Tapi pasti akan sangat

menyenangkan kalau anda memang masih

single ,” lanjutnya.

Jinki tertawa renyah mendengar pernyataan

frontal salah satu siswanya itu. Sepertinya,

beberapa minggu ke depan tidak akan

membosankan, pikirnya. Tak ada yang tahu,

bahwa sejak tadi, ekor matanya tak berhenti

melirik pada seseorang dengan rambut coklat

madu dan mata kucing di sebelah kanan sana. Seseorang yang

sejak tadi hanya terdiam tanpa berminat untuk

mengikuti kehebohan teman-temannya yang

lain.

.

.

.

~O.O~

.

.

.

“Aaaaah~ Rasanya aku ingin setiap hari

pelajaran matematika!” sebuah pernyataan

bernada keluhan bercampur dengan harapan

yang keluar dari bibir merah Lay diamini oleh

teman-temannya. Kibum tersenyum tipis.

Dalam hati juga ikut mengamini.

.

“Jinki Sunbae benar-benar sangat tampan!”

ujar Minseok. Ya, setelah hari pertama ia

mengajar di kelas 3E, Jinki memang

meminta para siswa untuk tidak

memanggilnya dengan sebutan ‘ Seonsaeng-

nim’. Karena usianya dan para siswa hanya

terpaut beberapa tahun saja, rasanya

panggilan ‘s unbae ’ lebih pantas. Anak-anak

juga tidak ada yang keberatan. Dengan begitu,

mereka bisa menjadi lebih dekat dan akrab.

.

Kibum memain-mainkan sedotan Bubble Tea-

nya. Biasanya, ia akan duduk nyaman di

taman belakang kampus dengan bekal yang

dibawa oleh Kyungsoo. Tapi hari ini, lagi-lagi

sahabat baiknya itu tidak bisa menemaninya.

Namja manis itu terkena sedikit musibah yang

mengharuskannya untuk beristirahat di rumah

selama beberapa hari. Jadi sekarang, Kibum

lebih sering menghabiskan waktu istirahat

siangnya di kantin bersama dengan teman-

teman kelasnya.

“Aku yakin sekali, seandainya saja Jinki

Sunbae mengajar di sekolah khusus putri, dia

pasti tidak akan bisa bernafas karena terus-

terusan ditempeli oleh para makhluk yang

suka memakai rok mini itu!” Kevin bergidik

ngeri. “Aku juga yakin, kalau Jinki Sunbae

juga pasti memiliki banyak penggemar yang

mengikutinya di kampus!” imbuhnya.

Minseok mengangguk setuju. “Dan dengan

wajah sempurna itu, aku tidak percaya jika Mr.

Perfect itu belum memiliki kekasih!”

.

Kibum ikut bergidik ngeri dalam hati.

Membayangkannya saja, ia sudah merasa

tidak rela. Ada yang meremas hatinya hanya

dengan membayangkan apa yang baru saja

diucapkan oleh Kevin. Jinki yang dikelilingi

oleh banyak wanita cantik nan centil.

Uuurrgghhh! Itu pasti pemandangan yang

sangat tidak menyenangkan. Dia tidak

menyukai itu.

.

“Tidak juga! Aku rasa, tidak semua manusia

tampan harus sudah memiliki kekasih, kan?”

sangkal Kevin. Kibum mengangguk setuju.

“Apalagi, sepertinya Jinki Sunbae menyukai

Taemin!” lanjut namja blasteran Amerika

itu, membuat Kibum membelalakkan matanya.

“Kau benar!” timpal Lay. “Jinki Sunbae sering

memperhatikan Taemin. Dia suka

menanggapi celoteh yang berisi godaan

Taemin saat di kelas. Dan aku rasa, dia juga

terlalu baik pada namja centil itu.

Perhatiannya pada Taemin agak sedikit

berbeda, menurutku!”

Hhhhhh. Ketiga namja itu menghela nafas

mereka bersamaan. Sepertinya memang tidak

ada harapan untuk bisa mendekati guru

tampan itu. Karena kalau harus bersaing

dengan Taemin, sepertinya akan susah.

.

“Kenapa kalian begitu yakin? Aku tidak

melihat ada hal seperti ‘itu’ antara mereka

berdua.” Tiba-tiba Kibu. yang sedari tadi

hanya diam, ikut berkomentar. Keningnya

mengernyit tak suka. Dan dari nada bicaranya,

namja cantik itu terdengar begitu tak terima

dengan apa yang baru saja diucapkan ketiga

temannya itu.

.

Kevin mengerutkan hidungnya. “Mengapa kau

bereaksi seperti itu, Kibum? Aku kan hanya

berkata ‘sepertinya’! Lagi pula, semua orang

membicarakannya kok. Mereka bilang, Mr.

Perfect itu menaruh perhatian khusus pada

Taemin.” cibir Kevin. Namun sejurus

kemudian, ia memberikan sebuah seringaian

manis pada Kibum dan menatap teman

cantiknya itu penuh selidik. “Apa… kau

menyukai Jinki Sunbae ?” tembaknya.

.

Refleks, Lay dan Minseok juga ikut

memfokuskan perhatian mereka pada Kibum.

Seperti seekor kucing yang sedang terperangkap

di tengah-tengah tiga kawanan singa, Kibum

terkesiap. Mata ‘rusa’nya membola semakin

lebar. Pipinya merona merah parah. Mulutnya

terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu,

pengelakan mungkin, tapi kembali tertutup.

Namja manis itu memalingkan wajahnya.

Menatap ke sembarang arah selain ketiga

pasang mata temannya.

“M-mwoya!” Kibum terbata. “T-tentu saja

tidak! Aku sudah menyukai orang lain!”

sangkalnya. Menolak untuk mengakui

kenyataan yang sudah nyata terlihat.

Ketiga teman sekelasnya itu menatapnya

semakin penasaran. “Benarkah? Seperti apa

orang yang kau suka, Kibum?” tanya Lay.

.

“Errrrm,” Kibum berfikir keras. Tapi ia tidak

mungkin menyebutkan ciri-ciri orang yang

disukainya. “A-aku akan kembali ke kelas dulu.

Aku ingat kalau aku belum mengerjakan tugas

bahasa inggris!” Dengan sigap, Kibum berdiri

dan segera beranjak dari sana. Tak ada

pilihan lain, dia harus segera melepaskan diri

dari tiga tatapan yang -saat itu terlihat begitu-

menyeramkan baginya. Meninggalkan ketiga

temannya yang langsung tertawa jahil melepas

kepergiannya.

.

“Aigooooo! Apa mungkin sejarah akan

terulang lagi?” komentar Minseok.

Kevin mengangguk-anggukkan kepala.

“Sepertinya begitu!” timpalnya. “Dan entah

mengapa aku merasa kalau kali ini pun, Kibum

lah yang akan menang.”

Minseok dan Lay menatap bingung pada

teman mereka itu. “Mengapa begitu?

Bukankah kau sendiri yang mengatakan kalau

Jinki Sunbae menyukai Taemin?” tanya

Lay.

Kevin mengangguk lagi. “Aku memang berkata

begitu tadi, untuk menggoda Kibum!”

jawabnya enteng. “Kalian mungkin tidak

melihatnya karena terlalu sibuk mengagumi

ketampanan Mr. Perfect itu. Tapi aku melihat

semuanya!” Namja manis itu tersenyum dan

memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan

kedua temannya, kemudian mengucapkan

sebuah kalimat dengan suara yang pelan.

Seolah tidak ingin ada yang mendengarnya.

“Jinki Sunbae itu, sering tersenyum sambil

memperhatikan Kibum dengan ekor matanya!”

.

.

.

.

Kibum berjalan malas menyusuri koridor

sekolah. Moodnya buruk. Kata-kata Kevin,

Minseok, dan Lay masih terngiang di

telinganya. Jinki menyukai Taemin? Tch!

Yang benar saja! Ia terus menggerutu di dalam

hati. Namja yang dikaruniai wajah cantik itu

terlalu sibuk bermain-main di dalam

pikirannya, sampai-sampai dia tidak

menyadari bahaya yang mendekat.

.

“Oi! Kucing kampung!” sapa Taemin tanpa

berusaha untuk terlihat ramah. Kibum berhenti

berjalan. Menatap malas pada Taemin yang

kini berdiri tepat di depannya.

.

“Apa kucing kampung ini sedang memikirkan

seseorang? Kenapa berjalan dengan kening

berkerut seperti itu?” ejeknya. “Aaaaah~

Ataaaau, kucing kampung sedang memikirkan Mr.

Perfect yang sangat sulit dijangkau? Yaaaah,

mau bagaimana lagi. Hubungan guru dan

murid itu kan dilarang!” ujarnya dengan nada

prihatin. Tapi Kibu. sangat tahu, kalau nada

itu jauh dari kata prihatin.

.

Kibum menghela nafasnya dalam-dalam dan

mencoba untuk tersenyum sebisa mungkin.

“Aku tidak ada urusan denganmu, Tae.

Kenapa kau terus menggangguku? Bukankah

kau sendiri yang berkata kalau sebaiknya kita

tidak perlu dekat-dekat?” tukasnya. Tanpa

menunggu respon dari mantan sahabatnya itu,

ia bergerak untuk kembali melanjutkan

jalannya.

Grepp

Namun Taemin dengan sigap menahan

pergelangan tangan Kibum. “Tapi aku ada

urusan denganmu, Kibum!” ujarnya santai.

“Kau mungkin lupa dengan apa yang terjadi,

tapi aku sama sekali tidak! Dan aku akan

membuatmu membayar semuanya!”

.

Kibum melepaskan diri dari genggaman

Taemin. “Demi Tuhan,  Lee Taemin! Itu

adalah masa lalu. Mengapa kau masih terus

mengingatnya? Kau tahu kalau aku sama

sekali tidak bermaksud melakukan itu, kan?”

Taemi  berdecih cukup keras dan

membuang mukanya, kemudian kembali

menatap Kibum. “Tapi kau melakukannya,

Kibum. That’s the point ! Dan aku akan

membuatmu merasakan hal yang sama!”

ujarnya.

Terpaku di tempatnya, Kibum hanya bisa

menatap punggung Taemin dengan tatapan

sedih. Yang terjadi di masa lalu, Kibum benar-

benar tidak tahu akan berakhir seperti itu. Dia

bukanlah seorang peramal, jadi bagaimana dia

bisa tahu kalau Jonghyu. yang begitu disukai dan

disanjung-sanjung oleh sahabat terdekatnya

itu justru menyukainya? Bagaimana ia bisa

tahu kalau namja dino itu akan

menembaknya di depan seluruh siswa? Dan

bagaimana dia bisa tahu kalau penolakannya

akan memberi dampak besar pada Jonghyun yang

langsung pindah dari sekolah mereka sehari

setelah ia menolaknya?

.

Kibum mendesah pelan mengingat kejadian

tak menyenangkan itu. Taemin adalah

sahabat dekatnya, dan seharusnya dia tahu

kalau Kibum sama sekali tidak tahu apa-apa

tentang perasaan Jonghyun padanya. Taemin

selalu berkata kalau ia sangat menyukai Jonghyun,

jadi mana mungkin Kibum berani menyukai

namja tampan itu. Tapi sepertinya cinta

membuat Taemin lupa segalanya dan malah

merasa kalau Kibum telah mengkhianatinya.

.

Pukk

.

“Awww!” Kibum merintih pelan merasakan

sesuatu yang dipukulkan ke kepalanya. Ia

mendongak, bersiap untuk memarahi si

pelaku, namun malah berakhir dengan

kediaman dan mulut yang sedikit terbuka.

“Kalau kau terus berjalan seperti itu, bukan

hanya buku ini yang akan mengenai kepalamu,

Kibum! Tapi juga pintu itu!” Jinki tersenyum

sembari menunjuk pintu kelas yang hanya

berjarak beberapa senti saja dari kepalanya.

“Se… Sunbae -nim!” ujar Kibum sedikit kaku. Ini

pertama kalinya mereka bertegur sapa

semenjak Jinki mengajar di sini. Pipinya

menghangat. Antara malu karena ketahuan

melamun saat berjalan, dan juga berbunga-

bunga karena Jinki menyapanya. Dan jantung

Kibu. terus memompa dengan cepat, lebih

cepat, dan semakin cepat.

Keduanya berdiri dalam diam untuk beberapa

saat. Kibum dengan kepala yang menunduk

malu. Dan Jinki dengan tatapan yang tak

pernah lepas dari wajah manis muridnya itu.

Tanpa aba-aba, tangan kanan Jinki terangkat

dengan sendirinya. Tergoda untuk mengusap

lembut pipi Kibum yang tengah merona merah.

Namun beberapa siswa datang dan

menyapanya. Membuat tangan itu justru

berbelok arah dan menyentil pelan dahi mulus

Kibum.

.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan,

Kibu.! Tapi aku harap, itu ada hubungannya

dengan ulangan yang akan aku berikan di akhir

pelajaran nanti!”

Namja mungil itu terkesiap. Ia mendongak

dengan cepat. Menatap namja yang lebih

tinggi darinya itu dengan tatapan ‘benarkah?’.

Dan Jinki hanya tersenyum sembari

mengedikkan bahunya sebagai balasan,

sebelum kemudian meninggalkan Kibum yang

masih dalam keadaan shock di sana.

‘Ya Tuhan! Bagaimana ini? Aku sama sekali

tidak ingat dengan ulangan hari ini, dan aku

belum belajar!!!’

.

.

.

~O.O~

.

.

.

Kibm duduk gelisah di bangkunya. Ia

menggigit kuku jemarinya dengan pandangan

yang jatuh di pangkuannya. Sesekali, namja

cantik itu mengalihkan pandangannya pada

Jinki yang tengah membagikan kertas hasil

ulangan dua hari yang lalu dengan ekor mata

dan kembali menatap ke bawah. Namja manis

itu merasa tak tenang. Apalagi saat melihat

wajah teman-temannya yang terlihat senang.

Minseok bahkan dengan bangga memamerkan

nilai 80 yang ia dapatkan padanya. Dan Kevin

juga tersenyum lebar dengan angka 85 yang

tertulis cantik di kertas ulangannya.

“Kibum!”

Glekk

Suara tegas milik guru matematika di kelas 3E

itu membuat Kibum menelan ludahnya pahit. Ia

menggigit bibir bawahnya karena gugup saat

berjalan ke depan untuk mengambil hasil

ulangan miliknya. Sebenarnya dia tidak terlalu

ambil pusing jika nilai matematikanya hancur.

Toh selama ini juga seperti itu. Bagaimana

pun ia mencoba, pelajaran dengan angka dan

rumus di mana-mana itu sepertinya memang

tak cocok dengan Kibum. Tapi kali ini, ada

perasaan tidak menyenangkan yang

melingkupi perasaan Kibum saat melihat

tatapan yang diberikan Jinki padanya.

Tidak, tidak! Jinki tidak memberikan tatapan

marah pada Kibum. Namja yang dijuluki Mr.

Perfect oleh para siswa itu menatapnya

dengan tatapan… kecewa? Apa Jinki kecewa

padanya?

Kibum kembali meneguk ludahnya saat

menerima kertas dari tangan Jinki. Dia ingin

menarik kertas itu dan segera kembali ke

bangku. Tapi Jinki menahan ujung kertas.

Memaksa Kibum untuk menatap gurunya itu

dengan penuh tanya.

“Aku tidak tahu apa saja yang kau lakukan

selama beberapa minggu ini di kelasku, Kibum.

Tapi ini, aku benar-benar kecewa padamu!”

Jinki mengucapkan kalimat itu dengan suara

yang begitu pelan, seolah tidak ingin siswa

yang lain mendengarnya. Tapi di telinga

Kibum, suara Jinki terdengar begitu jelas.

Begitu tegas, dan sarat akan kekecewaan.

Dan itu membuat perasaannya kacau. Dada

Kibum menyempit. Rasanya, ia seperti ingin

menangis saja.

.

Saat Kibum berjalan kembali ke bangkunya, ia

berpapasan dengan Taemin yang

menatapnya dengan sebuah senyum

mengejek. Tapi dia tidak membalasnya.

Terlalu sedih dengan kalimat sang guru muda

tadi. Teman sebangkunya, Minseok, menatap

Kibum prihatin. Seolah ia tahu bagaimana hasil

ujiannya. Kibum tersenyum tipis, mengatakan

kalau dia baik-baik saja dan kembali duduk.

.

“Seperti biasa, Lee Taemin! Nilai

sempurna!”

.

Mata indah Kibum, tanpa ada yang memberi

perintah, tertuju pada Jinki yang tengah

tersenyum bangga pada Taemin. Dia tidak

suka dengan pemandangan di depan kelas.

Benar-benar tidak suka. Hatinya terasa sakit.

Dan sepertinya, air matanya mendesak untuk

keluar kalau saja ia tidak untuk menahannya.

Tapi Kibum bukanlah seorang namja yang

cengeng. Jadi, dia tidak akan menangis.

Apalagi hanya karena masalah seperti ini.

Usai mengembalikan semua hasil ulangan

para siswa, Jinki tidak melanjutkan pelajaran

mereka. Namja tampan itu malah

mengadakan sesi tanya jawab untuk

mengevaluasi apa saja yang telah mereka

pelajari selama beberapa minggu terakhir.

Jinki juga mengumumkan kalau minggu

depan, dia akan mengadakan quiz sebagai

evaluasi akhir selama ia mengajar.

.

Hhhhh. Kibum menopang dagunya di atas

meja. Memperhatikan Jinki yang sedang

tersenyum di depan dan bercanda dengan

para siswa, ia jadi sedikit lupa dengan

kesedihannya barusan. Diam-diam, ia

mengambil ponsel di sakunya dan mulai

mengambil beberapa gambar guru tampan itu.

Dia sendiri ikut tersenyum melihat hasil

jepretan -nya. Dan lagi, ia sama sekali tak

sadar tatapan Taemin yang sedari tadi

memperhatikannya.

.

“ Sunbae -nim, boleh aku bertanya sesuatu?”

Mau tak mau, suara itu menarik Kibum dari

dunia dan aktifitas ‘diam-diam’nya. 

Lee Taemin memang selalu berhasil melakukan

hal itu. Membuat Kibum penasaran akan apa

yang akan ia lakukan dan beralih menatapnya.

Apalagi, jika mengingat ucapan namja manis

itu tempo hari. Dia, tidak mungkin

menanyakan hal-hal yang aneh, kan? Karena

jika itu Taemin, percayalah apapun

bisa terjadi.

.

Lihat saja, Taemin bahkan berhasil

membuat seisi kelas yang tadinya gaduh dan

asik bercanda jadi senyap menatapnya.

Menunggu dengan antusias entah apa yang

akan ditanyakan olehnya.

.

“Tempo hari, saat aku mengajukan pertanyaan

tentang ‘kekasih’, Sunbae tidak memberikan

jawaban yang jelas dan hanya tersenyum, jadi

kali ini Sunbae harus menjawabnya dengan

jujur!” Taemin memulai pertanyaannya.

Jinki melipat tangannya di depan dada, dan

Kibum menatap mantan sahabatnya khawatir.

“Kau, menyukai seseorang yang bagaimana,

Sunbae ? Kau tahu maksudku, kan? Tipe

idealmu, orang yang seperti apa?”

Setelah kalimat pertanyaan itu terlontar dari

bibir manis Taemin, seluruh perhatian tertuju

pada orang yang ditanyai, guru mereka yang

sangat tampan. Jinki tersenyum, ia terlihat

sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya

mendengar pertanyaan Taemin. Masih

dengan senyum di wajahnya, ia berjalan

mengitari meja guru kemudian berdiri di

depannya dengan sedikit bersandar.

.

“Aku,” Jinki kembali menyilangkan tangan di

dadanya. “Aku menyukai seseorang dengan

mata yang indah dan senyum yang menawan!”

Kibum tersenyum diam-diam di bangkunya.

Jinki mengangkat satu tangan dan mengusa-

usap dagunya. Seolah sedang berfikir keras

untuk apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.

“Aku rasa, sedikit manja tidak masalah. Aku

suka jika bisa memanjakannya,” lanjut Jinki

lagi.

Dan senyum Kibum semakin mengembang.

“Dan tentu saja,” Kali ini, Jinki sedikit

mendudukkan pantatnya di atas meja, agar

lebih nyaman. Ia melemparkan pandangannya

pada satu per satu murid kelas 3E, sebelum

kemudian berhenti pada Kibum yang juga

menatapnya. “Aku akan lebih menyukainya jika

ia pintar!”

Mendengar itu, senyum manis yang sempat

mampir di wajah cantik Kibum lenyap seketika.

Tergantikan oleh kerutan di kening dan sebuah

pout imut di bibirnya. Untung saja, siswa lain

sibuk bersorak sambil menggoda Taemin

begitu mendengar kata ‘pintar’ dari bibir

Jinki, jadi tidak ada yang melihat perubahan

ekspresi pada raut wajah Kibum..

Tidak satu pun, kecuali si penyebab itu sendiri.

Lee Jinki. Yang tengah menatapnya penuh

arti.

.

Detik selanjutnya, bel tanda pelajaran usai

berbunyi dengan begitu nyaring. Jinki

mengucapkan salam dan sekali lagi

mengingatkan para siswa mengenai kuis yang

akan datang sebelum keluar meninggalkan

kelas. Para siswa mulai menggerutu begitu

guru tampan itu tak lagi terlihat. Beberapa ada

yang menghampiri dan mulai menggoda

Taemin yang sepertinya memang ‘sedikit’

mendapat perhatian lebih dari guru idaman

mereka.

.

Kibum bersikap tak acuh. Ia membereskan

semua peralatan sekolahnya dengan cepat,

ingin segera berlalu dari kelas yang tiba-tiba

terasa tak begitu menyenangkan dan bergelut

dengan kasur di rumah. Namun tentu saja,

Taemin yang baik hati tidak akan

mengijinkannya. Dengan langkah sombong, ia

bergerak meninggalkan teman-temannya, yang

masih bergosip sambil merapikan barang-

barang mereka, dan menghampiri Kibum.

