Lee Jinki

Kim Kibum

Kalau ada yang bertanya pada Jinki apa profesi yang akan dijalani kakak perempuan dan kembaran nya saat mereka dewasa, Jinki bisa menjawab dengan mudah. Ia akan menjawab bahwa kembaran identiknya, Jonghyun,  akan menjadi ilmuan atau insinyur atau mungkin guru dengan segala kepintarannya. Sedangkan kakak perempuannya, Joohyun, akan menjadi atlet bela diri atau mungkin pelatih tinju mengingat hobinya sejak kecil. Sungguh, meskipun kakak perempuannya itu berbadan kecil tapi kemampuan bela dirinya tidak bisa diremehkan.

Tapi jika ada yang bertanya profesi apa yang akan dijalaninya saat benar-benar dewasa nanti―Jinki tak yakin memiliki jawabannya.

Jinki tidak tahu sejak kapan dirinya se-abstrak ini. Yang ia tahu hanya ia lupa mimpi-mimpinya sejak orang tuanya mulai bertengkar. Hingga akhirnya memutuskan untuk berpisah.

“Baiklah, anak-anak. Ini―selamat datang dirumah baru kita.”

Jinki menatap rumah tua itu lalu menyipitkan matanya. Ia rasa rumah dihadapannya akan terlihat lebih bagus jika pengelihatannya kabur.

“Ibu yakin tidak salah alamat kan?” kata Joohyun. Terlihat sekali jika gadis itu juga tidak begitu menyukai rumah tua dihadapan mereka.

“Rumah ini tidak terlalu jelek, kok.” kata ibu mereka sambil tersenyum paksa, “Rumah ini hanya―tua.”

Lalu ibu dan kakak perempuannya turun terlebih dahulu dari mobil mereka, meninggalkan Jonghyun dan Jinki disana.

“Ayo, Jinki.” kata Jonghyun yang sudah melepas seatbelt- nya. Jinki dengan malas ikut melepas miliknya lalu berjalan menyusul Jonghyun yang kini memasuki rumah tua tadi.

Pintu utama rumah itu berwarna abu-abu kusam, karena tua. Ibu mereka memasukkan kunci ke lubangnya, memutarnya, dan mendorong sekuat tenaga dengan bahunya. Pintu membuka menunjukkan lorong remang-remang. Ketika mereka masuk mengikuti lorong tersebut, mereka sampai pada ruang makan rumahnya.

“Well, ini lebih menyeramkan dari pada luarnya ternyata.” komentar kakak perempuannya dan ibunya sama sekali tidak berniat menanggapi.

“Disini hanya ada tiga kamar, jadi―”

“Aku harus berbagi kamar dengan Jonghyun lagi?” potong Jinki.

“Ya.”

Jinki tidak keberatan berbagi kamar dengan Jonghyun sebenarnya. Tapi itu dulu, ketika ia masih kecil. Ketika ia dan Jonghyun masih di Sekolah Dasar. Sekarang ia sudah SMA. Jinki rasa ia sudah cukup dewasa untuk memiliki kamar sendiri.

“Tapi―” sebelum ia mengeluarkan protesnya, Joohyun dan Jonghyun sudah meninggalkan tempat itu untuk mengambil barang-barang mereka dimobil. Membuatnya tidak bisa melanjutkan kata-katanya―karena ia sadar bahwa semua ini salahnya. Mereka harus pindah karenanya. Ya karenanya yang membuat masalah disekolah lamanya.

“Jinki,” panggil ibunya ketika ia berbalik hendak mengikuti kedua saudaranya. Membuatnya menghentikan gerakannya lalu kembali pada posisi semula.

“Apa?”

“Kita mulai semua dari awal lagi ya? Tak ada perkelahian―atau pelanggaran lainnya oke?” Jinkk mengangguk dengan segan. Ia tidak ingin ibunya melanjutkan kata-katanya lagi.

“Kalian yakin tidak ingin diantar sampai dalam?”

“Tidak, Bu.” kata Jonghyun. Sementara Jinkk hanya memperhatikan sekelilingnya, tak begitu mendengarkan kata-kata ibunya. Yang Jinki liat hanya―tak ada yang istimewa dari sekolah kecil dikota kecil ini. Berbeda sekali dengan sekolahnya di Seoul dulu.

“Ayo, Jinki.” Jonghyun menepuk bahunya pelan lalu berjalan mendahuluinya. Namun ibunya memanggilnya saat ia hendak mengikuti Jonghyun.