.

“Sekarang apa?” tanya Kibum malas.

.

Taemin tertawa pelan, terlihat sekali kalau

dia merasa begitu senang melihat wajah jutek

Kibum. “Kau dengar kan, Kibum? Jinki

Sunbae menyukai seseorang yang pintar!

Sepertinya akan sedikit sulit untukmu!” ujarnya

mengejek.

Kibum berdecak sebal. “Kalau kau tidak

menangkap ucapannya dengan baik, aku akan

mengulanginya untukmu, Tae. Jinki Sunbae

tidak mengutamakan kepintaran. Itu hanya

poin plus saja!!” tukasnya tak mau kalah. Dan

tanpa menunggu respon dari Taemin, ia

berjalan tergesa meninggalkan kelasnya.

Dengan perasaan dongkol. Hilang sudah rasa

sedih dan bersalah yang sempat ia rasakan

karena telah mengecewakan Jinki. Sekarang,

yang ia rasakan hanyalah kekeksalan.

.

‘Aiiisshh! Mengapa juga dia harus

mengucapkan kalimat seperti itu!!’ batin Kibum kesal.

.

.

.

.

tbc

REMAKE / JINKIBUM / EXPRESSSION / ONESHOOT

​Lee Jinki

Kim Kibum

Kibum merengut. Ia duduk sambil menopang dagu dengan bibir yang mengerucut dua senti. Membuatnya terlihat imut dan menggemaskan. Namun, sayang aegyo-nya itu tidak berhasil pada kedua sahabatnya, Jonghyun dan Taemin. Kedua orang itu hanya memandangnya malas. 
“Ya, Kibum. Kau kan’ sudah memilih ‘dare’. Jadi, kau harus melaksanakannya! Jangan seenaknya membatalkan begitu!” ketus Jonghyun. Taemin yang duduk di sampingnya ikut mengangguk-angguk membenarkan. 
“Oh, ayolah. Apapun selain itu. Aku tidak bisa!” ucap Kibum lagi, untuk kesekian kalinya. 
“Kau belum mencobanya, Kii. Coba saja dulu. Kalau kau gagal, berarti kau harus rela jadi pembantu kami selama sebulan.” Kata Taemin. 
“Aish… shireo!!! Aku tidak mau jadi pembantu kalian!” Kibum menghela nafas. “Baiklah. Aku akan mencobanya.” 
Kibum menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya lalu tertuju pada siswa yang duduk di bangku paling belakang ujung kanan. Siswa berambut hitam dengan rahang tegas, hidung mancung, dan kulit putih susu. Kedua matanya terbingkai kacamata baca berwarna hitam menatap buku di tangannya dengan bibir tebal yang terkatup rapat. Dia adalah Lee Jinki, si ketua kelas yang sudah terkenal seantero sekolah sebagai namja poker face karena ekspresinya yang selalu datar. Entah senang, marah, atau sedih, ekspresinya tetap sama sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menebak apa yang sedang ia pikirkan. 
Kibum berjalan pelan mendekati namja itu. Memang ia tak begitu akrab dengan si ketua kelas karena kepribadian mereka yang sangat bertolakbelakang. Yang ia tahu, teman Jinki yang paling akrab hanyalah Minho. Bahkan dengan Minho pun, Jinki tetap namja poker face. Kibum tidak pernah melihat Jinki tersenyum pada Minho, apalagi sampai tertawa. Lalu, bagaimana Kibum, yang hanya sekadar teman sekelas itu bisa membuat Jinki tertawa? Ugh, Kibum menyesal telah ikut dalam permainan ‘truth or dare’ dengan Taemin dan Jonghyun. Mereka pasti sedang bergembira saat ini karena yakin bahwa Kibum akan gagal menjalankan tantangan-nya. 
Jinki mendongak saat menyadari ada seorang siswa yang menghampirinya. Siswa itu memiliki rambut berwarna cokelat karamel, mata kucing dengan bulu mata yang lentik, hidung kecil, dan bibir plum merah muda yang menampakkan seulas senyuman. Jinki hanya terdiam tanpa ekspresi. Agak terkejut juga mengetahui kalau orang itu adalah Kibum, teman sekelasnya. 
“Hai!” sapa Kibum sok akrab. Jinki hanya diam tak membalas, membuat nyali Kibum mendadak ciut dengan sikap tak bersahabat ketua kelasnya itu. Tapi Kibum tidak mau menyerah sekarang. Ia pun mengambil tempat duduk di depan Jinki dan menatap namja itu dengan wajah ceria. 
“Hmm.. Jinki. Aku punya cerita. Ini tentang gajah dan semut. Suatu hari seekor semut mendatangi seekor gajah. Kemudian sang semut membisiki sesuatu ke telinga sang gajah. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sang semut, sang gajah tiba-tiba pingsan! Kau tahu kenapa gajah itu pingsan?” tanya Kibum. Matanya berbinar cerah menunggu sampai Jinki menjawab pertanyaannya. 
“Tidak.” Jawab Jinki dengan ekspresi yang sama, datar. 
Kibum tersenyum, “Ternyata semut tadi bilang, ‘Aku hamil, dan kau adalah bapaknya’ HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA….” Kibum tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa begitu keras. Semua siswa yang sempat mendengar lelucon yang diceritakan Kibum pun tertawa, termasuk Jonghyun dan Taemin. Namun, orang yang diceritakan di depannya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, membuat Kibum menghentikan tawanya. 
“Ya. Kenapa kau tidak tertawa? Itu adalah lelucon paling lucu, tahu?” tanya Kibum sambil menyeka liquid bening di sudut matanya. 
“Itu sama sekali tidak lucu.” Cuek Jinki lalu kembali membaca bukunya. 
Kibum mendengus kesal, “Aish… kau memang tidak asyik. Apa salahnya sih tertawa? Kalaupun itu tidak lucu, paling tidak kau bisa berpura-pura tertawa sebagai tanda simpati karena aku sudah berbaik hati menceritakan lelucon padamu. Ah, sudahlah. Aku tahu akan begini akhirnya.” 
Kibum meninggalkan meja Jinki kembali ke mejanya. Di sana sudah ada Jonghyun dan Taemin yang tersenyum penuh kemenangan. Kibum menempatkan bokongnya dan duduk dengan malas. Kepalanya terkantuk di meja dengan pipi kanan yang menempel. 
“Ingat untuk membelikan kami cup cake sepulang sekolah, Kii.” Ujar Taemin yang hanya dibalas gumaman oleh Kibum. 
Tanpa Kibum ketahui, sebenarnya kedua sudut bibir Jinki sedikit terangkat dan menampilkan seulas senyuman yang tak disadari siapapun. 
‘Menarik’ 
*** 
Dua minggu berlalu, dan hari demi hari dilalui Kibum dalam kesengsaraan. Jonghyun dan Taemin yang kini berstatus sebagai majikannya itu selalu saja menyuruh Kibum ini-itu. Pertama, mengerjakan PR mereka, walaupun Kibum sebenarnya tidak tergolong jenius untuk hal itu. Kedua, menemani kemanapun mereka mau, baik ke toilet, ruang guru, bahkan ke acara kencan bersama kekasih mereka yang berakhir Kibum menjadi obat nyamuk di sana. Ketiga, sebagai atm berjalan yang selalu membelikan apapun pesanan mereka, baik eyeliner untuk Taemin maupun kue-kue manis untuk Jonghyun yang menyebabkan uang jajannya habis hanya untuk hal itu. Padahal dimana-mana pembantu yang seharusnya dibayar, bukan? Aish, ini penjajahan namanya. Penjajahan akan kemerdekaan seorang Kim Kibum. 
“Ya! Aku sudah tidak tahan lagi. Ini penjajahan! Kalian memanfaatkanku.” Ketus Kibum sambil meletakkan pesanan Jonghyun dan Taemin di meja. Kedua orang itu hanya menghela nafas bosan mendengar kalimat yang sering dilontarkan Kibum tiga hari terakhir itu. 
“Itu hukumanmu, Kii. Kau gagal menjalankan tantangan dari kami, ingat?” Taemin mengeluarkan eyeliner dari saku almamaternya dan memakainya dengan hati-hati tanpa melihat cermin, benar-benar terampil. 
“Ya… Tapi…” Kibum menunduk sedih mengingat tugasnya hanya akan berakhir dua minggu lagi. Dua minggu! Bayangkan betapa lamanya itu. 
“Sebenarnya kami sudah membicarakannya, Kii. Bagaimana jika kau menjalankan satu tantangan terakhir dari kami? Kalau kau berhasil, masa hukumanmu akan berakhir.” Ujar Taemin di sela-sela memakan cup cake-nya. Kibum yang mendengar hal itu, matanya seketika berbinar penuh harap. 
“Oke-oke! Aku setuju!” ucapnya semangat. Taemin pun menutup eyelinernya lalu menatap Kibum serius. “Baiklah. Tantangannya adalah kau harus bisa membuat ketua kelas kita terkejut. Sebenarnya kami penasaran dengan ekspresi terkejutnya. Itu lebih mudah daripada membuatnya tertawa atau menangis, kan?” 
“Astaga, itu sama sulitnya tahu. Yang lain saja, please. Apapun yang tidak berhubungan dengan namja poker face itu!” mohon Kibum. 
“Kau sudah menyanggupinya, Kii. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Hukumanmu akan berakhir dua minggu lagi.” Ujar Taemin. Kibum menghela nafas panjang. “Baiklah.” Ujarnya. 
Bel tanda jam istirahat berakhir berbunyi. Kibum menata bekal makanannya yang sudah habis lalu meminum air putih dari botol. Siswa-siswa teman sekelasnya mulai memasuki kelas dan duduk di tempat masing-masing. Ketua kelasnya, Lee Jinki, menjadi siswa yang masuk paling akhir dan berdiri di depan kelas dengan wajah serius seperti biasa. Suasana kelas pun mendadak sunyi karena fokus mereka tertuju pada sang ketua kelas yang tampaknya akan memberikan pengumuman penting. 
“Jung songsaenim tidak masuk hari ini. Sebagai gantinya, kita diperintahkan mengerjakan tugas halaman 136 di buku paket dan kumpul di jam terakhir.” beritahu Jinki. Matanya melihat ke seluruh penjuru kelas. Memperhatikan teman-teman sekelasnya yang tampak memahami informasi tersebut. 
“Ne.” Jawab mereka serempak. 
“Kalau kalian ada pertanyaan, kalian bisa menanyakannya padaku.” Ucap Jinki lagi. 
Taemin segera mencolek bahu Kibum yang duduk tepat di depannya. Kibum menoleh sebentar dan mendapati bahasa isyarat Taemin yang mengatakan ‘Ini saatnya. Cepat buat Jinki terkejut.’ 
Kibum kembali menatap lurus ke depan dimana sang ketua kelas masih menunggu siswa yang ingin bertanya perihal tugas yang diberikan. Otak Kibum masih berputar keras memikirkan pertanyaan apa kiranya yang bisa membuat namja itu terkejut. Sebuah pertanyaan mendadak dan tak pernah disangka olehnya. Sebuah pertanyaan mengejutkan pastinya. Baiklah. Kibum sudah menemukannya. Dengan gerakan slow motion Kibum pun mengangkat tangannya. 
Jinki mengalihkan pandangannya pada siswa yang duduk paling depan itu. “Ya, Kibum.” 
Tatapan seluruh siswa kelasnya itu kini sedang tertuju pada Kibum. Memang sebuah pemandangan yang baru saat seorang Kim Kibum bertanya di kelas, apalagi pada Lee Jinki. Sehingga fokus mereka sepenuhnya tertuju pada siswa manis itu. 
Kibum berdehem sebentar, “Aku menyukaimu. Maukah kau jadi pacarku?” 
Dua kalimat itu sukses membuat seluruh siswa di dalam kelas itu terkejut bukan main. Bahkan mata sipit Taemin sudah melebar maksimal ditambah mata bulat Jonghyun yang semakin bulat seakan tak percaya akan apa yang baru saja mereka dengar. Fokus mereka pun segera berpindah pada sang ketua kelas menanti jawaban dan ekpresi seperti apa yang akan ditunjukan oleh namja itu. 
Ternyata ekspresi sang ketua kelas lebih mengejutkan lagi. Untuk pertama kalinya dalam satu semester, mereka melihat sang ketua kelas tertawa. Tertawa, catat. Jinki tertawa menampilkan deretan giginya yang rapi dan mata yang menyipit membentuk bulan sabit. Sebuah ekspresi yang baru pertama kali mereka lihat. 
“Hahahaha…” Jinki memegang perutnya yang mulai sakit karena tertawa. Bahkan, air matanya keluar dan menggenang di sudut matanya. Semua siswa terpaku tak percaya. Apalagi Kibum. Seingatnya, ia tidak sedang menceritakan lelucon pada sang ketua kelas. 
Jinki dapat mengendalikan dirinya lagi saat melihat wajah Kibum berubah merah padam. Aura tak menyenangkan dapat terlihat dari tatapan tajamnya. Kibum segera berdiri sambil memukul mejanya keras sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring. Suasana berubah tegang dalam sekejap. 
“Selera humormu buruk sekali, Lee Jinki.” Kibum memilih pergi meninggalkan kelas beserta seluruh penghuninya dalam perasaan bingung dan tak mengerti. Mereka pun menatap sang ketua kelas yang tampak shock dengan reaksi dari salah satu teman sekelasnya itu. 
“Kalian kerjakan tugas yang diberikan. Aku akan memanggil Kibum kembali.” Jinki beranjak keluar kelas. Taemin dan Jonghyun saling pandang sejenak dan menyadari bahwa mereka sempat melihat ekspresi khawatir yang ditunjukkan oleh sang ketua kelas. Taemin dan Jonghyum harus mencatat hari bersejarah ini dalam jurnal mereka. Hari dimana mereka bisa melihat ekspresi tawa, terkejut, dan khawatir dari seorang Lee Jinki. 
Kibum menuju rooftop gedung sekolah dan berdiri di sana sambil menghembuskan nafas panjang. Ia melihat pemandangan kota dari atas lalu kembali menghirup nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Hal itu ia lakukan untuk sekadar meredakan amarah yang meledak-ledak dalam dadanya. Ia marah pada Jinki. Marah karena Jinki tertawa di saat yang tidak tepat. Padahal seharusnya Jinki tertawa dua minggu yang lalu, saat Kibum menceritakan lelucon padanya. Bukan di saat Kibu. menginginkan ekspresi terkejut darinya. Namun, hal yang tidak ia terima adalah Jinki tertawa saat Kibum menyatakan perasaannya. 
Memang Kibum tidak serius mengatakannya. Tentu tidak. Kibum hanya menanyakan sebuah pertanyaan yang kiranya dapat membuat Jinki terkejut. Tapi reaksi Jinki terhadap pertanyaan itu membuat Kibum tersinggung. Bayangkan jika Kibum serius mengatakan hal itu. Mau ditaruh dimana wajah cantik-ralat-tampannya sekarang? 
“Maaf.” Tahu-tahu sang ketua kelas yang menjadi penyebab kemarahannya sudah berdiri tepat di sebelahnya. Kibum melirik sekilas namja itu dan kembali mengalihkan pandangannya pada bangunan pencakar langit di depannya seakan-akan hal itu lebih menarik dari wajah namja yang sedang menunjukkan perasaan menyesal itu. 
“Kau marah?” tanya Jinki. 
Kibum melirik sinis, “Tentu tidak. Untuk apa aku marah?” jawab Kibum dengan nada lebih tinggi dari biasanya. Dia tidak marah, ingat? Hanya sedikit emosi, mungkin. Jinki menatapnya dalam diam. Kedua sudut bibirnya terangkat melihat ekspresi Kibun -yang katanya tidak marah itu- sedang mengerucutkan bibirnya dengan melipat tangan di depan dada. 
“Baiklah, aku minta maaf, Kibum. Aku tahu aku sudah berlebihan tadi. Aku hanya terkejut, itu saja.” kata Jinki. 
Kibum melihatnya, “Terkejut? Hah! Seharusnya yang terkejut itu aku. Siapa yang menyangka ternyata namja yang terkenal poker face sepertimu bisa tertawa juga. Harusnya kau tertawa dua minggu yang lalu saat aku menceritakan lelucon padamu.” 
“Untuk apa aku tertawa karena lelucon burukmu itu? Itu memang tidak lucu, Kibum.” 
“Lalu apa yang lucu dari pertanyaanku tadi? Itu sama sekali tidak lucu, tahu!” Kibum masih memasang wajah emosinya. Menatap Jinki tajam dengan mata yang seakan-akan memancarkan api itu. 
“Jadi, kau serius mengatakannya?” tanya Jinki dengan tatapan tajam dan ekspresi datar andalannya. Kibum yang tersadar langsung gelagapan menanggapinya. 
“Ten.. tentu saja tidak! Siapa juga yang menyukai namja poker face sepertimu! Aku hanya menjalankan tantangan dari Taemin untuk membuatmu terkejut. Itu saja.” 
“Benarkah? Lalu kenapa kau marah?” 
Kenapa? Kibum juga tidak yakin. 
“Karena kau tertawa di saat yang tidak tepat!” seru Kibum ketus. 
Jinki menghela nafas, lalu kembali menatap Kibum yang sedang menatapnya juga. Jinki terdiam sejenak, menghirup nafas dalam. “Itu mengecewakan.” 
“Hah?” Kening Kibum berkerut tidak paham. Apanya yang mengecewakan? 
“Kupikir kau serius mengatakannya. Ya sudah. Lebih baik sekarang kita kembali ke kelas. Aku tidak mau kena hukuman dari komisi disiplin karena membolos demi meminta maaf pada siswa yang tidak serius pada ucapannya.” Jinki berbalik menuju pintu masuk. Kibum yang terdiam sejak tadi pun mengikuti langkah ketua kelasnya itu dengan pertanyaan yang masih mengganjal di pikirannya.

“Oh ya.” Jinki tiba-tiba berbalik, langkah Kibum terhenti tiba-tiba sehingga mereka tepat berhadapan dalam jarak hanya beberapa senti saja, membuat Kibum bisa menghirup aroma cologne yang memabukkan dari tubuh Jinki. 
“Aku bukan tertawa karena mengejekmu. Tapi karena aku senang kau menyukaiku. Walaupun… ya kau tak serius mengatakannya. Itu cukup membuatku bahagia.” Jinki semakin mendekatkan wajahnya di telinga Kibum membuat Kibum sedikit memundurkan kepalanya untuk menghindar. “Sebenarnya, aku menyukaimu.” 
Deg. 
Kedua mata Kibum melebar mendengar ucapan atau bisa disebut bisikan Jinki di telinganya itu. Jinki menampilkan seulas senyum lalu berbalik dan berjalan kembali meninggalkan Kibum yang masih terpaku di tempatnya. 
‘Apa itu tadi? Aku yang salah dengar atau dia yang salah ucap? Hah… Sudahlah.’ 
Kibum segera menyusul Jinki kembali ke kelas. Teman-teman sekelasnya cukup terkejut melihat Jinki dan Kibum yang datang hampir berbarengan. Jinki duduk di tempatnya dan membuka bukunya dengan wajah datar andalannya sedangkan Kibum kembali ke tempatnya dan membuka bukunya dengan kaku. Taemin yang duduk di belakangnya menepuk pundak Kibum membuat Kibum -mau tidak mau- berbalik sejenak. 
“Hei. Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali?” tanya Taemin penasaran. Kibum hanya mengidikkan bahunya tidak tahu. Kibum ingin berbalik menghadap ke depan saat Taemin kembali melontarkan pertanyaan yang membuatnya mati kutu. 
“Dan kenapa wajahmu merona, Kii?” 
Gawat. 

-Fin-

REMAKE / JINKEY / Behave Aggressive / Oneshoot

​Key adalah manusia ter-agresive di dunia. Apa jadinya jika Key merupakan..

*****
Sebagai Teman
Jinki selalu tak merasa sendiri karena Key selalu ada untuknya. Mendengarkan keluh kesahnya dan Key berusaha menjadi teman terbaik yang Jinki miliki. Dan Key akan pergi kemanapun Jinki melangkah.
Kelas fisika hari itu tetap saja membosankan, di tambah dengan cuaca terik di luar. Uhh semua orang tentu lebih memilih bersantai-santai sambil menikmati jus jeruk yang super segar. Jinki pun sama. Ia menguap beberapa kali namun masih saja mencatat materi di buku tulisnya. Bahu kirinya terasa berat sebelah. Ada Key disana yang tertidur di atas pundaknya. Tempat duduk Key memang sedikit tersembunyi di antara teman-teman yang lain.
“Hei bangun Key.” Jinki berbisik sambil menaik-turunkan bahu kirinya.
Key melengguh pelan namun kembali tidur. Jinki menaik-turunkan kembali bahunya.
“Bahuku terasa pegal. Kepalamu berat sekali, huh?” Ujar Jinki masih berbisik.
Key tak merespon. Kini ia mendekap lengan Jinki dengan erat dan membuat laki-laki tampan itu semakin sulit bergerak.
Jinki berdecak pelan. Ia meletakkan pulpennya di atas meja, dan melepaskan cengkraman Key disana. Key masih menutup mata namun cengkramannya semakin kuat saja, memaksa Jinki menambah kekuatan lebih.
Laki-laki manis itu mencondongkan tubuhnya semakin dekat pada Jinki dan tubuh itu semakin terdorong ke samping.
Pergulatan kecil itu pun terjadi. Dimana Jinki mencoba menarik paksa lengan kirinya dibantu tangan kanan dan Key tetap keukeuh mempertahankan lengan itu dalam dekapannya. Sambil terus mencondongkan tubuhnya pada Jinki.
Kau tau, itu sungguh sangat-sangat menjengkelkan..
Suara pergesekan kaki kursi pada lantai membuat suasana gaduh seketika. Beberapa orang siswa yang tadi tertidur pun ikut terbangun hingga…
BRUAKK
“Akh~!”
Suara yang lebih keras terdengar memenuhi ruangan. Jinki mengaduh tertahan yang di timpa Key di atasnya. Kepalanya ikut terbentur sudut meja sebelum mencium lantai kelas. Lalu di ikuti Key yang mendarat di atas badannya.
Oh! Itu benar-benar sakit.
Kelas menjadi sepi beberapa detik lalu diikuti suara tawaan membahana. Wajah Jinki memerah menahan malu. Key pun sama, ia membenamkan wajahnya dekat-dekat pada dada Jinki.
Guru Kang membenarkan letak kacamatanya sebelum menghampiri keduanya yang berbaring di lantai dengan posisi yang aneh.
“Jadi kira-kira hukuman apa yang pantas ku berikan pada kalian berdua?”
Jinki menahan nafas. Ia sudah tau kalau akan berakhir seperti ini dan Ia cukup mental sebenarnya.