“Jangan sampai ada masalah lagi dihari pertama ya?” dan Jinki kembali hanya mengangguk segan sebagai jawaban.

Jinki tidak paham kenapa ibunya bersikap seolah semuanya baik-baik saja padahal kenyataannya tidak seperti itu. Seperti ketika ibu dan ayahnya bercerai, ibunya bersikap seolah semua baik-baik saja padahal Jinki tahu wanita itu tidak baik-baik saja. Atau ketika Jinki dikeluarkan dari sekolah karena mematahkan tulang seorang teman sekelasnya yang mengejeknya. Bahkan ketika Jinki tak sengaja benar-benar melukai Joohyun hingga pipi gadis itu memar karena berusaha memancing emosinya.

Ngomong-ngomong soal kakaknya, gadis itu kini berkuliah diuniversitas swasta di kota kecil ini. Padahal dulunya, ketika mereka masih di Seoul gadis itu berkuliah diuniversitas negeri. Tapi karena Jinki dikeluarkan dari sekolah dan ibunya tidak sanggup membiayai mereka di Seoul lagi jadi―ibunya memutuskan pindah ke kota kecil ini. Ibunya bilang mereka harus bersyukur karena masih memiliki rumah warisan keluarga ibunya. Tapi Jinki sama sekali tidak bisa bersyukur dengan semua nasibnya.

Ia dan Jonghyun mendapat kelas yang berbeda. Jinki dikelas XI E sedangkan Jonghyun dikelas XI A. Ibunya bilang karena kelasnya penuh jadi mereka tidak bisa satu kelas. Padahal Jinki tahu jika kelasnya itu sebenarnya adalah kelas anak-anak bermasalah. Sedangkan kelas Jonghyun adalah kelas untuk anak-anak berprestasi seperti kembarannya itu.

Tak ada yang memperhatikan ketika Jinki memperkenalkan diri atau ketika gurunya berbicara didepan kelas. Hingga ketika Jinki duduk dikursinya―dipojok belakang, dengan seorang pria lain duduk dikursi satunya―kelas masih ribut dengan obrolan tak penting.

Begitu gurunya memulai pelajaran pada hari itu―Jinki hanya menidurkan kepalanya diatas meja. Sama sekali tak berniat untuk mendengar atau memperhatikan dan lebih tertarik untuk memasuki alam bawah sadarnya.

Jinko tidak tahu berapa lama ia tertidur namun saat matanya terbuka ia mendapati kelasnya yang cukup sepi. Hanya ada beberapa orang dikelasnya termasuk teman sebangkunya yang kini menatapinya dengan tatapan penasaran.

“Ini istirahat?” Jinki bertanya tanpa basa basi pada pemuda  disebelahnya itu. Namun pemuda itu malah terlihat gelagapan yang bagi Jinki merupakan respon yang berlebihan.

“Err―tidak. Guru Jin dipanggil keruang rapat. Dan anak-anak memutuskan untuk ke kantin.”

Jinki mengangguk sekilas lalu kembali menyamankan posisinya dimejanya. Namun pemuda  tadi masih memandanginya penasaran. Dan Jinki sama sekali tidak peduli dengan tatapan penasarannya.

“Aku Kibum. Kim Kibum.” kata pemuda itu lagi. Seakan berusaha menarik perhatian Jinkk yang akan kembali ke alam bawah sadarnya, “Kau orang Jepang ya? Kukira kau tak bisa bahasa Korea.”

Jinki menatap pemuda itu dari posisinya sekarang―kepala menempel pada meja―lalu membalas, “Anggap saja, aku diusir dari Jepang sejak kecil.”

“Kenapa begitu?” Kibum terdengar tertarik dengan topik pembicaraan mereka. Sementara Jinkj terlihat tak begitu ingin melanjutkan percakapan.

“Karena aku berbahaya.” itu semacam peringatan untuk Kibum agar diam dan tak mengganggu Jinki sebenarnya. Namun Kibum malah mengira Jinki sedang berusaha bergurau dengannya.

“Oh?” Kibum tertawa kecil, “Memangnya apa yang berbahaya dari orang yang hanya bisa tidur sepertimu?”

Jinki memincingkan matanya mendengar jawaban Kibum. Ia bisa saja membentak atau bahkan menghajar pemuda itu agar diam tapi ia tak bisa membuat masalah lagi. Kalau ia membuat masalah lagi, Jinki yakin ia akan dikirim kembali ke Jepang untuk tinggal bersama ayahnya. Dan Jinki tak ingin tinggal bersama ayahnya yang keras.