“Jinki maaf–”

“tak apa..” Jinki menjawab cepat.

“apa punggungmu sakit?”

“tidak.”
Key terdiam dan menunduk. Sungguh ia tak menyangka jika Jinki akan terjungkal ke belakang. Ia hanya bosan dan hanya ingin sedikit menjadi hiburan. Dengan menganggu Jinki?
Dasar! Mereka tengah berada di dalam kolam berenang yang hanya memiliki air sampai betis. Menjalani hukuman membersihkan kolam berenang–yang demi apapun ini terlalu besar untuk ukuran kolam berenang pada umumnya–. Jinki bertanya-tanya kapan kolam ini terakhir di bersihkan?
Ada banyak lendir tak berwarna di dinding dan juga di dasarnya. Sedikit salah mengambil langkah maka mereka akan kembali mencium lantai.
“maaf Jinki. Tidak akan ku ulangi lagi.” Kata Key lirih. Jinki tak menjawab. Ia menggosok dinding-dinding kolam dan mengacuhkan Key yang berdiri di sampingnya.
“Jinki..-”

“aku baik-baik saja. Jadi bisakah kau berhenti mengoceh?”
Jinki bersuara datar. Namun Key tau jika Jinki tak marah padanya, mungkin kesal Ya. Key tersenyum lebar.
Ia mendekati Jinki dan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang laki-laki itu.
 Menghentikan pergerakannya secara tiba-tiba. Punggungnya terasa nyaman bersandar pada dada Key yang memuluk ia dari belakang.
“Ku traktir bubble tea ya?” kata Key di telinganya.
Jinki tersenyum tanpa Key ketahui.
“Ok.”

Sebagai Tetangga
Sebuah truk berukuran sedang berhenti tepat di samping rumah Jinki. Ia tengah memperbaiki mesin motornya di halaman depan. Dan seorang laki-laki turun dari pintu di samping kemudi.
Laki-laki itu tampak memberikan arahan mana barang yang harus mereka bawa masuk ke dalam rumah di depannya, beserta cara bagaimana cara mengangkat barang tersebut.
Dan Jinki tau jika rumah kosong di samping rumahnya kini telah ada yang menempati. Jinki mempunyai tetangga baru ternyata.
Lalu Jinki kembali bergelut pada mesin motornya ketika sebuah suara menyapa dengan lembut.
“Hello.” Juga ramah. Jinki mengangkat kepalanya kembali. Menemukan sosok laki-laki yang memberikan arahan tadi berdiri di depannya kini.
Sebuah senyuman laki-laki itu layangkan padanya.
Jinki bangkit.
“Sepertinya kita adalah tetangga. Aku Key. Salam kenal.” Laki-laki bernama Key itu mengulurkan tangannya ingin berjabat.
Jinki mengangkat tangannya yang penuh oli dan Key paham. Maka ia turunkan kembali.
“Aku Jinki.”
“semoga kita dapat berteman dengan baik.” kata Key lagi.
Jinki mengangguk. “tentu.”
Setelah itu Key berbalik menuju rumahnya kembali.
***
Langit telah berubah gelap.
Jinki berniat untuk ke supermarket untuk membeli beberapa keperluannya sekalian ia akan makan malam di luar.
Pintu rumahnya di ketuk dari luar dan Jinki bergegas membukakan pintu. Key berdiri di depan pintu dengan senyum manis.
“Hai Jinki.” Key menyapanya.
“Key? Ada apa?” tanya Jinki, sedikit bingung karena Key yang menjadi tamunya.
“apa kau akan pergi?”
“seperti itulah.”
“benarkah? Padahal aku ingin mengundangmu makan malam, aku memasak banyak makanan.”
Jinki pikir itu bagus. Hei, bukankah Jinki memang ingin makam malam?
“hitung-hitung sebagai formalitas kita sebagai tetangga.”
“Baiklah.”
Jinki mengunci pintu rumahnya sebelum ikut langkah Key menuju rumah laki-laki manis itu.
Keadaan rumah Key memang sedikit berantakan dengan banyaknya kardus yang bertebaran di setiap sudut ruangan. Bagaimanapun Key baru menempati rumah ini tadi siang. Wajar jika masih banyak barang yang belum tertata.
“maaf sedikit berantakan.” Ujar Key. Ia menuju menuju sebuah meja yang Wow ada banyak sekali makanan disini.
Ada nasi gulung di atas piring yang besar, daging kepiting yang dengan campuran saus hitam yang tampak lezat, beberapa makanan yang tertata rapi dan Oh! ada kimchi juga.
Jinki semakin merasa lapar saja.
Key mempersilahkan ia untuk duduk dan mereka menikmati makan malam itu dengan posisi saling berhadapan.
“masakanmu rasanya enak.” puji Jinki sungguh-sungguh.
“benarkah? Terima kasih Jinki. Aku akan sering-sering mengundangmu untuk mencicipi masakanku kalau begitu.”
“Eh? Bukan seperti ini. aku—”
“Apakah sausnya terasa pas?”
Jinki hanya mampu mengangguk.
Selama makan malam itu berlangsung, mereka saling bertukar cerita–sebenarnya Key yang berbicara terlalu banyak– saling bertanya dan mereka terlihat tak lagi canggung seperti di awal-awal. 
“Jadi kau mahasiswa teknik mesin?”
Jinki mengangguk. “begitulah.”
“pantas tadi kulihat kau memperbaiki mesin motor mu.”
“bagaimana denganmu?”
“aku mahasiswa kedokteran. kau tau bukan betapa menyebalkannya nama dan jenis setiap sel ini itu. belum lagi beberapa istilah yang ah~ aku tak suka membahasnya.”
Jinki terkikik pelan.
“kau lucu sekali?”
Key menggembungkan pipinya dan Jinki mengatakan itu sangatlah imut.
“jangan katakan. Aku sudah bosan mendengarnya.”
Jinki hanya tertawa. Lagipula Key memang sangat imut dan— apa yang baru saja ku pikirkan??
“kau bilang kau akan tadi pergi, bukan begitu?”
“ah~ Ya. aku harus membeli beberapa keperluanku.”
“kau ingin ku temani?”
“Eh?”
“tak apa. sebentar aku akan berganti baju dulu.” Key melesat cepat masuk kamarnya tak membiarkan Jinki mengeluarkan suaranya terlebih dahulu.

Sebenarnya ini terlihat seperti Key-lah yang berbelanja sedangkan Jinki hanya menemaninya saja.
Key mengambil alih troli Jinki dan mendorongnya. Ia juga mengambil kertas yang berisi list yang harus di beli oleh Jinki.
Jinki merasa tak nyaman awalnya. Key bersikap seolah mereka telah lama akrab dan yeah semua terlihat aneh saja. Namun, entah mengapa Jinki suka hal itu. Ia membiarkan Key yang mengambil alih pekerjaannya.
“terima kasih Key.” Ucap Jinki sungguh-sungguh.
***
Berawal ketika pagi menjelang, Jinki telah mendapati Key di depan pinru rumahnya sendiri. Laki-laki manis itu kembali menghampirinya dan yeah sedikit modus, Key akhirnya berangkat ke kampus hari itu bersama dengan Jinki dengan motor milik Jinki sendiri.
Ia memeluk pinggang Jinki erat-erat sepanjang perjalanan mereka ke kampus.  Jinki berbaik hati mengantar Key sampai ke kampusnya walaupun jaraknya yang lumayan jauh sebenarnya.
Dan Jinki harus terbiasa ketika setiap paginya selalu mendapati Key yang duduk di jok belakang motornya dan dua lengannya yang melingkar pada pinggangnya. Jinki tidak tau mengapa, namun ini terasa menyenangkan.
“terima kasih, Jinki.”
Itu adalah ucapan terima kasih yang entah ke berapa kalinya, ketika Jinki telah menghentikan motornya di depan gerbang kampus Key. ia hanya akan tersenyum dan menjawab,
“Bukan masalah.”                                                    
Key telah melanjutkan langkah masuk ke dalam lingkungan kampusnya, ketika ia tiba-tiba berbalik dan mengecup pipi Jinki dengan cepat. Lalu tanpa mengatakan apapun ia langsung berlari menjauh dari sana dengan pipi yang telah merona.
Meski terkejut dan butuh beberapa menit untuk menyadari apa yang baru saja terjadi, Jinki hanya mampu tersenyum. Matanya masih fokus menatap sosok Key yang semakin mengecil dari pandangannya.

Sebagai Kekasih
Angin sore berhembus pelan di sekitar Key. suasananya nyaman sekali. Di salah satu ayunan itu terlihat Key meniup poninya berkali-kali dengan bosan. Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu Jinki di Jam Besar ini, namun Jinki belum saja datang menemuinya. Ok itu bukan salah Jinki. Tapi Key. ia berangkat satu jam lebih awal karena tak ingin Jinki menunggunya. Tapi kini malah berbanding terbalik.
Ia mendorong tubuhnya di atas ayunan itu.
Hingga akhirnya sebuah tangan menghentikan pergerakan ayunan itu. Key menoleh cepat dan mendapati sosok Jinki disana. Senyumnya merekah.
“Jinkiii!” Ia bangkit dengan cepat dan memeluk kekasihnya dengan hangat.
“Kau menunggu lama, ya?” Tanya Jinki. Tangannya bergerak membelai punggung Key dengan sayang. Key mengangguk dalam pelukan itu.
“Tidak apa-apa. Karena Jinki sudah datang.”
Mereka melepaskan pelukan itu.
“Kau ini bebal sekali, sudah berapa kali kukatakan jangan datang lebih cepat dari jadwal yang telah di buat.” Ia menarik ujung hidung Key pelan.
Laki-laki manis itu mengaduh sambil memengang hidungnya.
“Aku takut terlambat dan Jinki akan menungguku.”
Jinki tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Key dan laki-laki itu kembali merengut.
“Aigo~ kenapa aku bisa memiliki kekasih berhati malaikat sepertimu, hm?”
Rona merah muncul di pipi dan Key menunduk karena malu.
“ah~ kau membuat aku malu, Jinki.”
Jinki kembali mendudukkan Key di atas ayunan itu sedang ia berdiri di belakang. Mulai mengayunkan Key disana.
“Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Jinki dari belakangnya.
“Ngg…” Key bergumam. “Entahlah. Sebenarnya aku ingin melakukakn banyak hal, saking banyaknya aku bingung harus memulai dari mana.”
“Baiklah. Karena kau punya banyak, aku hanya akan memberikan kesempatan untuk mengatakan tiga hal yang ingin kau lakukan.”
“Untuk yang pertama…. Aku ingin selalu bersama Jinki…” Ucapnya polos.
Pergerakan Jinki sedikit melambat. Jinki tau jika ia takkan berhenti tersenyum malam ini.
“Kedua… eum.. aku ingin Jinki tetap mencintaiku—“
“dan… yang terakhir.. haruskah aku mengatakannya sekarang?”
Jinki mengangguk. “Tentu.”
“Karena yang terakhir selalu special, jadi akan ku katakan nanti.”
Key menghentikan ayunan itu dan kembali berdiri.
“Aku ingin makan ddobokki.”
“Apa ini termasuk dalam hitungan?”
“tentu saja tidak.”
***
Key memasukkan potogan ddobokki terakhir ke dalam mulutnya yang penuh. Perutnya terasa kembung dan panas. Jinki menatap Key dengan kasian. Ia tak dapat mencegah ketika Key terus saja memesan ddobokki setiap kali telah menghabiskan porsi yang awal. Key memiliki selera makan yang tinggi, Jinki tau itu.
Jinki menyorkan segelas air putih padanya dan Key menenguknya cepat-cepat.
“Kenyang sekali Jinki.”
“Kau ingin lagi?” Jinki sedikit menggoda.
“Sebenarnya Ya. Tapi perutku serasa akan meledak saja.”
“Baiklah. Kalau begitu saatnya pulang, sayang.”
Key mengangguk. Ia menunggu Jinki yang membayar semua tagihan ddobokki yang habiskan lalu bangkit. Perutnya serasa turun dan Key berjalan sedikit membungkuk. Ia bahkan berjalan terlalu lamban.
Jinki menghentikan langkah dan berjongkok di depan Key membuat laki-laki manis itu menyergit bingung. Ia tak mengatakan apa-apa dan naik ke punggung laki-laki itu dan Jinki kembali melanjutkan langkahnya.
“Jangan makan terlalu banyak, Ok?”
“Ok.” Sahut Key di belakangnya.
“Jinkiii…”
“Ya?”
“aku.. akan mengatakan hal terakhir yang ingin kulakukan.”
“Ok. Apa itu?”
Key tak langsung menjawab. Desahan nafas Key di hembuskan menggelitik daun telinga belakang Jinki.
“Aku ingin… Jinki menikah denganku.”
Dan dunia terasa berhenti saat itu juga.
***
Jinki telah sampai di depan rumah Key dan laki-laki itu turun dari gendongannya. Kembali berpijak di tanah.
“Hati-hati di jalan Jinki… setelah sampai di rumah, langsung beristirahat. Punggungmu pasti sakit.”
Jinki mengangguk. “Baiklah.”
Beberapa detik terdiam dan Jinki kembali membuka suaranya.
“Key.”
“Ya?”
“Aku akan menjawab semua permintaanmu.”
“Ng?”
“Lee Jinki akan selalu mencintai Kim Key dan Kim Key pun harus melakukan itu juga. Lee Jinki akan selalu berada di samping Kim  key apapun yang terjadi—“
“—apakah aku terdengar berlebihan?”
Key  menggeleng. Entah karena dingin atau karena hal yang lain yang pasti Key tengah merasa hangat di pipinya yang memerah. Jantungnya yang berdetak kencang dan Key merasa dunianya hampa, yang ia dengar hanyalah suara Jinki. Yang ia lihat adalah sosok Jinki yang berdiri di sampingnya kini.
“Aku tidak pandai merangkai kata-kata tapi—aku benar-benar mencintaimu. Sangat. Bahkan ku pikir duniaku hanya bepusat padamu—“
“Jinkiii…” Key memeluknya dengan cepat dan erat.
“kau bisa membuatku mati tersipu.. jangan katakan apapun lagi. Aku juga sangat mencintaimu—“
Jinki melepas pelukannya. Menatap Key dengan dalam. Jemarinya mengusap kedua pipi Key dan membawa bibir itu bertemu dengan bibirnya.
Menekan dengan lembut penuh perasaan. Dan Key merasa tak lagi berpijak di tanah. Tubuhnya seolah melayang hingga langit ke tujuh. Sapuan bibir Jinki pada bibirnya memang yang terbaik.
Jinki menarik wajahnya dan melepas bibir itu. mengecup kelopak mata Key yang tertutup lantas mata indah itu pun terbuka.

“Menikah lah denganku Kim Key.”

Satu anggukan Key berikan.

“Tentu. Aku hanya akan menikah denganmu Lee Jinki.”

*****
FIN

HANDPHONE / DRABBLE /2MIN

​Choi Minho

Lee Taemin

Seorang namja tengah duduk dengan tenang seraya memainkan hanphonennya. Mata indahnya terlihat focus pada layar handphonenya. Sesekali ia mengerang kesal. Baiklah mari kita lihat apa yang sedang dilakukan namja itu.
OH! Ternyata namja itu tengah asik memainkan game di handphonenya.
Kalian Tanya siapa namja itu?
Namja cantik dengan mata indah itu adalah Lee Taemin. Salah satu member dari Boys Group naungan SMent. SHINee.
Cklek.
Seorang namja-sangat- tampan memasuki ruang tersebut. Taemin terlalu larut dengan gamenya, hingga tidak menyadari namja tampan telah duduk disebelah tubuhnya.
” Taemin~~~” Taemin terlonjak.
“Yak! Minho hyung. Kau mengagetkan ku!”
“Siapa suruh mengabaikan ku demi handphone bodohmu itu?” jawab Minho acuh.
“Aishh, aku hanya bosan karna kau tinggalkan tadi” Taemin mempoutkan bibirnya.
“Hentikan itu”
“eoh? Apa?”
“hentikan kebiasaanmu mempoutkan bibirmu jika sedang kesal”
“hah? Kenapa?”
“itu membuatku selalu tak tahan ingin menciummu lalu ‘menerkammu’.”
“MWOYAA?!”

FF / MINKEY / WHEN MINHO MEETS SHORTIE

​Kim Key

Choi Minho

Choi Minho berjalan santai di koridor bagian selatan. Laki-laki dengan tinggi badan melebihi semampai itu memasang tampang keren. Kedua telapaknya dikantungi pada saku celana. Ia juga tersenyum untuk siapapun yang berpapasan dengannya.
Sesekali, ada beberapa adik tingkat atau kakak tingkat menyapanya.
“Annyeong, Minho sunbae~”
“Hai, Minho!”
“Siang, Minhonie~”
“Annyeong, sunbaenim~”
“Hola, hoobae tampan.”
Dan seterusnya—dan seterusnya—
Minho membalas semua sapa itu dengan ramahnya. Ia memang laki-laki yang rendah hati. Meski populer, ia tetap membumi. Maka tak mengherankan jika banyak murid mengharapkan menjadi kekasihnya.
Sudah tampan, tinggi, pintar, kaya, terkenal, bersuara merdu, anggota OSIS, salah satu atlet basket utama kebanggaan sekolah, tidak sombong pula. Bukankah kelebihannya bejibun?
Siapa sih, yang mampu menolak pesonanya?
Yang jelas, hampir seisi sekolah akan menggeleng pasti bila ditanya.
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Sudah banyak—sangat banyak malah—murid-murid mendatangi Minho dan meminta jadi kekasihnya.
Dan Minho sadar betul dengan semua itu. Namun nampaknya, di antara beratus penggemar tadi belum ada barang satu yang sanggup menggetarkan hatinya.
Minho masih lajang!
Nah, terlepas dari semua itu, Minho yang sekarang tengah membawa setumpuk buku.
Tadi ada guru yang kebetulan berpapasan dengannya dan memintai tolong laki-laki jangkung itu membawa titipan buku perpustakaan yang baru diantar pagi ini. Jadilah ia mesti ke perpustakaan untuk menaruh titipan tadi.
.
.
“Permisi, Nari Noona.” panggilnya ramah pada seorang perempuan cantik yang memakai kacamata.
Perempuan itu tersenyum hangat pada Minho, “Eh, Minho. Ada apa?”
“Ini, tadi Jung Seonsaeng menyuruhku menaruh titipan ini di perpustakaan.” jelas Minho sambil menunjuk boks besar yang berada di sebelah kakinya.
Nari memperhatikan boks besar itu intens. Kumpulan soal-soal? gumamnya dalam hati. Tak lama ia mendongak lalu menatap Minho. “Kalau begitu, bisa tolong kau letakkan disana?” titahnya halus.
“Siap, bos!”
Minho berjalan dengan mengangkat boks itu ke sudut perpustakaan yang lumayan sepi. Letaknya paling ujung, sebelah kanan rak-rak buku.
Bruk!
“Fyyuuuh~” Minho menghela napasnya.
Ia menyandar pada salah satu rak buku besar. Kaki jenjangnya diselonjorkan, kelopak matanya yang lebar ia katupkan. Jujur, Minho capek sekarang. Bermalas-malasan tak ada salahnya, bukan?
Jam sekolah sudah habis. Lagipula kegiatan OSIS selesai dari tadi, sejak anggotanya sudah membubarkan diri masing-masing…, tanpa dikomando.
“Cari bacaan saja, deh~” gumamnya tak lama kemudian.
Minho merangkak mendekati rak etalase tak jauh darinya. Ternyata itu kumpulan buku-buku novel. Sibuk memilah buku yang menarik perhatiannya sampai ada keluhan kecil merasuk pendengarannya.
“Ih, kenapa ini tinggi banget?!”
.
.
“Ya ampun, siapa sih orang gila yang bikin ini rak setinggi ini?”
Key mengeluh kesal. Sudah ada limabelas menit sejak ia berkutat dengan pekerjaan bodoh ini; menggapai sebuah buku!
Jadi begini, Key sedang mencari buku, tapi sialnya—buku yang Key cari itu justru letaknya di atas rak besar ini. Jadilah ia harus berjinjit-jinjit menggapainya. Satu fakta yang mesti diketahui; dia cukup pendek untuk murid laki-laki seumurannya. Jangan tatap begitu, ini hanya masalah gen. Selebihnya, Key tetap lucu, kok! Eh? Lucu? Dia laki-laki. Terserahlah kau menyebutnya apa.
“Dikit lagi, ayo…, hampir dapat.” ucap Key menyemangati diri sendiri.
Baiklah, Key akan berusaha lebih keras!
Limabelas menit berselang—
Frustasi. Key frustasi.
Sebegini jahatkah takdir mempermainkannya?
Oke, mungkin perumpamaan itu berlebihan. Tapi ya ampun, demi Tuhan kenapa rak-rak itu mesti setinggi ini? Orang gila mana yang buat?
Masalahnya, Key sudah berjinjit. Bahkan sampai kelingking kecilnya terasa kebas, buku itu hanya ujung sampulnya yang mampu tersentuh.
Tapi sudahlah. Key capek. Menyerah saja.
Akhirnya Key bersandar pada dinding sambil menyelonjorkan kaki.
Namun ketika ingin memejamkan mata, sekelebat Key melihat bayangan seorang murid laki-laki dengan tinggi—uh, sialan, bikin iri saja—hampir sama dengan tiang listrik.
Tanpa mendongak atau menjinjit sama sekali, laki-laki itu dengan mudahnya mengambil sebuah buku bersampul tebal. Key melebarkan kelopaknya, lalu memicingkan mata untuk melihat buku itu.
Eh, bukankah itu novel yang tadi ingin kuambil?
Key bangun dari posisinya. Ia mesti merebut novel itu. Sudah lama ia mau membacanya.
.
.
“Hei, Tiang Listrik! Kembali kau,”
Dahi Minho mengerut mendengar lengkingan tujuh oktaf itu. Langkahnya terhenti sejenak namun sepersekian detik kemudian ia mengangkat bahunya. Minho kembali berjalan, mengabaikan suara itu.
Alis Key berkedut kesal. “HEI!”
Berlari kecil, Key akhirnya menghadang tubuh tinggi Minho dengan dua lengannya. “Hei, aku memanggilmu tadi, apa kau tuli?”
Minho tersenyum lembut, “Benarkah? Kupikir kau memanggil orang lain selainku…”
“Mana ada, Tiang Listrik disini kan cuma kau!” tuding Key.
“Tiang Listrik? Aku?” bingung Minho.
Key berkacak pinggang. “Tentu saja kau, siapa lagi? Dasar tolol!”
Minho menggeleng seduktif, “Nampaknya kau anak baru, ya? Kau benar tidak mengenalku?” Ia menunjuk dirinya sendiri. Minho bingung kenapa masih ada murid yang belum mengenal dirinya. Kalau angkatan kemarin…, sudah pasti semuanya kenal Minho.
“Hah! Untuk apa mengenalmu, kurang kerjaan!” Key mengerucutkan bibirnya.
Minho tergelak. Ia mencubit pipi putih Key cukup keras.
Plak—
“Sakit, bodoh!” maki Key.
Minho menyengir lebar. “Kenapa kau imut sekali?” katanya nggak nyambung. “Minho Choi imnida, ireum nuguya?”
“Key.” jawabnya singkat. “Sudahlah, aku tak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan Tiang Listrik aneh sepertimu, aku cuma mau ambil itu—” Key menunjuk pasti novel yang dipegang Minho.
“Ini?”
“Ish! Iya! Ternyata selain aneh kau itu juga lambat. Dasar Tiang Listrik!” cibir Key.
Laki-laki tinggi itu menautkan alisnya, baru sekali ini ia mendengar ada seorang murid berani mengatainya bodoh. Dan yang mengatainya itu seorang laki-laki pendek berpipi berisi yang baru saja ditemuinya belum lama ini.
Ayolah… Siapa tidak tahu Minho?
“Hoi, kenapa diam? Tiang Listrik gila!” cibir Key, lagi. “Cepatlah berikan buku itu padaku, dengan begitu kau bisa cepat pergi.”
Minho sontak tersadar dari lamunannya. Pemuda tinggi itu tersenyum kecil, “Tidak semudah itu, Key. Kau tahu, kau telah mengataiku tadi…, Nona pendek.”
“Whatever! Sekarang yang aku mau cuma buku itu. Cepat berikan!” Key melotot garang. “Dan—ya! Kau benar-benar tidak sopan! Aku ini namja, pabbo!”
Minho hanya menggeleng-geleng.
“Aku tidak mau cari masalah denganmu. Berikan buku itu! S-E-K-A-R-A-N-G!”
Minho terus menggeleng seduktif— “Kalau aku tidak mau, bagaimana?”
Mata sipit terlapis eyeliner milik Key langsung membulat marah. “Berikan!” bisiknya sambil memelototi Minho.
Key berusaha merebut novel itu. Tapi Minho malah semakin menjauhkannya dari laki-laki pendek ini.
“Cih! Kau akan menyesal telah membuatku kesal!”
.
.
“Ayo, katamu kau mau baca novel ini?” goda Minho.
Minho sengaja menggoda Key dengan menarik ulur novel itu ke hadapan laki-laki itu. Tangan Key menggapai-gapai.
Key menggeram, “BERIKAN!”
Tak perlu panik dengan keadaan sekitar. Perpustakaan sudah sepi sejak sepuluh menit duapuluh tiga detik yang lalu… Maklum, ini sudah sore. Dan sekarang sudah ada duapuluh menitan sejak Minho menggoda Key.
Set~
Telapak tangan mungil itu berhasil memegang sisi kanan novel itu.
Key menyeringai, “Dapat.”
Minho terkaget namun dengan gesitnya tangannya langsung menarik kembali novel itu.
Maka, terjadilah adegan tarik-menarik yang tidak terelakkan—
“Berikan!”
“Andwae.”
“Berikan!”
“Andwae.”
“Berikan!”
“Andwae.”
“Berikan!”
Novel itu tak ada berhenti berpindah tempat. Kadang di Key, tapi ujung-ujungnya pun balik ke Minho. Masing-masing dari dua laki-laki itu kukuh mempertahankan novel. Herannya, kenapa perpustakaan harus menyediakan satu novel yang semacam itu? Kalau banyak kan, Key bisa ambil yang lain. Tapi sepertinya sudah seperti itu jalan ceritanya.
Sekarang saja—
“BERIKAN! SEKARANG.” teriak Key, dengan nada suara melebihi tujuh oktaf.
Minho menggeleng, “TIDAK AKAN.” ucapnya mutlak.
Key berdecak, “Kau benar-benar membuatku marah!” Tangannya masih berusaha menarik dengan kuat.
Minho pun tidak jauh beda.
Seeettt—
Entah karena apa—mungkin terlalu lelah berebut—Key justru melepaskan genggaman tangannya pada novel tadi.
Semoga Tiang Listrik itu jatuh. Kalau perlu kepala anehnya itu membentur meja, doa Key nista.
Syung—
Minho kehilangan keseimbangan, tubuh tingginya terhuyung ke belakang.
Tentu saja karena Key—melepaskan genggamannya pada novel. Otomatis Minho yang sedang kuat-kuatnya menarik pasti akan terjatuh.
Sepersekian detik sebelum kejadian yang diprediksi Key akan terjadi…, tak disangka, Minho malah menarik lengan Key.
Dan novel itu terlempar dengan sangat dramatisnya…
Brugghh—
Set~
CHUUUUUUU~!
Lalu—
—satu ciuman manis tak terelakkan berhasil mendarat di bibir keduanya!
.
.
.
.
.
Yang mesti kita ketahui ialah kejadian tidak terduga kadang bisa berakhir cinta…

End

FF / MY LITTLE GIRL / JINBOON / NC / Twoshoot

​Lee Jinki

Kim Gweboon

Lee Jinki menatap wajah tertidur di sampingnya. Gadis itu terlalu cantik, dengan tanpa cela. Sampai ada ketakutan kalau-kalau sewaktu-waktu ada seseorang yang mencuri gadis itu dari sisinya. Kalau hal itu sampai terjadi, ia tak tahu neraka macam apa yang bakal dihadapinya.

Alisnya mengernyit di sela-sela tidurnya, “U-ugh…” geliatnya terbangun.

Jinki mengecup kedua matanya dengan sayang. Menyentuh pipinya dengan hati-hati. Tidak perlu jadi jenius untuk tahu kalau Lee Jinki terlalu mencintai gadis ini.

“Pagi…?” Gadis itu menyapa. Lee Jinki mengecup bibirnya dan lantas menjawab, “Kalau menurutmu jam sebelas siang itu masih pagi. Yah, oke, selamat pagi.”

Gadis itu, Kim Gweboon, tergelak singkat. “Ya! Salah siapa yang ‘membombardirku’ sampai subuh sampai aku nyaris mati kelelahan.”

 Jinki berkata dengan nada rendah yang menggoda, “Lalu haruskah aku menyalahkanmu yang berpakaian terlalu seksi semalam?”

Gweboon mendengus dan beranjak bangun terduduk.   Jinki dengan sigap menumpukan bantal-bantal di headboard-ranjang untuk disenderi Gweboon, yang kemudian Gweboon melemparkan diri ke tumpukkan bantal-bantal itu dengan nyaman.

“Kau memang punya selera yang aneh, ahjussi.Jadi di matamu sehelai daster belel bergambartweety itu seksi, hah?”

Jinki mengangguk mengiyakan dan tersenyum miring, senyum yang meluluh-lantakkan logika gadis-gadis.

Ngomong-ngomong soal semalam—Pria itu sungguh tak dapat menahan-nahan nafsunya lagi saat gadis itu melakukan hal nista ini kepadanya: terlihat begitu polos tanpa pulasan riasan apapun, rambut panjang lurusnya yang digerai asal, serta mengenakan daster dibawah lutut yang menenggelamkan tinggi badannya yang tidak seberapa. Membuatnya gemas untuk sesegera mungkin mengurung gadis mungil itu di dalam ‘rangkulannya’—tentu dengan keadaan berkeringat, merona, dan mendesah.

Terlihat sepolos itu memang benar-benar godaan mutlak bagi pria seumurannya.

Seumurannya? Mereka terpaut angka yang cukup jauh. Lee Jinki tahun ini menginjak angka tiga-lima sementara Gweboon delapan-belas. Silahkan selisihkan sendiri pautan angkanya, dan dipersilahkan untuk tertohok dengan senang hati.

Lee Jinki merangkul Gweboon di lengannya, posesif. “Ayo menikah.” Ucapnya santai, seolah-seolah melamar gadis memang semudah dan sesederhana itu.

“Cari gadis lain kalau begitu. Aku masih harus kuliah dan bekerja dan bersenang-senang. Dan aku belum mau hamil dan mengurus suami. Terlebih suami yang manja macam Lee Jinki.”Gweboon juga menjawabnya dengan semudah itu. Jelas saja, ini bukan lamaran pertama yang diterimanya dari Jinki.

Jinki menaruh dagunya di atas kepala Gweboon. “Maka cepatlah selesaikan urusan sekolah dan senang-senangmu, arra? Kau harus sadar kalau kekasihmu ini sudah tidak muda lagi.”

Gweboon memasang wajah pura-pura polos, “Yahahjussi, memangnya kau itu kekasihku?” Jinki menggeram—pura-pura—marah. Dan menggelitiki badan polos gadis itu, “Bilang apa kau? Coba ulangi lagi?!”

-o0o-

Dua tahun yang lalu. Gweboon dan Jinki bertemu di dalam sebuah klab yang juga merangkap pubdan bar.

Gweboon adalah definisi remaja bebas, orang tuanya sudah meninggal sehingga urusan perwaliannya jatuh ke seorang pengacara yang tidak pernah benar-benar peduli padanya. Uang yang melimpah dan keputus-asaan membawanya ke kebiasaan yang tidak benar. Saat itu, hidup Gweboon adalah tentang alkohol, clubbing, dan segala hal yang pada intinya senang-senang.

Sampai suatu malam, Lee Jinki untuk pertama kalinya bertemu dengan Gweboon.

Gadis itu cuma setinggi bahunya, wajahnya amat cantik tapi sayang, gadis itu selalu nampak mabuk. Laki-laki hidung belang kerap kali memanfaatkan Gweboon yang sedang mabuk. Entah itu menggodanya sampai mencoba-coba untuk menyentuh tubuh mungilnya. Dan atas dorongan perasaan anehnya, Jinki merasa protektif atas gadis itu.

Maka malam itu dia membopong Gweboon dari klab ke penthouse-nya. Tanpa berkenalan dan secara paksa. Gweboon jelas memberontak meski dibawah pengaruh alkohol, tapi hal itu sia-sia karena pada dasarnya Lee Jinki adalah laki-laki—dan laki-laki punya tenaga yang lebih besar dari perempuan.

Dan Jinkj menciumnya sesampainya mereka di rumah, membuat Gweboon tergugu dan—out of nowhere—merasa disayangi.

Seperti orang yang tidak punya pekerjaan, sejak itu Lee Jinki sering muncul tiba-tiba di hadapannya.

Suatu hari, Lee Jinki muncul di sekolahnya. Menjemputnya dan membawanya kembali ke rumahnya. Memperlihatkan pada Gweboob sebuah ruangan berlantai dua dimana di dalamnya terdapat bar, DJ, lantai dansa dan kursi-kursi sebagaimana halnya di klab pada umumnya. Dan Jinki mengatakan padanya untuk tidak datang ke klab lagi melainkan datang kepadanya. Jinki selalu bisa ditelepon kapan saja dan saat Gweboon memintanya datang, pria itu pasti akan datang.

Entah bagaimana persisnya, hubungan mereka berkembang pesat selama dua tahun. Mereka berciuman, bercinta, tinggal serumah, selayaknya pasangan suami istri. Tanpa ada yang tahu ataupun yang mengerti.

Mereka hanya menikmatinya.
-o0o-
Jam menunjukkan pukul lima sore. Gweboon menampakkan diri di rumah mereka, “Aku pulang!”

Lee Jinki menatap bayangan Gweboon yang nampak kelelahan dengan pundaknya yang melorot lesu, tidak ada lagi Gweboob yang ceria dan bersemangat semenjak gadis itu naik kelas ke tahun terakhirnya di Sekolah Menengah—beberapa bulan yang lalu. Pria itu beranjak dari sofa bed-nya dan menghampiri Gweboon, memeluk gadis itu.

Gweboon  meloncat tanpa aba-aba, melingkarkan kakinya ke pinggang Jinki. “Gendooong.”

Jinki mengecup pipinya sekilas dan berjalan ke lantai dua dengan Gweboon  yang terkulai di bopongannya. Saat melewati pelayan pribadinya, Jinki memberi isyarat untuk membawa makan malam Gweboon  ke kamar.

Sesampainya di kamar, Jinki membaringkan Gweboon di kasur. Pria itu tak lama bergabung berdampingan dengan gadis itu, merangkulnya dengan pelukan longgar sementara Gweboon membaringkan kepalanya di dadanya sembari memejam mata. “Hari ini capek sekali. Aku harus sekolah sampai sore dan bimbel setelahnya. Belum lagi malamnya aku masih harus mengerjakan PR. Aku benci sekolah…” Gweboon mencerocos panjang lebar.

Jinki menjawil hidung bangir Gweboon playfully. “Nah bocah, sudah kubilang ‘kan? Daripada kuliah, akan lebih menyenangkan jika menikah denganku saja. Yang harus kau lakukan cuma menungguku pulang kerja dan mengurusiku. Sisanya kau boleh berbelanja dan jalan-jalan kemana saja asal itu atas izinku dan denganku tentu saja.”

Gweboon mendengus sebal, membuka matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jinki. “You wish!” Jinki menjawabnya dengan menciumnya sekilas dan menunjukkan cengiran sok tidak berdosa. Saat Gweboon dilihatnya senang dengan ciuman itu, Jinki melanjutkan dengan mengulum bibir mungil itu. Merasakan manisnya dengan sesekali menjulurkan lidahnya. Ciuman itu berubah panas dan agresif saat Gweboon membalasnya, merangkulkan lengannya ke leher Jinki dan semakin memapas jarak di antara mereka.

Pria itu menaruh tangannya di pinggang Gweboon, mengeluarkan kemejanya yang dimasukkan ke roknya dengan serampangan. Dengan tidak sabaran, tangan itu menyusup ke dalam kemeja Gweboon dan meraba-raba perut ratanya. Merasakan halus dan mulusnya kulit putih itu. Tangan itu naik, dan naik…..

Tok! Tok! Tok!

Gweboon terkejut dan memisahkan diri, membuat Jinki menggeram kesal. Siapa yang berani-beraninya mengganggu ‘kegiatan-favorit-nya’ bersama Gweboon?! Ia melenguh saat ingat tadi ia menyuruh pelayannya untuk mengantarkan makan malam.

Tanpa melepaskan rangkulan posesifnya, Jinki menyusut bibir Gweboon yang basah karena salivanya, merapikan rambut dan kemejanya yang sudah tersingkap sampai ke bawah dada. Dan bersuara dengan lantang, “Masuk!”

Pelayan itu merona saat mendapati kedua majikannya sedang berpangku-pangkuan dengan mesra. Gweboon yang malu setengah mati berusaha turun dari pangkuan Jinki tapi pria itu dengan menyebalkan menahan pinggangnya dengan erat. Maka ia membenamkan wajahnya yang memanas ke bahu lebar Jinki, mengutuk pria itu dengan berbisik. “Dasar menyebalkan!”

Pelayan itu membungkuk dan keluar dari kamar dengan terbirit-birit, tak lupa ia juga menutup pintunya cepat-cepat.

Dan Jinki tertawa terbahak-bahak sementara Gweboon merengut masih merasa malu dan kesal.
-o0o-
Gweboon menyuapkan sendok makan malamnya yang terakhir saat Jinki kembali masuk ke kamar. Tadi Jinki menerima telepon yang sepertinya sangat penting dan meninggalkannya di kamar yang sedang menghabiskan makan malamnya.

Gweboon meneguk susunya saat Jinki meraih mantel kesayangannya dari lemari. Seperti bisa membaca pikiran, Jinki menghampirinya. “aku ada urusan sebentar,”

Pria itu mengecup bibirnya lembut, “Sepertinya akan lama. Jangan kemana-mana. Jangan tidur malam-malam. Kalau jam sembilan aku belum pulang, kau harus tidur duluan arra? Aku tidak mau melihatmu kelelahan lagi besoknya, kau mengerti?”

Gweboon memutar bola matanya dan mengangguk malas. Jinki menciumnya lagi sekali dan memutuskan untuk pergi.

Kalau terus mengikuti keinginannya, Lee Jinki pasti lebih memilih kembali membenamkan bibirnya di bibir merah muda itu dan mengabaikan fakta kalau ia harus pergi sekarang juga.
-o0o-
Gweboon menggigiti pulpennya, bad habit of course.Dia akan berlaku begitu kalau ada yang mengganggu pikirannya. Pikirannya melayang-layang seolah tak ada guru matematika yang sedang menerangkan pelajaran penting di hadapannya. Memahami trigonometri tidak lebih penting daripada Lee Jinki, saat ini.

Jinki pulang jam empat subuh pada akhirnya. Dia terbangun karena merasakan beban di bahu dan perutnya, apalagi bukan karena ahjussi manja yang membenamkan wajahnya di bahunya dan sepasang tangan posesif yang melingkar di pinggangnya. Selain karena Jinki juga tidak pernah pulang selarut itu, juga Gweboo  mencium sesuatu. Bau alkohol murahan dan rokok. Juga bekas merah keunguan di tengkuk pria itu,kissmark sign.

Tentu saja ia tahu betul karena itu juga bekas yang didapatinya kalau liburan musim panas datang. Saat liburan, Jinki akan ikut mengambil cuti, yah dia bisa melakukan sesukanya karena dia adalah bos untuk dirinya sendiri. Dan kalau sudah begitu, Jinki akan mengurungnya di kamar untuk empat sampai lima ronde yang melelahkan. Bukan hal aneh sebetulnya—maka dari itu selama liburan musim panas ia harus mengenakan baju dengan turtle-neck untuk menutupi bekas-bekas nista seorang Lee Jinki.

Menilik sifat pria itu yang—terlihat—begitu mencintainya, ia dengan akal sehatnya tentu tidak akan percaya kalau Jinki sampai melakukan hal-ini-itu dengan wanita lain. Tapi emosi labilnya mengatakan, bisa saja Jinki bosan padanya yang masih bocah dan butuh sentuhan wanita lain yang lebih matang dan dewasa. Pikiran-pikiran itu men-distract-nya dari segala hal dan jelas membuat pusing.

Sampai dirasakannya gebrakan di mejanya.

Dilihatnya guru matematikanya sudah ada di sampingnya dan menatapnya dengan sangar, “ke ruang guru pada saat jam istirahat.”

Gweboo  mengangguk dan menelan ludahnya dengan susah payah.
-o0o-
Sebenarnya guru matematika itu sangatlah rupawan. Masih muda dan gayanya lumayan. Yang jelas, sangat dateable. Namanya, Choi Minho. Tapi sikap otoriternya membuat Gweboon muak, ia disuruh menyelesaikan empat puluh soal trigonometri di hadapannya juga. Jelas ia tidak bisa mencontek apalagi minta dikerjakan orang lain (tadinya ia mau minta tolong kerjakan pada si culun-tapi-jenius Taemin yang sangat terobsesi padanya).

Choi Minho tidak bergerak sesenti pun dari posisinya yang sedang sibuk dengan buku tebalnya. Ia tidak bisa kabur. Padahal sudah jam setengah enam sore dan ponselnya terus-menerus bergetar—Lee Jinki penyebabnya tentu saja. Siahjussi menyebalkan itu pasti berpikir dirinya sedang bersenang-senang, pikirnya. Tapi ia juga tidak punya keberanian untuk menginterupsi minta mengangkat telepon barang lima menit.

Guru menyebalkan itu juga semakin otoriter karena tadi dia sudah menelepon pengacara Park, mengadukannya. Seharusnya ia mengiyakan saja saat Jinki itu menawarkannya membereskan masalah perwaliannya kemarin-kemarin, memindah-tangankan perwaliannya ke kekasihnya itu.

Aaargh! Gweboon semakin gila saat soal laknat itu masih bersisa tujuh soal lagi dan ia tidak bisa menyelesaikannya sama sekali!
-o0o-
Choi Minho menatap rumah di hadapannya dengan kagum. Semua orang korea tahu kalau rumah di depannya adalah rumah salah satu keturunan chaebol Lee. Dan siswinya ternyata salah satu bagian dari konglomerat itu, tapi Minho mengernyitkan keningnya.

“Bukankah margamu Kim?” tanyanya. Gweboon gelagapan, belum ada kenal baik padanya dan tahu rumah ‘baru’-nya. Choi Minho ini yang pertama. “S-sepupu. Aku sepupu dari Lee Jinki.”

Choi Minho mengangguk. “Oh.”