“Kenapa kau tidak ikut ke kantin?” tanya Jinki ketus. Bermaksud untuk mengusir pemuda bernama Kibum itu. Namun Kibum seakan terlalu bodoh untuk menyadari maksud tersiratnya.

“Aku tidak lapar. Lagipula jika aku lapar aku membawa bekal. Kau mau?” Kibum malah menyodorkan bekal yang ia bawa dari dalam tasnya. Jinki yang melihatnya hanya mendengus kasar lalu berjalan pergi dari kelasnya.

Dasar pemuda kelewat dungu, batin Jinki.

Jinki tidak mengerti mengapa pria bernama Kim Kibum itu bersikap kelewat sok akrab dengannya. Bersikap seolah-olah Jinki adalah teman akrabnya padahal Jinki selalu memberikan respon buruk padanya―yang merupakan jawaban tersirat jika Jinki tidak ingin berteman dengan pemuda itu.

Seperti saat mereka ada jam kosong―pria itu akan menahannya agar tidak tidur lalu mengajaknya mengobrol. Lalu, pria itu akan mengikutinya ke kantin saat istirahat. Pria itu bahkan pernah menemaninya bolos diatap sekolah mereka setelah jam istirahat. Dan saat bel pulang berbunyi pria itu juga berusaha untuk mengajaknya pulang bersama―yang selalu Jinki tolak walaupun pada akhirnya pria itu mengikutinya karena ternyata rumah mereka searah. Oh, Jinki rasa keberuntungan tidak pernah berpihak padanya.

Jinki sudah mencoba mengusir dengan tersirat sekaligus frontal―tapi Kibum seakan kelewat dungu untuk mengerti apa maksud Jinki sekalipun Jinki mengungkapkannya dengan gamblang. Itu cukup untuk membuat Jinki kesal setengah mati.

“Jinki, kau sudah mengerjakan tugas matematika? Kudengar Guru Jang masuk hari ini. Kau tahu Guru Jang tak akan segan-segan―”

“Kalau begitu kerjakan milikku.” balas Jinki tajam. Ia baru sampai ditempat duduknya dan Kibum langsung beceloteh tentang sesuatu yang Jinki benci. Hal itu jelas membuat mood Jinki berantakan saat itu juga.

Kibum terdiam mendengar balasan Jinki. Jinki pikir pemuda itu tidak akan mau menurutinya namun balasan pemuda itu membuatnya menatap pemuda itu aneh, “Baiklah. Kemarikan bukumu.”

Jinki bahkan tidak mengacam pemuda itu namun pemuda itu mau mengerjakan tugasnya. Jinki sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran pemuda tan itu―namun Jinki tetap memberikan buku tugasnya pada pemuda itu.

Terpelas dari sikap idiot pemuda itu yang tak menyadari ketidaksukaan Jinki menjadi temannya―Jinki sadar pemuda itu termasuk murid pintar disekolahnya. Dikelasnya pemuda itu selalu menjawab pertanyaan gurunya dengan benar. Pria itu juga selalu mengerjakan tugasnya. Jinki bahkan tidak pernah melihat pemuda itu melanggar peraturan selain membolos dengannya kala itu. Kibum juga bilang itu pengalaman pertamanya membolos.

Lantas, apa yang membuat pemuda itu ada dikelas ini? Kelas anak-anak bermasalah?

“Kau melamun, Jinki.”

Jinki mendengus melihat Kibum yang masih bisa mengomentarinya disaat pria itu tengah mengerjakan tugas, “Kerjakan saja tugasku, Kibum.”

“Ini tidak gratis, Jinki.” balas Kibun sambil tersenyum kecil. Jinki memincingkan matanya mendengar kata-kata pemuda itu.

“Apa maksudmu?”

“Kau harus membayarnya. Paling tidak dengan mentraktirku dikantin.” Kibum masih mempertahankan senyum kecilnya dengan matanya yang tidak lepas dari buku ditangannya. Membuat Jinki mendengus keras melihatnya.

“Hanya sekali ini.” Kibum langsung memekik gembira mendengarnya. Membuat Jinkk menatap pria itu aneh. Apa pemuda itu benar-benar tak pernah ditraktir sebelumnya?

“Selesai. Kupastikan kau mendapat nilai sempurna, Jinki-ah.” Jinkk hanya mengangguk sambil mengambil bukunya kembali dari tangan Kibum.

Jinki bersumpah Kibum adalah orang teraneh yang pernah ia temui.

Jinki menepati perkataannya tentang mentraktir Kibum dikantin. Untungnya Kibum bukan orang rakus dengan porsi makan yang banyak. Jinki jadi tidak perlu mengeluarkan begitu banyak uang.

Jinki sebenarnya sadar sejak pertama ia masuk sekolah ini banyak orang yang sering berbisik saat ia lewat. Namun―mereka bertambah banyak setiap Jinki bersama Kibum. Seperti sekarang ini―hampir seluruh isi kantin melirik ke mejanya lalu berbisik dengan teman disebelahnya. Tapi Jinki tidak begitu peduli.

“Kibum!” itu Taemin. Teman sekelas mereka yang paling berisik. Teman terdekat Kibum dan sama anehnya dengan Kibum. Namun terkadang Taemin lebih tidak tahu malu menurut Jinki.

Taemin sudah duduk disebelah Kibum. Mengabaikan tatapan orang-orang padanya. Mata pria itu berbinar senang seakan baru mendapat sebuah undian.

“Bum, kau tahu? Aku baru saja berkenalan―” Jinkk langsung membayar makanannya dan Kibum lalu pergi dari tempat itu seorang diri. Ia tidak suka mendengar suara berisik Taemin. Baginya, itu sangat mengganggu.

Kibum ingin mengikuti Jinkk―namun Taemin menahannya karena pemuda itu ingin bercerita. Taemim juga terlihat tidak tersinggung dengan sikap Jinki tadi.

“Kelompok kelima, Kim Kibum dan Lee Jinki.”

Jinkk tidak tahu apakah itu sebuah keberuntungan atau kesialan. Ia satu kelompok dengan Kibum dalam project Sejarah kali ini. Dan mereka memutuskan untuk mengerjakannya dirumah Jinki. Kibum yang memberi ide pertama tentang rumah Jinki dan Jinki menyetujuinya karena ia juga terlalu malas berjalan ke rumah Kibum.

Dan disinilah mereka sekarang. Kamar Jinki dan Jonghyun. Dengan Kibum mengerjakan tugas dan Jinki memainkan playstation -nya. Kibum terlihat tidak ingin protes―justru sebaliknnya, Kibum akan tersenyum kecil saat melirik Jinki yang memasang ekspresi seriusnya bahkan saat bermain.

“Lee Jinki, matikan ps-mu. Dan bantu temanmu mengerjakan tugas. Dia kesini untuk mengerjakan tugas kelompok bukan pribadi!” kata ibunya saat masuk ke kamarnya untuk mengantarkan makanan dan minuman. Jinki hanya mengiyakan dengan malas lalu mem- pause game-nya.

Jinki lalu bangkit dan mengunci pintu kamarnya saat ibunya keluar. Lalu, pemuda itu kembali bermain playstation. Kibum tertawa keras melihat kelakuan pemuda itu. Dan Jinki hanya berusaha untuk mengabaikannya.

“Sudah selesai?” tanya Jinki saat Kibum memilih menaruh laptopnya dan meminum minuman yang diantarkan ibunya. Kibum menggeleng sebagai jawaban.

“Tinggal bagian penutupnya. Kau mau mengerjakannya?”

Jinki menggeleng dengan matanya yang masih fokus pada layar televisi didepannya, “Aku tahu kau bisa mengerjakannya sendiri.”

Kib memutar bola matanya malas tapi tidak membantah perkataan pemuda itu. Tiba-tiba Kibum tertarik melihat sekelilingnya. Dikamar ini ada dua single bed terpisah. Ada juga lemari yang cukup besar. Dan sebuah kamar mandi. Lalu, Kibum menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Sebuah figura foto dua orang anak kembar dikamar itu―berusia sekitar 9 tahun. Kibum bangkit dan berjalan mendekat pada foto itu.

“Ini kau? Kau punya kembaran?” tanya Kibum. Bertepatan dengan hadirnya tulisan Game Over

dilayar televisi. Jinki mengeram sebal dan tidak mendengarkan pertanyaan Kibum.

“Jinki, kau punya kembaran?” Kibum bertanya lagi sambil mendekati pemuda itu lalu menepuk bahunya pelan. Jinki menoleh dengan kening berkerut menatap Kibum.