Gweboon baru menekan kenop saat Minho berbicara lagi. “Jangan lupa kau harus mengikuti bimbel matematika denganku mulai besok. Setiap hari. Kau harus sadar kalau ujian tinggal satu bulan lagi. Maka, jangan coba-coba kabur.”

Gweboon mengangguk sebal dan turun dari mobil SUV hitam itu. Tanpa menunggunya masuk pagar, mobil itu melaju pergi menghilang di tikungan. Dasar berengsek, kutuknya dalam hati.

Lalu didengarnya seseorang berdeham, jenis dehaman yang bukan karena batuk tapi jenis dehaman yang tujuannya untuk menyindir.

Gweboon menoleh dan melenguh. Lee Jinki berdiri di dekat pagar dengan wajah sangar dan alis menukik, dia jelas-jelas pasti melihat kalau Gweboon baru saja diantar pria. Dan hanya keajaiban saja kalau Jinki percaya bahwa Choi Minho adalah guru matematikanya, dan guru matematika itu pula yang menahan dia sampai malam.

Selesai masalah Choi Minho, ia baru ingat kalau ia masih ada satu masalah lagi: bernama Lee Jinki.
-o0o-
“…Kau mau aku percaya kalau ada guru laki-laki yang menahanmu di sekolah sampai jam tujuh malam?” Lee Jinki murka, sementara Gweboon yang sudah mengatakan yang sejujurnya cuma bisa pasrah dan diam.

Jinki yang dengan posisi memunggunginya terlihat tegang—otot punggungnya nampak tidak rileks. Napasnya juga memburu. Sampai suatu ide muncul di kepala Gweboon, gadis itu beranjak dan berdiri di hadapan Jinki.

Jinki menatapnya tajam sampai ia membelalak saat Gweboon memelorotkan roknya. Menurunkan celana dalamnya…

“Stop! Stop! Kau kira aku akan berhenti marah kalau kau berdiri telanjang di hadapanku?!”

Gweboon mendengus, “bukan! Dasar ahjussi mesum! Cuma ini cara agar kau percaya…. Kau berpikir aku melakukan yang tidak-tidak ‘kan?”

Gadis itu meraih jemari Jinki. Memegang telunjuknya dan mengarahkan ke daerah sensitifnya. Pria itu melotot saat telunjuknya perlahan namun pasti tenggelam dalam lubang kenikmatan itu. Penisnya lantas menegang saat Gweboon melontarkan desahan lirih, “ng-nggh..ngh….”

Gweboon berusaha bicara meski sulit. “K-kering kan?” gadis itu mengeluarkan telunjuknya dan menaruhnya di depan penciuman Jinki. “Tidak ada sperma kan?”

Meski pria itu sudah jelas-jelas terangsang, dia masih berusaha menggunakan logikanya. “Kau bisa saja melakukan anal sex.” Gweboon berdecak dan mengarahkan telunjuk pria itu ke duburnya. Menusukannya disana. “..A-aawh..h—hhh..” Jinki merasakan lubang itu kering, kering sekali malah.

Gweboon melepaskan telunjuk itu dan mendesah lega. “Terserah kau mau percaya atau tidak.”

Gadis itu hendak berbalik saat Jinki mendorongnya ke tembok. “Setelah menggodaku sebanyak itu, kau mau kemana?” Nadanya rendah dan seksi, meski masih ada terdengar sedikit emosi. Membuat Gweboon bergidik karena sensasinya.

Tahu-tahu Jinki membenamkan bibirnya ke bibir Gweboon. Mengecupnya lambat-lambat sampai pria itu mengulumnya rakus. Menciumnya penuh-penuh. Tidak menyisakan satu senti pun daerah bibir Gweboon yang tidak dijamahnya. Kedua tangannya merangkum pinggang ramping Gweboon. Dan dia mengecup bibir empuk itu puas saat Gweboon juga membalas ciumannya.
-o0o-
Jinki menghentakkan penisnya. “..e-enggh!” Gweboon mendesah mengeluh, vaginanya berdenyut-denyut karena itu.

Pria itu kembali mengeluar-masukkan penisnya secara tidak teratur, sesukanya; which is so his style. Mengundang erangan-erangan erotis dari keduanya. Kedua tangan Gweboon bertumpu pada dua lengan Jinki agar ia tetap stabil meski pria itu menggenjotnya semakin kuat dan cepat. Kedua kelamin itu bergesekkan semakin erat saat dirasakannya penis Jinki berdenyut-denyut. Pria itu akan mengalami orgasme.

Gweboon mengelap keringat di kening Jinki dan menyampirkan poninya yang sudah panjang. Pria itu menukikkan alisnya, keningnya mengkerut, merasakan sempit yang sangat di penisnya. Yang tentu saja itu hal yang sangat positif buat kelangsungan ‘hidup’ Lee Jinki junior.

Sadar kalau hari itu masa subur gadisnya, Jinki mengeluarkan penisnya dan menyemprotkan semennya di perut Gweboon. Sementara nikmatnya orgasme mengacak-acak akal sehatnya, ia mencium Gweboon dalam-dalam. Tangan mungil Gweboon berhenti di rahangnya, merasakan otot rahang Jinki yang bergerak-gerak maskulin—otot yang sedang digunakan mencium bibirnya.

Jinki menempelkan kening mereka berdua. “..Mianhae.” ia mengecup bibir itu lagi. Dia takkan pernah merasa puas dengan apapun yang berhubungan dengan Gweboon. Apapun itu.

“…Karena tidak percaya padamu.” Kecupnya lagi. Gweboon mengangguk dan memeluk Jinki. Merasakan feromon pria itu yang bercampur keringatnya, seksi.

Sementara Gweboon mengistirahatkan diri, Jinki melirik jam dinding. Baru pukul delapan malam. Satu ronde lagi tentu takkan mengganggu jam istirahat Gweboon. Pria itu menyeringai nakal dan menekan penisnya lagi ke tempat dimana dia seharusnya ‘bersarang’. Keduanya sontak mendesah.

Gweboon memukul ubun-ubun Jinki. “Dasar mesum!”

Jinki menyeringai dan mulai bergerak.
-o0o-
Gweboon menuruni tangga dengan tergesa-gesa, Jung ahjumma mengikuti nona mudanya juga dengan tergesa-gesa. Jelas saja, penyebabnya adalah Gweboon yang susah bangun tidur sehingga ia sudah benar-benar terlambat.

Dengan serampangan, gadis itu duduk di samping Jinki yang sedang santai menikmati kopinya. Napas gadis itu ngos-ngosan, tapi ia masih sempat mendelik ke arah Jinki. “Tidak usah sinis begitu. Semalam kau bahkan tidak menolak atau protes, bocah.” Jinki mengatakannya sembari menahan tawa.

Gweboon yang sedang mengunyah nasinya tidak menjawab apa-apa. Sementara Jung ahjummayang sedang mengikat rambut Gweboon justru merasa malu, ia mengerti apa yang dimaksud tuan mudanya dan merasa miris dengan moral anak bangsa zaman sekarang. Jung ahjumma tahu kalau mereka berdua melakukannya dengan cinta, tapi seharusnya keduanya sadar kalau apa yang mereka perbuat itu bukan hal yang terpuji.

Jung ahjumma tak lama membungkuk dan menyingkir dari pasangan itu. Meninggalkan ruang makan itu dengan hening dan tersisa mereka berdua.

Gweboon yang masih sebal dengan Lee Jinki langsung beranjak, merajuk. Namun tanpa disangka-sangka selangkangannya terasa amat ngilu dan betisnya pegal-pegal—Oleh-oleh dari Lee Jinki junior semalam.

“awh—“ Gadis itu meringis. Tubuhnya berdiri dengan tumpuan kaki yang menekuk, lemas.

Jinki sontak merasa khawatir. Tahu dengan pasti alasan kenapa Gweboon merasa sakit.  “Kau masih kuat berjalan?”

Kim Gweboon meringis kembali dan menggeleng.
-o0o-
Kim Gweboon mematikan televisi.

Tidak ada yang seru untuk ditonton. Di rumah juga tidak ada siapa-siapa, maksudnya Lee Jinki itu kan empat jam yang lalu sudah berangkat kerja. Kalau mengingat ekspresi pria itu yang nampak begitu khawatir padanya—saat tadi pagi—rasa-rasanya hatinya mendadak menghangat. Pria itu juga mengatakan dengan ekspresi bambi-nya, kalau ia tidak bisa mangkir dari pekerjaan karena bakal ada meeting penting saat makan siang. Tapi Lee Jinki berjanji akan segera pulang as soon as possible.

Gadis itu menatap majalah busana yang tergeletak di nakas dekat ranjang. Tiba-tiba ia mendapat ide untuk membunuh kebosanannya: belanja. Ia jadi ingat kalau ada sepatu yang ditaksirnya di Myeongdong, sontak saja senyumnya mengembang.

Lee Jinki? Dia sempat mengurungkan niatnya takut ketahuan ahjussi menyebalkan itu tapi dia bisa mati kebosanan! Lagipula sekarang masih jam sebelas siang, pria itu baru pulang jam empat paling cepat. Dan terlebih dia ada meeting saat makan siang ‘kan? Kemungkinan dia keluar kantor pasti kecil sekali!

Gweboon berganti pakaian dan mengulas bedak tipis. Ia meraih dompet dan ponsel, kemudian bergegas keluar dari kamarnya. Sesampainya di bawah, ia menghampiri Jung ahjumma.

“Ahjumma, aku mau jalan-jalan sebentar. Kalau Jinki telepon bilang saja aku sedang tidur.“

“Tapi agasshi, kalau tuan muda marah—“

Gweboon  tersenyum menenangkan asisten rumah tangga paruh baya itu. “Tidak akan! Kalau dia marah, aku yang tanggung jawab. Pokoknya sebisa mungkin jangan sampai dia tahu aku pergi keluar.”

“tapi—“

“Bosan sekali di rumah sendirian, ahjumma.Pokoknya aku janji akan pulang sebelum jam tiga sore, oke? Kim ahjussi, ayo panaskan mobilnya!”

Jung ahjumma cuma bisa menghela napas pasrah melihat nona mudanya melenggang meninggalkan rumah sembari melambai ceria ke arahnya.
-o0o-
Gweboon menenteng tiga paper-bag dengan wajah yang sumringah. Sakit di selangkangannya atau pegal-pegal di betisnya hilang dalam satu kedipan magis. Satu pasang sepatu dan dua potong kaus berhasil mengobati segala macam sakit yang dideritanya.

Gweboon memasuki mobil dengan ceria—tidak seperti saat dia turun mobil tadi. Gweboon menepuk pundak Kim ¬ahjussi. “Ayo kita pulang!”

Tadi Jung ahjumma menelepon kalau Lee Jinki itu menelepon ke rumah karena panggilan ke ponselnya tidak diangkat. Untungnya, pria itu percaya begitu saja saat Jung ahjummamengatakan Gweboon sedang tidur siang. Tidak biasanya. Tapi sudahlah, yang penting dia selamat dari omelan ahjussi itu.

Macet melanda kawasan Gangnam, bulir-bulir keringat menuruni dahinya akibat khawatir Lee Jinki itu sampai di rumah lebih dulu darinya. “agasshi, bagaimana kalau kita lewat jalan tikus saja? Memang agak kumuh, tapi setidaknya kita tidak terjebak macet dan terlambat sampai di rumah.”

Gweboon mengangguk mengiyakan begitu saja. Dan mobil sedannya bergerak ke sebuah jalan gelap dan kumuh, sampah dan gelandangan berserakan di lingkungan yang sama. Mobil sedannya menemukan jalan raya beberapa kilometer kemudian. Ia mendapati banyak love hotel yang berjejeran. Ia tak habis pikir bagaimana bisa mereka membangun hotel di kawasan kumuh macam ini.

Tapi… “ahjussi, berhenti!”

Kim ahjussi sontak berhenti dan wajahnya mendadak kaku. Aneh. “Ada apa, agasshi?”

“Bukankah itu sedan-nya Jinki?” Mereka berdua mengamati sebuah sedan mewah yang terparkir di pelataran salah satu hotel, dari plat nomornya keduanya yakin kalau itu adalah mobil Lee Jinki. Gweboon merasakan suatu firasat yang janggal, logika dan emosinya berkejar-kejaran tidak stabil. Pertanyaan pertanyaan mendesaki pikirannya. Bukankah Jinki bilang tadi ada meeting penting? Meeting penting tidak mungkin kan diselenggarakan di love hotel yang kumuh macam ini?

Waktu terus berlalu. Kim ahjussi sesekali menoleh ke arah Gweboon yang menatap hotel itu dengan pandangan kosong.

Gweboon lantas ingat bagaimana tadi kim ahjussi mendadak kaku dan gugup. Tiba-tiba ia mencetuskan pertanyaan. “ahjussi, apakah ahjussi yang mengantarkan Jinki pergi malam-malam beberapa hari yang lalu?”

Kim ahjussi berusaha jujur. “Ne.”

Gweboon merasakan genangan air mata merangsek dari kedua matanya. “Apakah tujuannya kesini? Kelove hotel ini?”

Kim ahjussi menunduk, bibirnya membisu. Matanya menatap Gweeboon dengan pandangan bersalah. Gweboon terisak, jadi Jinki mengkhianatinya?

Gweboon melontarkan pertanyaan lagi dengan sesenggukan. “Ap-apakah sering?”

Ahjussi tidak berani menatap wajahnya, tapi pria paruh baya itu mengangguk. Tangis Gweboon pecah, tapi rasa ingin-tahunya masih ada. “Se-sejak kapan?”

“enam bulan yang lalu.”

Kim Gweboon mengepalkan tangannya. E-enam bulan yang lalu? Saat itu adalah saat pertama kali Jinki melamarnya. Jadi si berengsek itu mengkhianatinya sekaligus melamarnya? Begitu? Ia benci mengingat selama ini ia percaya dengan segala sikap manis dan perhatian Jinki padanya. Ia harusnya sadar dan bertanya saat ia melihat kissmark sign beberapa hari yang lalu.

Di dunia ini memang tidak ada yang menginginkannya. Tidak ada yang mencintainya.

Harusnya dia tidak jatuh ke pelukan Jinki semudah itu. Ia sudah menyerahkan segalanya. Cinta, miliknya yang paling berharga—segalanya. Dan ini balasan Jinki untuknya?

Tanpa menunggu apa-apa lagi, Gweboon membuka suara. “Jalan, ahjussi—“

“—ke apartemenku.”

Wajah Gweeboon mengeras. “Dan jangan bicara pada siapapun soal keberadaanku.”

Tbc
Maaf typo bertebaran

FF / JINKIBUM / LITTLE BOY TEMPTATION / ONESHOOT / NC

​Lee Jinki

Kim Kibum

BRAK!!
Jinki terlonjak kaget di atas kursi kebesarannya saat seseorang dengan lancangnya masuk dan membanting pintu ruangan kantornya, dia sedang serius membaca sebuah berkas rencana kerja sama yang akan dilakukannya dengan perusahaan lain. Jinki menghela napas saat dilihatnya siapa pelaku yang mendobrak pintunya, seorang namja cantik sedang berdiri di tengah ruangan dengan wajah masamnya.

Jinki mengernyit, ada hal apa lagi yang membuat ekspersi itu bertengger di wajah cantik namja nya.

Jinki mengubah duduknya lebih santai dan mengendurkan ikatan dasi di lehernya, “Kau kenapa?”

Namja cantik itu semakin bersunggut mendengar pertanyaan Jinki, dengan langkah yang dihentak ia pun berjalan menghampiri Jinki. Berdiri di samping meja, Jinki memutar kursinya menghadap namja cantik itu dan mengulurkan tangannya,

“Kemari, baby.”

Namja cantik itu menyambut uluran tangan Jinki dan mendudukkan bokong indahnya di pangkuan Jinki, tangan Jinki sudah berpindah menyentuh pipi dan bibir itu dengan lembut. Mengelusnya seolah mencoba menghilangkan guratan di wajah itu.

“Katakan padaku kau kenapa lagi, hm?” Tanya Jinki lagi setelah beberapa menit berdiam diri.

Bukannya menjawab, Kim Kibum malah menatap Jinki dengan sedih.

“Baby?!?!”

“Apa kau mencintaiku?” Sela Kibum cepat,

“Tentu saja, jika aku tidak mencintaimu aku tidak akan menjadikanmu milikku.” Jawab Jinki lembut.

“Ayo bercinta!”

“APA??” Jinki tersedak air liurnya mendengar apa yang namja cantik nya ucapkan, ia terbatuk-batuk.

“Kau bilang mencintaiku, aku juga. Ayo bercinta! Kita sudah hampir satu tahun bertunangan, kan?”

Jinki memicingkan matanya, “Siapa yang mengajarimu tentang itu?”

“Teman kampusku.” Jawabnya polos.

“Apa kau tahu apa arti bercinta itu??”

Kibum mengangguk girang, “Nicole bilang, bercinta adalah kegiatan yang dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai. Oh, dia juga bilang bercinta adalah menyatukan dua tubuh menjadi satu.”

Kibum kembali berpikir, “Aku tidak tahu apa arti menyatukan tubuh.” Suaranya mengecil dengan dahi mengkerut, “Mungkin seperti ini.” Jawabnya sambil menempelkan tubuhnya dengan Jinki dan memeluknya erat.

Jinki menghela napas gusar, “Baby, bercinta bukan hanya sekedar menempelkan tubuh, tapi juga…” Jinki menghentikan perkataannya, sialan kau Lee Jinki, kau hampir mengotori pikiran namja cantik mu dengan mulut laknatmu ini.

Kibum melepaskan pelukannya, “Benarkah? Lalu, bagaimana caranya? Ayoo lakukan!”

“Tidak. Kita tidak akan melakukannya!”

“Kenapa??”

“Karena kita belum menikah, aku tidak mau mengotorimu.” Ucap Jinki frustasi, Tuhaan godaan macam apa lagi ini. Namja cantik yang polos ini memang tidak bisa ditebak.

“Mengotoriku? Apa bercinta seperti bermain lumpur? Jika kau takut mengotoriku, kita bisa mandi bersama.” Tubuh Jinki menegang hanya mendengar ucapan polos dari namja cantik nya, tiba-tiba bayangan mereka mandi bersama melintas di otaknya.

“Tidak tidak!!” Jinki menggelengkan kepalanya gusar, menghela napas untuk mengontrol dirinya.

“Kita akan melakukannya setelah resmi menjadi suami istri.”

“Tidak mau, itu terlalu lama. Aku mau melakukannya disini, sekaraang.”

Disini? Sekarang? Oh Kibum ku yang manis, kau sangat tahu bagaimana cara membangunkan singa yang tengah terlelap.

“Tidak, Baby. Tidak!!”

“Kenapaaa?? Bahkan teman-temanku melakukannya sebelum menikah, mereka hanya berpacaran tapi sering melakukannya. Sedangkan kita sudah bertunangan tapi belum melakukannya sekali pun, ayo lakukan Oldman.”

Jinki hanya diam dengan wajah marahnya selama beberapa menit.

“Dubuuuu..” suara Kibum lirih, air mata sudah merebak di pelupuk matanya.
“Tidak!” Putusnya tegas.

Setetes air mata berhasil meluncur di pipi mulus Kibum, dia ditolak. Ini memalukan.

“Hiks, aku membencimu.” Isakan itu terdengar bersamaan dengan namja cantik itu bangkit dari pangkuan Jinki dan berlari menuju pintu, tak lupa ia juga membanting pintu itu sekuat tenaga membuat sang sekertaris yang sedang berkutat dengan komputernya refleks berjongkok di bawah meja kerjanya. Ia mengintip dan melihat Kibum keluar dari ruangan bosnya sambil menangis.

“Mereka kenapa lagi? Huft untung saja, oh jantungku. Kau baik-baik saja, kan? Selamat selamat.” Jongin; sekertaris pribadi Jinki mengelus-elus dadanya lega.

Sedangkan Jinki, ia menghela napasnya dan menyandarkan tubuhnya pada penyangga kursi. Dia harus mencari tahu siapa orang yang meracuni otak namja cantik nya, jika dibiarkan ia tidak akan bisa menahannya lagi. Jinki memijat pelipisnya dan terpejam.

*

*

*

*

Sore harinya Jinki langsung meluncur ke rumah kediaman Kibum untuk mengecek keadaan namja cantik itu, ia harus menanyakan hal ini pada seseorang. Jinki kembali menambah kecepatan laju SUVnya.

Lima belas menit kemudian ia sudah sampai di sebuah rumah minimalis yang elegan, jarak dari kantor ke rumah ini memakan waktu dua puluh lima menit dan Jinki sudah sampai sepuluh menit lebih awal berkat kemampuan menyetirnya.

Ia memarkirkan mobilnya di belakang mobil sport berwarna kuning, ia tersenyum sinis melihat mobil itu. Ternyata pemiliknya sedang ada di rumah, bagus.

Jinki keluar dan berjalan angkuh menuju pintu utama, memencet bel dalam hitungan ke delapan seorang pelayan membukakan pintu untuknya.

“Selamat sore Tuan muda Lee,” pelayan itu menunduk hormat.

“Apa  Kibum  di rumah?” Tanyanya sopan.

“Ne Tuan,  ada di kamarnya.” Jinki langsung mengayunkan langkah lebarnya ke lantai dua, dapat ia rasakan seseorang menatapnya tajam dari arah dapur, Jinki tak memperdulikan tatapan itu.
Jinki sudah sampai di depan pintu kamar namja cantik nya, mengetuk pintu beberapa kali hingga dua menit ia menunggu tapi tak mendapat jawaban dari sang pemilik kamar. Jinki memutuskan membuka pintu itu, ia berhenti di depan pintu sejenak dan menatap seorang namja cantik yang sedang meringkuk seperti janin dalam kandungan tengah tertidur pulas.