“Itu fotomu, kan? Kau kembar?” tanya Kibum lagi sambil menunjuk figura foto yang tadi ia lihat. Jinki mengikuti arah jari telunjuk Kibum dan kembali menatap pemuda itu aneh.

Itu fotonya dan Jonghyun saat berumur 9 tahun. Jonghyun yang memajangnya disana. Jinki tidak mengerti kenapa Jonghyun selalu memajang foto itu dikamarnya sejak dulu. Pria itu juga memajangnya dikamarnya dirumah lama mereka dan rumah-rumah sebelumnya. Padahal mereka memiliki foto yang lebih baru―saat mereka memasuki SMA misalnya.

“Jinki, aku bertanya padamu bukan memintamu melamun.” kata Kibum kesal karena pertanyaannya tak kunjung dijawab. Dan sekarang  Jinki malah melamun.

“Kau pura-pura tidak tahu atau benar-benar tidak tahu?” Jinki bertanya balik. Jinki tidak mengerti, Jonghyun satu sekolah dengan mereka. Dan ini sudah dua bulan sejak mereka sekolah disana dan Kibum masih tak menyadari kehadiran Jonghyun juga?

“Aku benar-benar tidak tahu.” kata Kibum. Kibum tidak mengerti, mengapa Jinki berpikir ia pura-pura tidak tahu? Tak ada untungnya juga ia berpura-pura tidak tahu.

“Aku punya kembaran. Namanya Jonghyun. Dan dia sekolah disekolah yang sama dengan kita.”

“Dia dikelas mana memang? Kenapa kalian pisah kelas? Biasanya anak kembar selalu satu kelas.” Kibum menatap Jinkk terkejut. Pantas saja Jinki berpikir ia berpura-pura.

“Dia dikelas A.” jawab Jinki singkat. Namun langsung membuat ekspresi terkejut Kibum berubah. Kibum tertegun mendengar jawaban Jinki. Ia menelan salivanya kasar.

“Well, dia pasti sangat pintar ya.”

“Dia kutu buku. Dia sudah menjadi pecinta buku sejak kami di Sekolah Dasar.”

“Oh? Apa dia menggunakan kacamata juga?” Jinki menggeleng. Jonghyun memang kutu buku tapi tidak terlalu terlihat seperti kutu buku juga.

Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dan Jinki langsung mengenali orang yang mengetuk begitu orang itu berkata, “Jinki, ini aku.”

Jinki membuka pintunya dan mendapati kembarannya yang baru pulang. Dan dari situ Kibum bisa mengamati kedua pria kembar itu karena mereka sedang berhadapan sekarang.

Jinki lebih tinggi dari Jonghyun beberapa senti. Namun Jinki juga terlihat lebih kurus daripada Jonghyun. Wajah mereka benar-benar mirip. Kibum tak menemui perbedaan sama sekali diwajah mereka. Perbedaan mencolok diantara keduanya hanyalah warna dan gaya rambut mereka. Warna rambut Jinki pirang platina sedangkan Jonghyun hitam. Lalu rambut Jonghyun tampak lebih rapi dari rambut Jinki.

“Kenapa mengunci pintu?” Jonghyun bertanya. Nada suaranya terdengar lebih bersahabat ketimbang milik Jinkj.

“Aku sedang mengerjakan tugas dan tak ingin diganggu.” jawab Jinki. Nada suaranya terdengar datar dan dingin seperti biasa. Awalnya Kibum pikir Jinki hanya menggunakan nada suara itu padanya―tapi hari ini ia tahu pemuda itu menggunakan nada suara seperti itu untuk berbicara pada semua orang termasuk keluarganya.

Jonghyun melirik kearah Kibum yang hanya diam memperhatikan mereka sejak tadi. Ia berjalan melewati Jinki, lalu menaruh tasnya dimeja belajarnya dan berjalan mendekati Kibum.

“Oh, kau membawa teman?” tanya Jonghyum yang sedikit terkejut melihat kehadiran Kibum disana. Matanya memandang Kibum dengan pandangan bersahabat dan tersenyum ramah pada pemuda itu sambil mengulurkan tangannya, “Aku Jonghyun. Kau?”

“Kibum. Kim Kibum.” Mereka berjabat tangan untuk beberapa saat. Jonghyun yang mendengar jawaban pemuda itu tiba-tiba teringat sesuatu.

“Oh, kau yang bernama Kibum.” kata Jonghyun membuat Jinki menatap kembarannya itu dengan tatapan penasaran, “Teman sekelasku sering membicarakan tentangmu.”

Ekspresi Kibum langsung berubah. Wajahnya tiba-tiba terlihat seperti orang ketakutan. Jonghyun langsung menyesali kata-kata saat menyadarinya.

“Err―aku hanya mendengar kalau kau dulunya anak kelas A juga. Kata mereka kau sangat pintar sebenarnya.” Kibum tahu Jonghyun berbohong. Ia tahu dengan jelas bagaimana anak-anak kelas A mengatainya.

“Aku―aku akan melanjutkan tugas kita dirumah. Ini sudah malam aku harus pulang, Jinki-ah.” kata Kibum sedikit terbata sambil terburu-buru merapikan tasnya. Ia mencabut flashdisknya dari laptop  Jinki lalu beranjak dari sana. Jinki mengangguk sekilas untuk menjawab kata-kata Kibum. Sementara Jonghyun menatap pemuda itu pemuda itu dengan rasa bersalah.

“Aku mandi duluan.” kata Jinki. Ia hendak membuka kaos bagian atasnya―namun Jonghyun menahan tangannya.

“Setidaknya antar temanmu sampai pintu depan dulu.” kata Jonghyun. Kibum yang mendengarnya hanya bisa diam sambil tetap memasukkan barang-barangnya.

“Dia tahu dimana pintu depannya.” balas Jinki lalu melepas tangan Jonghyun dilengannya. Jonghyun menghela napas melihat kelakuan kembarannya yang kini sudah bertelanjang dada dan hendak mengambil handuknya lalu beranjak mandi.

“Biar kuantar sampai pintu depan, Kibum-ssi.” kata Jonghyun lalu berjalan bersama Kibum keluar kamar. Ibunya pergi berkerja untuk shift malam. Dan Joohyun masih ada kelas, jadilah hanya ia dan Jinki yang ada dirumah.

Jonghyun sebenarnya sudah mendengar semua rumor tentang Kibum dari teman sekelasnya. Jonghyun bukan tipe orang yang termakan kata-kata orang begitu saja, ia ingin membuktikan sendiri. Itu sebabnya ia memperhatikan Kibum sejak tadi. Pria itu menunduk dengan wajahnya yang memerah saat melihat Jinkj bertelanjang dada dikamarnya tadi. Membuat Jonghyun tiba-tiba yakin sebagian dari rumor itu benar.

Namun Jonghyun juga yakin sebagian lagi tidaklah benar. Kibum terlihat seperti anak baik-baik. Jauh dari seperti yang orang-orang bilang.

“Err―terima kasih sudah mengantarku sampai sini, Jonghyun-ssi.” kata Kibum saat mereka sudah sampai dipintu depan.

“Jangan terlalu formal padaku. Panggil Jonghyun saja.”

“Kau juga memanggilku Kibum-ssi tadi.” Kibum kembali menunduk untuk menghindari wajah Jonghyun. Jika Jonghyun sudah mendengar tentangnya―maka Kibum sama sekali tidak berani menunjukkan wajahnya pemuda itu. Ia kelewat malu.

“Jadi aku boleh memanggilmu Kibum saja?”

“Err―tentu.”

Kibum tidak mengerti mengapa respon Jonghyun seperti ini padanya. Jonghyun kelewat ramah padanya. Padahal seharusnya pemuda itu sekarang memandangnya jijik jika ia sudah mendengar semua tentangnya―seperti yang dilakukan anak kelas A lain.

“Aku minta maaf karena membuatmu tidak nyaman dengan kata-kataku tadi. Aku tidak bermaksud begitu.” kata Jonghyun lagi. Kibum langsung mendongak menatap pemuda itu tak percaya. Pria ini―sopan sekali.

“Tak apa, Jonghyun-ah. Itu bukan salahmu.” Kibum menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tiba-tiba ia merasa canggung berada didekat pemuda ini, “Kalau begitu aku permisi dulu.”

Kibum langsung pergi meninggalkan kediaman keluarga Lee itu. Namun sebelum Kibum benar-benar menghilang dari halaman rumah itu―Kibum masih bisa mendengar kata-kata terakhir Jonghyun.

“Hati-hati dijalan, Kibum.”

Kibum bersumpah itu pertama kalinya seseorang dari kelas A mengatakan itu padanya setelah mengetahui aibnya. Jonghyu  benar-benar berbeda.

TBC

Advertisements