Ia menutup pintu dan melangkah hati-hati, mendudukkan bokongnya di samping  Kibum dan memperhatikannya. Matanya bengkak dengan hidung memerah dan jejak bekas air mata yang setengah mengering di pipinya, pasti Kibum menangis dengan waktu yang lama hingga ia kelelahan dan tertidur. Bahkan Kibum  tidak memeluk boneka yang diberikan oleh Jinki, ia lebih memilih memeluk gulingnya dan membiarkan boneka itu tergeletak di lantai begitu saja. sebegitu marah kah Kibum padanya? Tentu saja, siapapun pasti kecewa karena ditolak. Jinki meringis.

Jinki mengelus rambut Kibum dan menghapus jejak air mata yang tersisa, “Maafkan aku, baby, kau pasti sangat kecewa aku menolakmu. Aku sungguh ingin,” Sangat bisik batinnya, “Tapi tidak sekarang.”

Jinki mengecup kepala Kibum dan menghirup wangi dari sampo yang digunakan Kibum, wanginya seperti bayi. Lalu mengecup kening dan pipinya, ia bangkit menyelimuti Kibum dan meraih boneka itu, meletakkannya di samping Kibum. Jinki memutuskan untuk pergi dan menemui seseorang yang telah menunggunya sedari tadi.

Jinki langsung duduk di samping Jonghyun yang sedang menonton TV, dia yakin pria itu tidak benar-benar memperhatikan acara komedi yang sedang berlangsung. Mana ada orang menonton acara komedi tanpa tertawa sedikit pun, Jinki tertawa sinis.

“Langsung saja, apa yang kau lakukan pada adik kesayanganku?” Cecarnya.

“Aku tidak melakukan apa-apa.” Jawab Jinki santai.

“Tidak mungkin kau tidak melakukan apapun hingga membuatnya pulang sambil menangis, ia bahkan menelponku tanpa bisa mengendalikan tangisannya. Aku langsung berlari meninggalkan jadwal latihanku bersama Bangtan karena khawatir terjadi sesuatu padanya, ia bahkan baru bisa berhenti menangis setengah jam yang lalu, tidak mungkin tidak ada yang terjadi diantara kalian.” Sinisnya, Jonghyun adalah seorang koreograper terkenal.
Jinki meringis mendengar itu, “Kau tahu, dia mengajakku bercinta.” Ucap Jinku pelan, tatapannya menerawang ke depan.

“MWO???” Jonghyun langsung menghadap Jinki dengan wajah superkagetnya, adiknya yang polos mengajak kekasihnya bercinta? Itu tidak mungkin!
“Jangan bercanda, Lee Jinki! Mana mungkin adikku melakukan itu!?”

“Aku serius, Jong. Kupikir kau yang mengajarinya.”
“Jinki-ah  aku tidak mungkin menjerumuskan adikku ke lubang yang salah.”
“Aku harus mencari tahu siapa teman wanita yang mengajarinya bicara seperti itu.” Jonghyun mengangguk setuju. Dan mereka tahu siapa orang yang akan mereka cari, Lee Taemin; sahabat Kim Kibum.

*

*

*

*

“Aku benar-benar tidak tahu, Hyung! Sungguh.”

Ucap seorang namja yang sedang diintrogasi oleh dua orang namja tampan, dia sudah seperti seseorang yang tertangkap basah telah membunuh hingga diintrogasi dengan dua namja dewasa yang menyeramkan ini; menurutnya.
“Sudah katakan saja, Taemin-ya. Kau tidak mungkin tidak mengetahuinya, kalian berdua kan seperti surat dan prangko yang selalu menempel sejak kecil.” Ucap Jonghyun, Jonghyun langsung menutup mulutnya setelah mendapat tatapan tajam dari Jinki.
“Aku serius, Hyung. Bahkan sudah seminggu ini Kibum tak menemuiku, terakhir kami pergi bersama itu tiga hari yang lalu. Dia mengatakan bahwa ia memiliki teman baru.”
“Siapa teman barunya, kau tahu?” Tanya Jinki.

“Mmhh, biar kuingat.” Taemin berpikir sejenak, tiga hari lalu memang ia pergi bersama Kibum dan  Kibum menceritakan pengalamannya bertemu dengan teman wanita barunya, Kibum sangat senang karena dari kecil ia hanya memiliki Taemin sebagai sahabatnya.

“Emmh.. Namanyaa.. Jung..Jung apa ya?”

“Jung Nicole.” Sela Jinki.

“Aaah.Jung Nicole! Kau benar Hyung. Eiyy, kalau kau sudah tahu kenapa malah bertanya padaku,Hyung.” Kesal Taemin  saat ia menyadari Jinki lah yang menyela ucapannya.
“Aku tidak tahu nama lengkapnya maka aku bertanya padamu, apa kau tahu gadis seperti apa dia? Sudah pasti dia bukan gadis baik-baik karena telah meracuni Kibum ku dengan pikiran kotor.” Desis Jinki. Taemin meringis mendengar desisan Jinki yang baginya seperti desisan suara gaib.

“Aku tidak tahu, aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Dengar namanya saja baru.”

“Hey sobat, kau kutugaskan untuk menjaga adikku lebih ketat. Kau tidak mau melihat raja hutan mengamuk, kan?” Jonghyun merangkul bahu Taemin dan melirik Jinki saat ia menekan kata ‘raja hutan’. Taemin bergidig ngeri.

Jinki tak memperdulikan mereka, ia merogoh ponsel di sakunya untuk menghubungi seseorang.

“Yeoboseyo, Boss?” Sahut seseorang di seberang sana.
“Jongin-ya, cari tahu semua tentang gadis bernama Jung Nicole. Kuberi kau waktu satu jam dari sekarang.”
“Bosss?? Apa kau berencana selingkuh dari Kibum? Apa hal ini yang membuatnya menangis setelah bertemu denganmu? Jadi Kibum  mengetahui kelakuan bejatmu di belakangnya? Bos, jika kau berniat menyakitinya lebih baik kau berikan saja Kibum padaku, aku berjanji akan menyayanginya sepenuh ha—“
“Bicara apa kau? Kau ingin kupecat rupanya, waktumu tiga puluh menit lagi.” Jinki mematikan panggilannya tanpa mendengar jawaban dari Jongin, wajahnya merah padam menahan marah. Sekertarisnya itu memang selalu membuatnya kesal.

Sedangkan Jongin yang berada di balik meja kerjanya masih sibuk menempelkan ponsel di telinganya dan memanggil-manggil bosnya. “Boooss?? Boosss? Halo??” Tak ada sahutan.

Ia melihat layar ponselnya, “Aish dimatikan, apa aku salah lagi?” Herannya. Jongin menggaruk kepalanya dengan alis mengernyit

Taemin yang melihat wajah kesal Jinki itu langsung mengapit lengan Jonghyun dan bersembunyi di baliknya.

“Yak, apa yang kau lakukan?”
“Hyung, sebenarnya makhluk seperti apa yang adikmu kencani. Dia tampan tapi seperti malaikat pencabut nyawa.” Bisiknya, “Aku jadi merinding, hiiiiih.” Taemin bergidig ngeri sedangkan Jonghyun hanya mengedikkan bahunya acuh.

*

*

*

“Jung Nicole, putri dari pengusaha tekstil yang sedang berjaya; J Textile Company, dia adalah senior Kibum di K-arts Korean National University of arts. Gadis itu terkenal karena pergaulannya yang bebas karena dia pernah tinggal di Amerika selama setahun sebelum akhirnya pulang ke Korea, dia juga sering mencari gadis kaya untuk dijadikan teman dan memanfaatkan uang mereka.”

“Gadis itu menyeramkan, dia sering melakukan pesta seks dengan teman-teman baratnya. Kasihan sekali orang tuanya yang tidak tahu kelakukan menyimpang anaknya.”

“Boss, kau tidak benar-benar akan meninggalkan Kibum demi gadis sepertinya, kan?”
“Tidak akan.” Jinki mematikan sambungan telponnya dengan Jongin saat melihat orang yang ditunggunya datang, mana mungkin ia meninggalkan namja polosnya hanya untuk jalang seperti itu. Seorang gadis dengan dandanan  glamor menghampirinya. Disinilah dia sekarang, duduk dengan santai di salah satu meja di café mewah sambil menatap tajam gadis itu.

“Apa kau Lee Jinki?” Ucap gadis itu berbinar saat ia tahu orang yang ingin bertemu dengannya adalah pria yang sangat tampan dan sepertinya juga sangat kaya dilihat dari penampilannya, Jinki memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.

“Duduklah Nona.” senyumnya

Gadis itu tersenyum dan duduk di hadapan Jinki,

“Kau Jung Nicole?”

Nicole semakin berbinar saat pria itu menyebut namanya, “Ne.” angguknya.
“Kudengar, kau adalah teman dekat Kim  kibum?”

“Kim Kibum?? Oh, namja bodoh itu?” Jinki mengepalkan tangannya saat gadis itu menghina Kibum.

“Aaahh.. kurasa namja itu hanya pura-pura polos, mana ada namja berusia Sembilan belas tahun tidak mengerti tentang seks. Itu mustahil, bukan? Tapi, namja itu benar-benar kaya. Baru kali ini aku bertemu namja bodoh sepertinya.”

“Benarkah?” tanpa melakukan apapun Jinki bisa mengetahui sifat gadis ini yang sangat terbuka dan dengan senang hati menujukkan ketidaksukaannya pada Kibum. Tipe wanita yang banyak bicara.

“E’em,” gadis itu mengangguk. “Dia bahkan menangis saat tunangannya menolak bercinta dengannya, ahahaha tentu saja. aku yakin tunangannya menolaknya karena dia tidak mungkin meniduri anak kecil bodoh sepertinya, aku saja sebagai wanita tak bergairah saat melihatnya apa lagi laki-laki.” Nicole tersenyum sinis.
“Sayangnya aku adalah laki-laki itu.” Ucap Jinki sinis. Ia sudah tak tahan mendengar hinaan yang ditujukan pada Kibum tercintanya.

“Ne? jadi, kau adalah tunangan Kim Kibum? Aaah aku tahu, kau pasti berniat meninggalkan namja itu, kan? Tuan, kau datang pada gadis yang tepat, aku bisa memuaskanmu lebih dari  siapapum.” Ucap Nicole menggoda sambil mengerlingkan matanya pada Jinki.

Jinki tertawa sinis, “Pria bodoh mana yang mau meninggalkan namja berharganya hanya demi jalang sepertimu.” Geram Jinki.

Nicole sedikit tertegun mendengarnya sebelum akhirnya ia tertawa sinis, “Laki-laki bodoh mana yang bisa menolak wanita seksi sepertiku.” Sombongnya.

“Ya, tentu. Karena hanya sampah yang pantas mengeluarkan cairannya pada wanita jalang sepertimu.”

Nicole mengeratkan giginya, ia marah direndahkan seperti ini. “Apa maumu sebenarnya memanggilku?”

“Hanya satu, jangan ganggu Kibum lagi atau aku akan membuat keluargamu jatuh miskin.” Ancam Jinki.

Nicole mengangakan mulutnya mendengarkan ancaman Jinki.

“Kau masih ingin hidup bergelimang harta, bukan?”

“Namja sialan.” Nicole bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Jinki dengan emosi yang memuncak. Ia sedikit tahu tentang Lee Jinki, pengusaha muda yang terkenal dan tak segan menghancurkan perusahaan kecil seperti perusahaan milik ayahnya jika perusahaan itu berurusan dengannya.

Jinki menghela napasnya setelah gadis itu pergi, semua masalah telah selesai. Tibalah saatnya ia membujuk Kibum nya agar kembali ceria dan bermanja dengannya lagi.

*

*

*

*

Cuaca hari ini cukup panas, Kibum baru saja keluar dari kelasnya. Kelasnya hari ini sangat membosankan, kali ini professor Jeon menerangkan sejarah seni . Kibum berjalan menuju kantin, dia berniat menghabiskan waktu menunggu jam mata kuliah selanjutnya dengan berdiam diri di kantin.

“Haaah.” Kibum menghela napasnya lirih, sudah tiga hari dia dan Jinki tidak berkomunikasi. Pria itu juga tidak menemuinya,dasar tidak berperasaan rutuknya dalam hati.

Di lorong cukup ramai mahasiswa berlalu lalang, Kibum tak memperdulikan sekitarnya hingga tiba-tiba seseorang menabraknya hingga tas selempang penuh coretan catnya jatuh mengeluarkan semua isi yang terdapat di dalamnya karena Kibum itu lupa menutup zippernya.

Kibum berjongkok dan memasukkan barang-barangnya satu persatu, “Mianhae. Aku tak sengaja.” Seorang namja ikut berjongkok dan membantu  Kibum mengemasi barang-barangnya yang ternyata namja itulah sang pelaku penabrak.
Kibum tak memeperdulikannya, dia hanya terus memasukkan alat-alat lukisnya ke dalam tas cokelat besar penuh noda cat itu. Setelah semua barangnya kembali pada tempatnya,  Kibum bangkit dan melanjutkan perjalanannya.

Namja itu menatap punggung Kibum yang berlalu, dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan namja cantik itu? Bahkan namja cantik itu tak protes atau mengatakan sesuatu padanya, malah sepertinya ia tidak sadar mereka baru saja bertabrakan beberapa waktu lalu.

*

*

*

*

Sudah satu jam Kibum  mendaratkan kepalanya di atas salah satu meja yang berada di kantin, untung saja ia memilih meja yang berada di pojok hingga tak menimbulkan perhatian disana. Matanya terpejam, sepertinya ia tidur.

Namja tampan itu memutuskan menghampiri namja cantik yang sedang tertidur itu setelah beberapa menit memperhatikannya dari jauh, ia duduk di sampingnya, meletakkan sekotak pepero di meja dan melakukan hal yang sama dengan namja cantik itu. Wajah mereka berhadapan, namja tampan itu memperhatikan wajah damai yang terpejam dengan mulut sedikit terbuka itu dari jarak yang cukup dekat. Cantik, batinnya. Sesekali senyum terulas di wajahnya.

Setelah cukup puas, namja tampan itu mengetuk beberapa kali meja kayu itu tanpa merubah posisinya. Kibum yang tertidur itu terusik dan mengernyitkan dahinya, perlahan matanya mulai mengerjap. Dan saat  Kibum membuka matanya, terpampanglah wajah namja asing tengah tersenyum padanya. Kibum mengerjap beberapa kali, ia merasa sedang memimpikan wajah pria tampan selain kekasihnya.

Mereka saling menatap cukup lama, setelah seluruh nyawanya terkumpul dan Kibum meyakini ia memang tidak sedang bermimpi pria tampan. Akhirnya ia mengeluarkan suaranya tanpa perubahan posisi dari keduanya.

“Nugu..seyo?” Ucapnya pelan, namja tampan itu tersenyum mendengar suara Kibum. Suaranya sangat lembut batinnya.
Namja tampan itu mengangkat kepalanya diikuti oleh Kibum, “Kenalkan, aku Choi Minho.” Namja tampan yang mengaku Choi Minho itu mengulurkan tangannya pada Kibum, namja cantik itu hanya menatap tangan itu tanpa menjabatnya.

“Eemm..” Minho menggaruk rambut belakangnya karena tak mendapat respon dari Kibum, “Aku adalah orang yang menabrakmu di lorong satu jam yang lalu. Kau ingat?” Minho mencoba menjelaskan pertemuan pertama mereka yang tak disengaja.

Kibum terdiam lalu memanyunkan bibirnya, kebiasaannya saat berpikir. Kawaii batin Minho bersorak.
“Benarkah?” Tanyanya.

Seperti dugaannya, naamja cantik ini tak menyadarinya. Minho mengangguk lalu meraih sekotak pepero rasa Vanilla black cookie pada Kibum, “Ini, sebagai permintaan maafku padamu. Aku tidak tahu kau menyukainya atau tidak, ” Cengirnya.

“Oh ya, kau tak alergi cokelat kan?”

Kibum menerima pepero itu, “Aku suka.Kamsahamnida.” Tunduknya sopan.
Minho tersenyum senang mendengarnya.

Kibum langsung membuka bungkus pepero itu, ia mulai memasukkan satu stik pepero ke mulutnya. Mengunyahnya dengan santai.

“Eemmm, kalau aku boleh tahu.. namamu siapa?”

“Kim Kibum imnida.” Ucap Kibum dengan mulut penuh.
Manis sekali , seperti anak kecil . Minho tersenyum.
“Nama yang cantik.” Persis yang punya tambahnya dalam hati.
Kibum menyodorkan pepero itu pada Minho, Minho menerimanya dengan senang hati. Mereka pun berbagi pepero bersama.

*

*

*

*

Kbum baru saja keluar dari minimarket dengan sekantong plastik berukuran sedang, ia ingin meyeberang ke kampusnya untuk menemui Taemin. Hari ini mereka ada janji untuk pulang bersama.

Setelah memastikan jalanan aman untuk diseberangi, Kibum pun mulai melangkahkan kakinya perlahan. Dia hampir sampai di tengah jalan, tetapi tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang dari arah kanan. Kibum tak menyadarinya sampai mobil itu membunyikan klaksonnya nyaring.

TIIIIIIIT!!!! TIIIIIIIIITTTT!!!!
Kibum menoleh, namja cantik itu terkejut. Tiba-tiba ia merasakan tangannya ditarik seseorang dengan sangat kuat, tubuhnya membentur tubuh seseorang yang menariknya yang ia yakini seorang namja karena wangi maskulin yang menguar dari dada itu.

Kantong plastik dan tasnya terjatuh di pinggir jalan, Kibum masih belum sadar dari keterkejutannya. Ia merasakan kehangatan karena orang yang menariknya memeluknya erat. Orang itu melepaskan pelukannya, tangannya berpindah ke dua sisi bahu Kibum. Choi Minho?

“Kibum, kau baik-baik saja?” Kibum hanya menatap Minho dengan napas tersengal, namja cantik itu masih syok.

Di jarak yang tak jauh dari posisi Kibum dan Minho, seorang namja tampan berdiri di samping SUV hitam kelatnya dengan tatapan tajam dan tangan mengepal kuat; Lee Jinki. Ia berencana menjemput Kibum di kampus untuk mengajaknya makan malam berdua, dia akan meminta maaf dan membujuk Kibum agar tidak marah lagi padanya. Karena tiga hari belakangan Jinki cukup sibuk dengan proyek baru perusahaannya.

Jinki hendak menghampiri Kibum saat Kibum telah menyeberang, ia juga tak menyadari ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arah Kibum. Jinki langsung keluar dari mobil saat melihat mobil itu tepat berada di depan mobilnya. Astaga, dia hampir kehilangan Kibum nya jika seseorang tak menggantikannya menyelamatkan Kibum.

Jinki mengayunkan langkah lebarnya menghampiri Kibum, Minho sedang mengambil tas dan kantong belanjaan Kibum saat Jinki sampai di tempat mereka. Minho mengulurkan tangannya memberikan barang-barang Kibum  yang disambut oleh tangan besar Jinki, Minho mendongak melihat Jinki.

Jinki menggenggam tangan Kibum dan menariknya pergi, Kibum menoleh, “Jinki hyung?!” Kibum sedikit terkejut mendapati Jinki berada disini.
“Kita pulang.” Bisik Jinki. Mereka pun pergi meninggalkan Minho tanpa berkata apa-apa yang memandangi mereka dengan kebingungan yang tergambar jelas di wajah tampannya.

Sedangkan di tempat lain, Taemin sedang menjambak rambutnya dengan wajah frustasi. Ia juga berlari kencang saat melihat Kibum hampir tertabrak, ia bernapas lega saat seseorang yang ia kenal telah menyelamatkan sahabat nya. Kemudian syaraf-syaraf di tubuhnya menegang saat melihat Jinki dengan wajah tampan pencabut nyawanya menghampiri Kibum dan Minho, Taemin khawatir Jinki akan menghajar wajah tampan Minho karena Minho memeluk sahabatnya cukup lama.

Taemin kaget bukan main saat melihat mobil Jinki terparkir di depan kampusnya, “Oh Tuhan, jantungku serasa mau copot saat melihat mereka bertiga. Untunglah tak terjadi baku hantam dan pertumpahan darah disini, aku tidak mau jika di kampusku ada hantu gentayangan nantinya. Untung saja, terima kasih Tuhan karena telah melindungi wajah tampan Minho Hyung.” Ucapnya berlebihan sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan yang menengadah ke atas sebelumnya, Taemin bergidig membayangkannya. Tidak berlebihan jika Jinki yang melakukannya, pria berwajah tampan pencabut nyawa menurut Taemin itu bisa melakukan apa saja yang tak pernah terpikirkan oleh orang awam. Apapun akan terjadi jika itu menyangkut Kibum dan Jinki berada di lokasi yang sama.

*

*

*

*

Selama perjalanan pulang yang memakan waktu tiga puluh menit ini tak ada yang membuka suara, baik Jinki maupun Kibum terdiam dalam pikiran masing-masing hingga mereka sampai di depan rumah kediaman keluarga Kim. Jinki turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Kibum, mengambil barang-barang Kibum itu di jok belakang. Jinki kembali menggenggam tangan Kibum erat dan membawa nya itu masuk ke dalam rumah.

“Selamat datang Tuan muda.” Mereka berdua disambut oleh Son Ahjumma.

Jinki mengangguk sopan sedangkan Kibum masih saja menundukkan kepalanya sejak keluar dari mobil.

“Apa Abeonim dan Eomonim ada di rumah?” Tanya Jinki.
“Ne, Tuan muda. Nyonya sedang mempersiapkan makan malam dan Tuan besar sedang menonton TV bersama Tuan muda Jonghyun.” Terang ajhuma.

Jinki mengangguk, ia kembali melangkahkan kakinya memasuki rumah.

“Oh, kalian sudah pulang?” Sapa seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dari meja makan, Na Sohyun; Nyonya Kim menghampiri Jinki dan Kibum. Jinki membungkuk hormat, Nyonya Kim mencium Kibum dan mengelus pundak Jinki sayang.

“Pergilah, Appa dan Jonghyun sedang bersantai.” Senyum Nyonya Kim.
“Ne, Eomonim.” Jinki membungkuk, setelah itu ia kembali melanjutkan langkahnya. Jinki menghampiri Tuan Kim dan Jonghyun yang sedang menonton acara komedi, sesekali tawa terdengar dari pasangan ayah dan anak itu.
“Selamat sore, Abeonim, Jonghyun.” Sapa Jinki.
Tuan Kim dan Jonghyun menoleh, “Oh Kibum dan menantuku sudah pulang.” Jinki membungkuk.

“Kemari, sayang.” Tuan Kim merentangkan tangannya untuk memeluk Kibum, Kibum mencium ayahnya dan kakaknya bergantian.

“Abeonim, kami pamit dulu.” Izin Jinki.
“Oh, ya, tentu. Silakan selesaikan urusan kalian.” Setelah mendapat izin dari Tuan Kim, Jinki membungkuk.
Jinki menutup pintu setelah mereka sampai di kamar Kibum, meletakkan barang-barang  Kibum di atas sofa dan kembali berdiri di hadapan Kibum yang terus menunduk. Jinki memperhatikan Kibum, Kibum bahkan belum mengeluarkan suaranya sejak tadi.

Jinki maju satu langkah, menggapai dagu Kibum agar mendongak dan langsung mencium bibir itu cepat. Jinki melakukannya sangat cepat sampai Kibum tak sempat untuk menghirup oksigen. Tangan Jinki sudah berpindah ke tengkuk Kibum, sebelahnya lagi ia gunakan untuk memeluk Kibum. Tangan Kibum berpegangan pada jas depan Jinki, Jinki semakin menundukkan kepalanya dan memperdalam ciumannya. Tangannya mengelus dan memijat tengkuk Kibum dengan gerakan pelan.

Jinki melumat bibir bawah Kibum dengan pelan dan dalam, setelah dirasa Kibum butuh bernapas, Jinki melepaskan ciumannya. Napas mereka tersengal, Jinki menyatukan dahi mereka. Jinki terus memandangi Kibum yang terpejam.

Perlahan Jinki mulai memajukan wajahnya dan mengapit bibir bawah Kibum yang terbuka, Jinki mengangkat tubuh mungil Kibum hingga kaki Kibum berpijak di atas kaki Jinki. Tangan kirinya berada di bawah bokong Kibum agar Kibum semakin sejajar dengannya, Jinki berjalan ke meja belajar Kibum dan mendudukkan nya disana. Terdengar beberapa benda terjatuh akibatnya, Jinki semakin memperdalam ciuman mereka. Kibum mulai hanyut dalam ciuman itu tanpa sadar ia membuka mulutnya yang langsung disambut lidah hangat milik Lee Jinki.

Sebelah tangan Kibum berpegangan pada jas Jinki dan satunya lagi berpegangan pada meja, Jinki berdiri diantara kaki Kibum sambil memeluk nya. Ciuman mereka menyiratkan kerinduan masing-masing, memang mereka sering berciuman tapi tak pernah sehebat ini. Jinki hampir kehilangan kendalinya saat dirasanya kedua kaki Kibum mengapitnya, Jinki mengerang dalam ciumannya.

Kedua tangan Kibum sudah mengalung di leher Jinki, Jinki melepaskan ciumannya dan pandangan mereka bertemu. Mereka saling menatap dan terengah, pikiran Jinki kembali pada beberapa saat yang lalu. Dia hampir saja kehilangan Kibum nya, Jinki terpejam. Ia mengecup bibir Kibum berkali-kali, kecupan itu tertahan lama, siapa namja yang menolong Kibum? Apa mereka saling mengenal? Jinki kembali teringat dengan raut wajah namja itu setelah berhasil mendapatkan Kibum dalam pelukan, terlihat lega dan khawatir. Yak,  Lee Jinki! Seharusnya kau berterima kasih karena namja  itu Kibum sekarang baik-baik saja dan sedang berciuman panas denganmu!

Sial! Umpat Jinki dalam hati.
Jinki kembali melumat bibir bawah dan atas Kibum bergantian, pelukannya semakin erat. Kaitan kaki Kibum pada pinggang Jinki mengerat saat ia merasa tubuhnya kembali terangkat, Jinki menggendong Kibum dan mendudukkan bokongnya di kasur empuk milik Kibum dengan Kibum berada di pangkuannya.

Kibum menelusupkan tangannya pada surai kecokelatan Jinki, tubuhnya terasa bergerak sendiri seirama dengan tangan Jinki yang mengelus punggungnya teratur. Kepala mereka bergerak kanan kiri mencari kenyamanan pada setiap lumatan keduanya.

Tangan kanan Jinki mulai turun dan meraba kulit paha Kibum, kulit itu terasa sangat lembut di bawah tangan kasarnya. Perlahan tapi pasti tangan Jinki semakin dalam mengelus dan meraba kaki indah Kibum.

“Aku merestui kalian!”

“Tapi dengan syarat!” Ucap seorang namja berahang tegas, mereka baru saja melakukan pertemuan keluarga. Hari ini 20 Mei, keluarga Lee dan keluarga Kim melakukan acara makan malam dalam rangka rencana pertunangan yang akan dilakukan putra  mereka satu minggu lagi.

Jinki menoleh, “Apa?” Tanyanya.

Jinki dan Jonghyun sedang bersantai di taman belakang rumah keluarga Kim untuk membahas hal penting sesama namja tampan; itulah yang diucapkan Jonghyun sebagai tanda pamit pada keluarganya, dia merasa harus melakukan hal ini sebagai seorang kakak yang baik, mereka duduk di bangku taman sambil menikmati hamparan bintang di atas langit Seoul.

Jonghyun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi taman, kakinya terbuka lebar dengan kedua tangan bertaut diantaranya, “Kau boleh menciumnya, peluk sudah tentu.”

“Tapi kau harus ingat.” Jonghyun menghentikan ucapannya dan menatap Jinki yang tengah menatapnya, “Jangan bercumbu apalagi bercinta dengannya. Kau hanya boleh mencium di area wajah dan punggung tangannya.. Kalian bisa melakukannya setelah menikah nanti dan aku tidak akan protes.”

Jinki tertawa sinis mendengar itu. Rupanya calon kakak iparnya ini sedang mencoba jadi seorang kakak yang baik, eoh? Memberi wejangan pada calon suami adiknya? Meski terdengar ‘sedikit’ vulgar tapi itu memang wajar, dilihat dari segi manapun adik iparnya ini tetaplah pria dewasa. mereka adalah sahabat sejak SMA. Pastinya sudah hafal tabiat masing-masing seperti apa.

“Kau tahu kan betapa berharganya Kibum bagiku dan keluargaku. Dia adik kesayanganku.”

“Baiklaah.” Jinki ikut menyandarkan punggungnya dan menatap langit.

“Kau harus berjanji, Lee Jinki. Tahan hasratmu, dan tepati janjimu.”

“Geurae.”

Jonghyun tersenyum sinis, “Kau tak tahu siapa yang akan kau hadapi, adikku mampu merobohkan tembok besar Cina dengan kepolosannya”. Jonghyun menyeringai.

Seakan tersengat listrik tiba-tiba percakapannya dengan kakak ipar sialannya itu masuk dalam otak Jinki, bagai kejatuhan bom atom, ucapan Jonghyun satu tahun lalu terpampang jelas di benaknya. Jinki menghentikan semua kegiatannya dengan serempak membuat Kibum membuka matanya dan menatapnya heran.Apa sudah berakhir? Pikirnya.
Jonghyun benar,  Kibum mampu merobohkan tembok Cina sekaligus, bahkan dia hampir menghancurkan pertahanan Jinki tanpa sisa. Ya. Dan Kibum benar-benar melakukannya sekarang. Hampir saja Jinki mengingkari janjinya akibat terlena dengan bibir  semanis cerry yang terlihat semakin menggoda setelah ciuman panas mereka berakhir, apalagi saat Jinki menyentuh kulit sehalus beludru itu dan hampir menyelipkan jari panjangnya diantara celana dalam dan paha Kibum.

Jinki menatap wajah bingung Kibum, “Kau tahu, Baby?” Ucapnya sambil mengelus pipi kemerahan Kibum.

“Kau hampir saja merobohkan pertahanan yang telah kubuat selama ini.” Kibum semakin menatap Jinki bingung, “Dan aku hampir saja kehilanganmu tadi.” Jinki membenturkan dahi mereka saat mengingat Kibum hampir terkena nasib buruk sore ini.

“Mandi dan bersiaplah, semua orang menunggu kita.” Setelah mengatakan itu, Jinki menurunkan Kibum dari pangkuannya. Turun ke bawah untuk menemui calon ayah mertua dan kakak iparnya yang telah menunggunya lama.
Jinki bergabung dengan Tuan Kim dan Jonghyun yang sedang menonton berita.

“E’hem.. huuuh panas, kenapa tiba-tiba aku kepanasan, ya? Tenggorokanku juga terasa kering,Ahjumma tolong ambilkan air.” Teriak Jonghyun mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah sambil sesekali mencuri pandang pada Jinki.
Jinki hanya menatapnya malas.

Jonghyun tahu betapa hampir gilanya Jinki menahan hasratnya pada adiknya, ia mendengar betapa frustasinya erangan Jinki di dalam kamar adiknya.

Ya. Jonghyun tahu apa yang mereka lakukan, itu karena ayahnya menyuruhnya untuk melihat keadaan sepasang kekasih dimabuk asmara itu. Ayahnya tahu pasti ada kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka berdua, karena Kibum nya yang ceria dan cerewet mendadak jadi patung cantik hari ini. Sudah bukan rahasia lagi, bukan?

*

*

*

*

Hari ini Minggu dan masih pagi, Kibum sedang mengeluarkan sepeda keranjang warna tosca kesayangannya. Ia berniat mengajak Taemin untuk bersepeda bersama, kegiatan rutin yang mereka lakukan setiap minggunya. Dengan langkah kecilnya Kibum menuntun sepedanya menuju rumah Taemin yang berjarak beberapa blok dari rumahnya, pagi ini Kibum memakai kaos polo warna pink soft dipadukan celana pendek putih dan sepatu kets putih. Terlihat chic dan cantik seperti biasanya.
Kegiatan rutinnya di hari Minggu adalah saat pagi ia akan bersepeda bersama Taemin  dan siangnya berkencan dengan Lee Jinki sampai malam. Benar-benar. Kibum sudah sampai di depan rumah Taemin, memarkirkan sepedanya di pinggir jalan dan berjalan memasuki perkarangan rumah Taemin. Disana terlihat Nyonya Lee yang sedang menyirami bunga-bunga mawar kesukaannya.
“Selamat pagi Imo.” Kibum membungkuk sopan menyapa Taemin Eomma.
Nyonya Lee berbalik dan tersenyum, “Pagi, sayang.”

“Imo, apa Taemin sudah bangun?”
“Haah.. anak itu paling susah bangun pagi di hari Minggu, kau tahu kan sayang? Tugasmu adalah membangunkannya.”

Kibum tersenyum cerah, “Ne.”
Kibum berjalan ke sisi dimana kamar Taemin berada, dan mulai melancarkan aksinya.
“Taemin-yaa!!”
“Taemiiin!!”

“Lee Taemin!!!”

Kibum membangunkan Taemin dengan cara meneriaki nama namja itu, bukan mendatanginya dan mengetuk pintu. Ck, dasar. Taemin yang sedang tertidurpun terusik mendengar teriakan  Kibum yang tak henti mengganggunya. Dengan kesal, Taemin bangkit dari ranjang dan menghampiri jendela kamarnya. Terlihatlah Kibum yang sedang berdiri dan mendongak memanggil namanya di bawah jendela kamarnya.
“YAK!! Apa kau bisa berhenti mengganggu hidupku di hari Minggu!?” Teriaknya.
“Aku tidak bisa. Ayo turun, kita bersepeda bersama.” Ajak Kibum.

“Bersepeda bersama? Maksudmu aku yang mengayuh sepedanya dan kau menumpang di belakang, begitu?”

Kibum mengangguk, “Cepatlah, aku menunggumu.” Setelah mengatakan itu, Kibum berjalan menjauhi kamar Taemin.

Taemin  menggaruk kepalanya frustasi, “Sekarang aku paham kenapa mereka cocok, mereka sama-sama menakutkan. Pangeran dan Putri iblis, hiiihh.” Taemin merinding, yang dimaksudnya adalah sepasang kekasih  Lee Jinki dan Kim Kibum.Mereka, memang sedikit berbeda dari pasangan kebanyakan. Cara mereka berinteraksi sedikit berbeda dari manusia kebanyakan.

*

*

*

*

“Gunting batu kertas!”

“Gunting batu kertas!!”

“Kertas kertas kertas!! Wuhuu aku menang.”

Kibum berseru senang saat ia memenangkan permainan gunting batu kertas, Kibum menyentil kening Taemin sebagai hukuman untuk yang kalah.

“Aakh!” Taemin meringis sambil mengusap keningnya yang terasa panas lalu ia mengambil satu stik pepero yang tersedia sebagai imbalan untuk yang menang dan menyuapinya pada Kibum.

“Gunting batu kertas!”

“Gunting batu kertas!”

“Yes! Aku menang!” Taemin meninju udara sebagai ungkapan rasa senangnya, “Aihihiii.” Taemin terkikik jahil sambil menggosok-gosokan telapak tangannya bersiap menjitak dahi Kibum. Jika Jinki melihat ini, namja itu akan membalas Taemin dengan tinjuan mautnya, lalu meniup dan mengecup dahi itu sambil memelototi Taemin.
Pletak!!
“Awh appo.” Ringis Kibum sambil menyuapkan pepero dengan kesal pada Taemin. Kegiatan mereka berdua lumayan mengundang perhatian warga kampus karena mereka melakukannya di kantin yang sedang ramai, tak jarang mahasiswa yang lain menggeleng-geleng melihat pasangan sahabat yang bertingkah seperti anak SD itu.
“Boleh aku bergabung?” Tanya seseorang tiba-tiba mengintrupsi kegiatan mereka, Kibum dan Taemin menoleh serentak pada orang yang ternyata adalah Minho.

“Minho-ssi??”
“Hyung???” Taemin menoleh pada Minho saat Kibum  menyebut nama Minho dengan alis mengernyit. Kibum mengenal Minho?
Minho tersenyum pada mereka, “Orangnya bertambah, kita ganti saja permainannya.” Usul Kibum.

“Emm.. bagaimana jika Truth or Dare!?” Usul Taemin, mereka pun bermain truth or dare hingga membuat heboh seisi kantin.

*

*

*

*

Minho sedang menunggu Taemin membeli minum untuk mereka, Minho tersenyum mengingat permainan truth or dare mereka bertiga satu jam yang lalu. Minho dan Taemin masih betahan bersantai di kantin sedangkan Kibum harus pergi karena ada kelas, Taemin menghampiri Minho, memberikan minuman kaleng pada Seniornya dan duduk di samping Minho.
Taemin meletakkan dompetnya di atas meja, membuka dan menenggak minuman kalengnya. Sesuatu yang menyembul di sela dompet Taemin  mengundang perhatian Minho.

“Taemin-ya, apa yang ada di dompetmu?” Tanyanya.
Taemin menoleh dan meraih dompetnya, “Oh ini. Ini foto masa kecilku dan Kibum.” Taemin menarik foto itu dan memberikannya pada Minho.

Minho memperhatikan foto itu, Kibum  memang sudah cantik sejak ia masih kecil. Minho tersenyum.
“Itu foto saat kami menjadi model pakaian anak-anak untuk butik teman Eomma Kibum.” Terang Taemin.
“Kibum cantik, ya!?” Taemin mengangguk setuju dengan ucapan Minho.

“Sangat, tapi sayang kepribadiannya tak secantik wajahnya.”  “Hyung.”

“Hmm??”

“Apa kau menyukai Kibum?” Taemin terlihat serius.

“Eemm.. Ya.” Jawab Minho mantap. Ia tertarik pada Kibum sejak insiden tabrakan mereka, menurut Minho, Kibum berbeda dari namja cantik kebanyakan. Terlihat cantik dan begitu polos.

Taemin memandang Minho lama, ia sudah tahu itu, pertanyaannya hanyalah untuk memastikannya saja. Taemin tidak tahu bagaimana mereka bisa saling mengenal. Yang Taemin tahu Minho menunjukkan ketertarikannya saat mereka bermain truth or dare tadi, Minho akan bertanya tentang hal pribadi pada Kibum ketika Kibum  memilih truth. Minho seperti ingin mengenal banyak hal tentang sahabatnya itu,

“Apa yang kau suka darinya?” tanya Taemin.

“Cantik, polos dan menggemaskan.” Ucap Minho sambil tersenyum.

Pikiran Taemin melayang pada saat ia menyuruh Kibum menari Cheer Up dari Twice sebagai tantangan dari dare yang dipilih Kibum, Minho memperhatikan Kibum yang menari dengan saksama. Mata Minho berbinar saat Kibum melakukan gerakan ‘Shy Shy Shy’ dengan wajahaegyonya, bahkan Minho bergabung dengan Kibum dan mereka menari bersama membuat orang-orang yang berada di kantin terhibur dan bertepuk tangan untuk mereka.
“Sebaiknya kau urungkan saja, Hyung.”
Minho menoleh, “Wae??”
“Karena Kibum sudah bertunangan, mungkin sebentar lagi mereka akan menikah.” Jawab Taemin serius.

Minho menatap Taemin tak percaya dan kaget, “Kau ingat. Saat kau menyelamatkan Kibum yang hampir saja tertabrak mobil? aku berada di tempat yang tak jauh dari kejadian saat itu.”

 Minho kembali teringat pada saat itu, dia langsung berlari sekuat tenaga saat melihat namja yang dikenalnya hampir tertabrak mobil, Minho bersyukur sekali dia bisa menggapai lengan Kibum itu untuk menyelamatkannya.

“Ya, lalu?”

“Kau ingat seorang namja yang menghampiri kalian tiba-tiba?” Minho mengangguk “Namja itu adalah tunangannya, Lee Jinki.”

Minho berpikir, pantas saja ia merasa tak asing saat melihat wajahnya. Dia pernah beberapa kali melihat Jinki di majalah bisnis milik ayahnya.

“Lebih baik kau lupakan saja perasaanmu padanya, karena terdengar kejam jika aku melarangmu bertemu dengannya. Aku melakukan ini karena kau adalah teman sekaligus Sunbaeku, aku tak ingin hal buruk terjadi padamu.” seperti yang Taemin bilang, Minho adalah seniornya di fakultas tari modern.
“Lee Jinki itu sangat menyeramkan.” Bisik Taemin, Minho hanya terdiam tenggelam dalam pikirannya.

*

*

*

*

Jinki berjalan tergesa memasuki rumah keluarga Kim,

“Selamat datang Tuan muda.” Sapa Son Ahjumma.
Jinki menoleh, “Ahjumma, apa Kibum ada di rumah?” Tanya Jinki, dia sudah menghubungi Kibum sebelumnya tapi ponsel Kibum sibuk.
“Ne, Tuan muda. Tuan Kibum ada di kamar.”
“Lalu Abeonim dan Eommonim? Jonghyun?”
“Tuan dan Nyonya besar sedang menghadiri acara makan malam dengan rekan kerja, Tuan muda Jonghyun sedang ada di Busan untuk menghadiri acara penghargaan.” Bagus, Kibum nya di rumah sendirian.

“Terima kasih Ahjumma.” Jinki kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Kibum.
Saat Jinki membuka pintu kamar Kibum, Kibum sedang duduk di meja belajar, memakan snack dan sedang berbicara dengan seseorang melalui video call yang juga melakukan hal yang sama, ponselnya disandarkan pada sebuah buku tebal.

“Apa acaranya sudah mulai?” Ucapnya sambil memasukkan snack ke dalam mulut dan mengunyahnya nikmat.

“Belum, masih ada waktu sepuluh menit lagi dan Hyung gunakan untuk menghubungimu. Maaf tidak pamit sebelumnya padamu.” Sesal Jonghyun.
“Gwaenchanayo, asal hyung pulang membawa piala untuk kupamerkan pada Taemin.”
Jonghyun tertawa, “Haha.. dia pasti kesal.”
Kibum mengangguk, “Itu yang aku inginkan.”

Jinki tersenyum sinis, Kibum selain kekanakan dan polos dia juga sangat jahil.

Jinki memutuskan masuk ke kamar Kibum dan langsung menarik tangan Kibum, “Eh??” Kibum kaget dan menoleh, “Jinki hyung?”
“Ikut aku!” Jinki menarik Kibum agar berdiri.

“Waeyo??”

“Yak Lee Jinki, mau kau bawa kemana adikku, huh?” sahut seseorang yang terlihat di layar ponsel Kibum, Jinki menatapnya tajam.
“Bukan urusanmu.” Ucapnya langsung menarik Kibum keluar kamar tanpa memperdulikan Jonghyun yang terus berteriak dari balik ponsel.

“Yak, Lee Jinki.” Suara itu tenggelam seiring dengan suara dentuman pintu kamar Kibum.

*

*

*

Jinki terus menarik tangan Kibum sesampainya mereka di apartemennya dan mendorong Kibum memasuki kamar, mengunci pintu dan menatap Kibum tajam. Apa aku membuat kesalahan? Pikir Kibum, Jinki maju satu langkah.
“Jelaskan padaku, apa maksud foto ini?” Jinki menyodorkan layar ponselnya pada Kibum yang menampilkan sebuah foto dirinya dan Minho yang berpegangan tangan di sebuah restoran jepang di Department Store milik Jinki siang tadi.

Kibum kaget, dari mana Jinki mendapatkan foto itu?

“Kenapa diam? Gugup tertangkap basah?” Sinis Jinki.

Kibum menatap Jinki, “Bagaimana hyung tahu?” Kibum menggigit bibirnya saat mendapat pelototan dari Jinki. Kibum menundukkan kepalanya dalam, “Kami.. makan siang bersama.” Cicit Kibum.
“Aku tidak buta.” Desis Jinki.

“Dia.. teman baruku—“

“Oh, apa sekarang makan bersama dengan teman baru sambil berpegangan tangan sedang jadi tren?? Jangan coba membohongiku, Kim Kibum.” Sela Jinki.

Kibum memejamkan matanya karena tidak tahan dengan nada bicara Jinki padanya, Kibum menghirup napas dan berteriak, “Dia menyatakan cintanya padaku!” Kibum tersengal.

Jinki tertawa sinis, “Aku ingat, namja ini yang memelukmu waktu itu, kan? Lalu kalian main api di belakangku? Aah.. apa kecelakaan itu hanya rekayasa semata agar kalian bisa berpelukan di depan umum, begitu?” Bentak Jinki, ia kembali terbayang saat Kibum hampir tertabrak mobil. Jinki berterima kasih karena namja itu Kibum nya baik-baik saja, tapi kenyataannya? Hah!

“NE! aku akan menerima cintanya dan mengajaknya bercinta denganku!!” Kibum menatap langsung mata Jinki saat mengatakan itu, sebenarnya dia takut melihat wajah marah Jinki.
Jinki mengeratkan giginya, wajahnya memerah menahan marah. Terdengar bunyi retak dari ponselnya karena dia menggenggamnya terlalu erat.

BRAK! PRANG!
Suara pecahan guci yang dihantam oleh ponsel bergema di kamar itu. Ya, Jinki melemparkan ponselnya hingga hancur berkeping-keping bersama sebuah guci antik dari zaman kerajaan Joseon. Habis sudah kesabarannya saat Kibum nya mengatakan akan bercinta dengan namja lain.

Semua ini tidak akan terjadi jika saja Jongin bukanlah namja bermulut besar. Ya, sebenarnya Jongin yang melihat Kibum sedang berduaan bersama namja selain Jinki. Jongin yang kaget langsung mengikuti kemanapun mereka pergi.

Jongin berjalan santai sambil sesekali menyiulkan lagu kesukaannya, hari ini Jinki menugaskannya untuk mengontrol keadaan Department Store milik Lee Group. Setelah menyelesaikan tugasnya, Jongin pun memanfaatkan sisa waktunya memanjakan diri dengan berkeliling. Sesekali ia juga memasuki toko pakaian dan sepatu, Jongin juga mendapatkan barang incarannya tanpa kesulitan.

Setelah cukup lama berkeliling, Jongin pun merasakan lapar. Dia sedang mencari-cari restoran mana yang menjadi tujuannya, sebenarnya ia sedang ingin makan masakan Eropa. Jongin baru saja akan berbelok saat ekor matanya menangkap sosok mungil yang ia kenal, Jongin langsung menghentikan langkahnya spontan.

“Bukankah itu Kibun?” Tanyanya pada angin.

Jongin menyipitkan matanya untuk mempertajam pengelihatannya, belum percaya dengan kualitas pengelihatannya, Jongin mengucek-kucek matanya beberapa kali.

“Itu memang Kibum. Tapi.. siapa namja yang bersamanya?” Tanpa pikir panjang Jongin pun langsung mengikuti Kibum, sesekali ia juga bersembunyi dan menyamar layaknya seorang detektif. Jongin melihat Kibum dan pria misterius itu memasuki sebuah restoran Jepang, ia memilih meja kedua dari meja  Kibum dan duduk menghadap punggung  Kibum. Cepat-cepat ia menutupi wajahnya menggunakan buku menu yang tersedia di atas meja.

Kibum sedang memesan makanan, seorang pelayan datang menghampiri Jongin, “Konichiwa” sapa pelayan itu. Jongin hanya mengangguk-angguk dengan wajah serius dan mata terpancang pada namja yang duduk di hadapan Kibum.

“Tuan, anda ingin memesan sesuatu?”

“Salmon sushi dan teh hijau.” Ucap Jongin tanpa menoleh pada pelayan itu, pelayan itu menulis pesanan Jongin dan pamit pergi.

Pesanan mereka datang hampir bersamaan, Jongin mulai menyuapkan sushinya tanpa melepaskan tatapannya pada target, bahkan buku menu masih menjadi tameng di depan wajahnya.

Makanannya hampir habis, Jongin tiba-tiba saja kebelet pipis. Dengan berat hati dia pun bergegas menuju toilet, saat Jongin sedang bertanya pada pelayan, ekor matanya menangkap gerak-gerik mencurigakan dari namja itu. Jongin langsung menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat namja itu dengan beraninya menggenggam tangan kekasih bosnya.

Dengan mulut terbuka lebar dan mata sipit yang berusaha melotot, Jongin dengan sigap mengambil ponselnya dan mengabadikan momen itu. Setelah itu cepat-cepat ia mencari kontak Jinki dan mengetik sesuatu.

Kim Jongin

Booossss!!! Aku melihat Kibum di Departmen Store bersama seorang namja tampan!!

MEREKA BERPEGANGAN TANGAN BOOSSSS!!!

Bos, apa Kibum berselingkuh darimu????

Jongin menekan tombol send dan langsung berlari menuju toilet, ia sudah tidak tahan lagi. Bahkan ia tak sempat memikirkan dampak apa yang akan terjadi akibat informasi eksklusifnya itu pada bosnya.

Jinki mendorong bahu Kibum hingga  Kibum jatuh terlentang di atas kasur, Kibum terkesiap mendapat perlakuan kasar Jinki yang baru kali ini ia dapatkan. Sungguh, ia sangat ingin menangis saat ini. Tahan, Kim Kibum, kau harus bertahan. Sugestinya dalam hati.
Jinki mejatuhkan tubuhnya menindih Kibum dan langsung mencium  Kibum kasar, dengan tergesa Jinki menurunkan kardigan rajut hijau army yang  Kibum pakai dan membuangnya ke sembarang arah, tangannya mulai meraba-raba punggung Kibum.

Sedangkan di satu tempat, seorang namja dengan gusar berjalan cepat menuju mobilnya.

“Jonghyun-ya, kau mau kemana? Acaranya baru saja dimulai.” Jonghyun menghentikan langkahnya dan menatap Hong Musuk; asistennya.
“Hyung, aku harus pergi. Adikku dalam bahaya.”Bahaya seorang Lee Jinki! Lanjutnya dalam hati.
“Mwo? jadi kau akan pulang ke Seoul malam ini juga?”

Jonghyun mengangguk, “Lalu bagaimana dengan acaranya?” Tanya Musuk lagi.

“Kau tetep disini dan mewakilkanku, Hyung. Aku benar-benar harus pergi, adikku membutuhkanku.” Jonghyun kembali meyakinkan Musuk.
Musuk menghela napas, “Baiklah, kau harus hati-hati. Jangan kebut-kebutan.”

Jonghyun mengangguk, “Aku pergi, Hyung. Terima kasih,” tepuknya pada bahu Musuk. Jonghyun berlari kecil menuju mobilnya dan langsung menancap gas sekencang mungkin, Musuk menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali masuk ke dalam gedung.

Jonghyun kalang kabut saat mendapatkan pesan ancaman dari Jinki.
Lee Jinki

Cegah aku jika kau bisa!

Setelah membaca pesan itu Jonghyun langsung berlari keluar gedung, Jinki sempat mengirimkan pesan itu pada Jonghyun sebelum akhirnya melemparkan ponselnya hingga hancur. Jonghyun sudah menghubungi Jinki namun ponselnya tidak aktif, dia juga menghubungi ponsel Kibum yang dijawab oleh Son Ahjumma. Ia lupa adiknya meninggalkan ponselnya saat mereka sedang melakukan video call, lagi-lagi karena Lee Jinki.
“Sial!” Jonghyun memukul stirnya dengan kesal dan semakin menambah kecepatan laju mobilnya.

Jinki sudah ada diantara kaki Kibum, terus menciumnya sambil tangannya mengelus paha Kibum yang tak tertutup karena Kibum hanya memakai celana pendek.

“Aaahh..” desahan Kibum keular saat Jinki mulai menciumi bahu dan lehernya, sedikit melumat cupingnya. Matanya terpejam dengan wajah memerah. Apa mereka akan melakukannya? Sekarang  Kibum tahu apa itu bercinta, dia mengetikkan kata itu di internet tanpa ada seorang pun yang tahu. Dia merasa sangat bodoh karena tak terpikir betapa mudahnya hidup di zaman modern saat ini.

Jinki membuka satu persatu kancing kemeja Kibum, menurunkan kedua sisinya di bahu dan kembali menciumi bahu dan tulang selangka kekasih nya. Jinki menghentikan kegiatannya sejenak untuk menatap kekasih nya. Merasa ditatap Kibum pun membuka matanya.

“Masih ingin bercinta dengan naamja lain?”

Kibum menatap Jinki lama, “Ya. Jika kau menolakku… lagi.” Ucap Kibum lirih. Jinki semakin menghunuskan tatapannya.

Tangannya mulai bergerak membuka jas dan dasinya tanpa mengalihkan pandangannya pada Kibum di bawahnya, melemparnya ke sembarang tempat dan kembali menindih Kibum. Jinki menurunkan wajahnya dan mencium dada atas Kibum, menghirup dan mengeluarkan napas disana.

“Jangan mencumbunya!”
Terdengar suara Jonghyun di kepalanya, Jinki tak memperdulikannya dan terus menciumi Kibum. Jinki melepas kan kemeja pink Kibum. Jinki berhenti dan memandangi betapa indahnya Tuhan menciptakan kekasih nya. Dada itu tengah tersengal naik turun seolah mengejek Jinki untuk segera mendaratkan bibir dan tangannya.

Jinki menelan saliva merasakan sesuatu di bawah sana semakin mengetat, dengan gerakan santai Jinki membuka satu persatu kancing kemejanya. Berhenti saat semua kancing terlepas dan melakukan hal yang sama seperti jas dan dasinya terdahulu, mata mereka bertemu.

“Kau ingin kita bercinta?” Kibum mengangguk mantap, “Sekarang??” Kibum langsung mengalungkan tangannya pada leher Jinki. Oh kekasihmu Lee Jiki.

Jinki diam mengontrol hasrat dan emosinya, “Baiklah.. kita akan bercinta. Sekarang! Dengan cepat. Dan panas. Tanpa henti. Kau siap??” Kibum mengangguk penuh keyakinan dan langsung melingkarkan kedua kakinya di pinggang Jinki. Dia benar-benar melakukan semua hal yang dilihatnya di internet.

Dengan secepat kilat Jinki kembali mencium Kibum di setiap inci kulitnya yang terbuka, bahkan tangannya telah meraba dada itu pelan dan sensual. Mengulum dan menghisap kedua puting Kibum , tangan Jinki semakin meraba paha dalam Kibum.

“Jangan menciumnya di dada, paha.”
Suara Jonghyun kembali terngiang seolah mencoba menghentikan apa yang Jinki lakukan saat ini, Jinki menurunkan ciumannya ke perut. Berlama-lama disana kemudian melepaskan celana pendek Kibum melalui kaki Kibum yang menyisakan celana dalam putih sebagai penutup terakhir dari tubuh kekasih nya.

Kibum mengerang, ini kali pertama Jinki mencium dan menjilatinya dimana-mana. Seperti induk kucing menjilati anaknya, Kibum menelan ludahnya saat Jinki melebarkan pahanya dengan wajah berada di depan junior yang tertutup celana dalam.
Jinki mendekatkan wajahnya, menghirup aroma Kibum dengan mata terpejam. Kekasih nya sangat wangi,

“Aaahh..” Kibum melengkungkan tubuhnya saat merasakan tangan Jinki membelai junior nya dari balik celana dalam yang masih melekat di tubuhnya

Jinki kembali menjajarkan tubuhnya dengan Kibum untuk mencium  nya setelah ia sudah membuang semua kain yang menghalangi mereka, ia tak bisa menahannya lagi apalagi menghentikan ini. Persetan dengan janjinya, persetan dengan Kim Jonghyun. Ia sudah melakukan semua hal yang dilarang kakak ipar sialannya itu, semuanya. Dan ia akan bercinta dengan Kibum sekarang, detik ini juga seperti permintaan Kibum.

“Kau siap?” Tanya Jinki setelah menghentikan ciuman, Kibum mengangguk mantap. Tak sengaja matanya melihat milik Jinki yang telah membesar dan berdiri tegak siap untuk memasukinya, Kibum menelan ludah. Apa benda sebesar itu bisa masuk? Punya Jinki jauh lebih besar dari milik nya tentu saja, apa rasanya akan benar-benar sakit? 

“Kau takut?” Tanya Jinki melihat sedikit keraguan di wajah kekasih nya sambil sesekali melihat Kibum itu melirik junior nya. Kibum diam, dia memang sedikit takut, tapi inilah yang ia inginkan. Kesempatan tidak datang dua kali, jika kali ini gagal maka ia tidak akan pernah bisa membujuk Jinki lagi, itu pikirnya. Kibum salah besar, Jinki bahkan selalu ingin menerkamnya jika ia tidak mengingat janjinya, kecuali hari ini. Pertahanannya benar-benar sudah hancur tanpa sisa.

“Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa menghentikan ini.” Bisik Jinki di telinga Kibum, ia merasa seperti jalang kecil yang haus akan belaian. Tapi Kibum tak perduli, dia sudah melangkah sejauh ini dan mereka memang benar-benar harus menyelesaikannya sampai akhir. Kibum kembali mengalungkan lengannya pada Jinki dan mengangguk.

“Shit!!” Jinki kembali melumat bibir semanis cerry itu dengan kedua tangan yang meremas junior Kibum.
“Nghh  .  . . . “ Kibum terus mendesah ketika remasan Jinki di junior nya semakin cepat.
“Aakhh..” Kibum menjerit di telinga Jinki saat ia mendapat orgasme pertamanya, Jinki mengusap peluh di dahi Kibum, Kibum membuka matanya dan mereka bertatapan.
Jinki membiarkan Kibum menikmati orgasme nya.

Kemudian Jinki memasukkan satu jari panjangnya dalam hole Kibum. Kibum menggigit bibir Jinki karena merasa ngilu di bawah sana akibat ulah jari Jinki, Jinki menambah jari tengahnya membuat Kibum mencakar punggung Jinki.

“Buka matamu, aku akan melakukannya.” Ucap Jinki sambil menempelkan organ intim mereka mencoba memasuki Kibum, Kibum mengernyitkan dahinya sambil menggigit bibirnya. Jinki langsung melumat bibir itu, menggantikan bibirnya sebagai pelampiasan Kibum dan semakin masuk hingga penisnya terbenam sempurna. Tubuh Kibum menegang, ia merasakan panas dan sakit luar biasa di hole nya.

Tahan Kim Kibum, kau bisa. Ini baru tahap awal. Kibum kembali menguatkan dirinya untuk tidak menangis, dia bisa. Pasti! Jinki mengecup dahi Kibum setelah perjuangannya memasuki Kibum yang sangat sempit dan mengetat, ia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan.

Jinki memeluk Kibum erat, gerakannya semakin cepat dan teratur. Ia berusaha tak menyakiti  Kibum karena ini adalah yang pertama bagi Kibum, ahh rasanya sebentar lagi ia akan meledak. Benar-benar meledak di dalam Kibum, menyemburkan berjuta spermanya pada hole hangat Kibum.

“Aku akan mempercepat pernikahan kita sebelum kau hamil, baby. Persetan dengan umur dua puluhmu, aku tidak bisa berhenti menidurimu setelah ini. Akuu—aakhh.” Jinki mengerang saat ia berhasil menembakkan berkali-kali spermanya di dalam Kibum, mencapai kepuasan dengan keekasih nya tak sesulit saat memasukinya, dia benar-benar luruh. Mereka baru bisa menikah setelah Kibum genap berusia dua puluh tahun, itu artinya tahun depan dan ulang tahun Kibum  masih cukup lama.

“Kau lelah?” Jinki mengusap peluh yang membanjiri wajah kemerahan Kibum, Kibum mengangguk dan tersengal. Mereka benar-benar telah melakukannya, Ya Tuhaaan.

Tubuh mereka masih menyatu, bukan hanya tubuh. Tapi hati dan jiwa mereka semakin menyatu bagai tak terpisah lagi. Jinki tersenyum sambil mengecup beberapa kali bibir Kibum.

Mendekatkan bibirnya pada telinga Kibum dan berbisik, “Aku menginginkanmu lagi, baby.. di atasku.” Ucapnya sensual. Kibum tertegun, oh ini akibatmu memancing singa bermain Kim Kibum, kau akan benar-benar diterkam sampai habis olehnya.

Dengan sekejab Jinki menggulingkan tubuhnya membuat Kibum berada di atasnya,  Kibum masih diam seakan belum menyadari keadaannya.

“Bergeraklah!” Remas Jinki pada bokong sintal gadisnya.

“Ba-ba-bagaimana?”

“Seperti yang kulakukan, berlainan arah.”

Kibum masih diam, dia benar-benar tidak tahu cara melakukannya!?

“AKKHHH!!” Jinki mengangkat dan menghemtakkan bokong Kibum membuat Kibum menjerit karena kaget dan merasakan sensasi aneh pada tubuhnya, mereka bergerak berlainan arah.  Kibum hanya pasif dan membiarkan Jinki meremas dan menggerakkan bokongnya, meski sesekali ia bergerak sendiri dengan kaku dan ragu-ragu.

*

*

*

*

Jinki menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang sambil memeluk Kibum di balik selimut, baru saja mereka menyelesaikan percintaannya sepuluh menit lalu. Terdiam dan saling memberi kehangatan satu sama lain, tak melakukan apapun atau membersihkan diri.

Kibum menyandarkan telinganya pada dada Jinki, mendengarkan degupan jantung Jinki setelah percintaan mereka. Mereka melakukannya beberapa kali, bahkan Jinki seakan tak mau berhenti jika tak mengingat Kibum yang kelelahan.

“Aku berbohong.” Ucap Kibum tiba-tiba membuat Jinki yang memejamkan matanya mengernyit bingung.

“Apa?” Gumamnya.

“Minho memang menyatakan cintanya padaku..” Kibum berhenti menunggu respon Jinki, ia merasakan tubuh Jinki menegang. “..tapi aku menolaknya hari itu juga.”
Jinki melepaskan pelukannya dan menatap Kibum, “Kau membohongiku!?” Desis Jinki.

Kibum sedang menunggu seseorang di depan pintu masuk Department Store, sesekali ia melihat jam tangannya dan menghembuskan napas.

“Sudah menunggu lama?” Tepuk seseorang, Kibum menoleh dan tersenyum melihat Minho yang terengah. “Aniyo, kajja.” Mereka pun masuk ke dalam Departmen Store, hari ini Kibum menepati janjinya menemani Minho ke toko buku sekalian saja dia mencari komik baru untuk menambah koleksinya. Seperti pepatah, menyelam sambil minum air. Hihihi..

Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama. Karena Kibum sedang ingin makan sushi, Minho pun mengalah dan mengurungkan niatnya makan pasta.

Mereka memilih meja dan memesan makanan, makanan datang, mereka menikmati makan siang dengan gembira. setelah semua makanan habis, Minho mulai bersiap dengan apa yang ingin ia utarakan.

“Kibum-ah.”

“Hhmm?” Kibum menoleh, ia sedikit kaget saat tiba-tiba Minho menggenggam tangannya.

“Aku tahu, ini terlalu cepat. Tapi.. aku ahrus melakukannya sebelum aku menyesal.” Ucap Minho gugup.

“Aku menyukaimu.” Kibum melihat sebuah keseriusan dari pancaran mata Minho.

“Minho-ssi, mianhae tapi aku suda—“

“Aku tahu,” sela Minho, “Taemin sudah memberitahuku semuanya, hanya saja.. aku harus melakukan ini sebelum aku benar-benar menyesal dan.. yaa, aku merasa lega telah melakukannya.” Senyumnya.

“Mianhae.”

Minho menggeleng, “Bukan salahmu, apa.. kita bisa menjadi teman??” 

Kibum tersenyum, “Tentu saja. Teman!”

“Bisakah kau.. memanggilku hyung?? Kau bisa menolaknya jika tidak—“

“Hyung!” Ucap Kibum sambil melakukan gerakan buing-buing yang menggemaskan, Minho tertawa karena tingkah menggemaskan Kibum. Ia mengacak puncak kepala Kibum gemas, inilah alasan mengapa ia menyukai namja cantik ini.

“Kim Kibum kau…”

Kibum memejamkan matanya siap menerima hukuman dari Jinki. Oh Lee Jinki keekasih mu, dia melakukan apa saja agar kau bercinta dengannya. Bahkan ia tak menangis saat kau memperlakukannya dengan kasar, dia menahan air matanya mati-matian agar tak menangis saat merasakan sakit karena kau memasukinya. Sebenarnya makhluk seperti apa kekasih mu ini? Dia benar-benar tak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Kibum tercintanya.

Jinki mendekatkan tubuhnya pada Kibum sampai seseorang dari balik pintu mengintrupsinya.

TOK! TOK! TOK!
“YAK Lee Jinki, buka pintunya!! Kalian belum menikah!!”

Teriak seseorang yang diyakini seratus persen adalah Kim Jonghyun, namja itu sudah sampai. Ck, lebih cepat dari yang ia perkirakan.

“Yak Bummie-ya, buka pintunya!!”
BRAK! BRAK! BRAK!
“Baby, kau tidak apa-apa?”
Kibum kaget mendengar keributan itu, “Jonghyun hyung?!” Cicitnya.
“Bummie-ya, buka pintunya Lee Jinki!!”
Kibum hendak bangkit untuk membukakan pintu itu, tapi sebelum  Kibum bergerak lebih banyak, Jinki sudah menariknya terlebih dahulu dan kembali menindih nya.

“Kau benar-benar harus dihukum.” Bisik nya.

“AAKKKHH!!! AAHHH…” Kibum berteriak saat Jinki kembali  meremas junior nya, Jonghyun semakin kalang kabut mendengar teriakan sekaligus desahan adiknya di dalam sana.

“Yak Lee Jinki! BERHENTI MEMASUKINYA!!!”

END

maaaf typo dimana-mana
Jangan lupa komennya yaa