​Lee Jinki

Kim Kibum

Kibum menatap kesal pemandangan didepannya. Bibirnya mencebik lucu. Wajahnya memperlihatkan raut masamnya yang justru membuatnya terlihat menggemaskan.
Kibum benar-benar jengkel sekarang ini. Ia sudah menunggu hampir satu setengah jam namun seseorang yang ditunggunya tidak kunjung datang. Kibum bersumpah akan memarahi orang itu nanti saat orang itu datang.
Kibum mengecek ponselnya lagi. Ia berharap seseorang itu memberinya kabar -setidaknya-. Namun tidak ada sama sekali pesan dari orang itu. Apa orang itu lupa ini hari apa?
Kibum menyerah. Ia beranjak dari bangku taman itu. Tangannya mengepal erat. Masa bodo jika orang itu datang dan tidak menemukannya disana. Tapi Kibum yakin orang itu tidak akan menunggunya seperti dirinya menunggunya.
Kibum tidak tau kenapa dadanya terasa sesak. Ia jadi seperti remaja cengeng yang menangis hanya karena kekasihnya ingkar janji padanya. Kekasihnya? Ya seseorang yang ditunggu Kibum adalah kekasihnya sendiri. Namanya Lee Jinki. Dan hari ini adalah tepat sepuluh bulannya hubungan mereka. Kibum sudah meminta Jinki bertemu hari ini ditaman. Namun tidak ada respon dari pria itu. Pria itu tidak membalas pesannya apalagi memcoba menghubunginya. Apakah pria itu terlalu sibuk bahkan untuk menelpon atau sekedar mengirimkan pesan singkat yang menunjukkan pria itu ingat hari apa sekarang?
Kibum tidak mengerti apa yang membuatnya bertahan dengan pria itu. Kibum tau Jinki itu tipe pria yang cuek. Namun apa itu juga berlaku pada Kibum? Seharusnya pria itu membuang sifat cueknya saat bersama Kibum. Namun Lee Jinki tetaplah Lee Jinki.
Kib berjalan sambil merunduk agar ia tidak jadi tontonan orang-orang karena menangis dijalan. Hingga akhirnya Kibum menabrak seseorang. Kibum terpaksa mendongak untuk meminta maaf kepada orang tersebut.
“Kibum?” Pria yang ditabraknya terlihat terkejut, begitupun dengan Kibum.
“Jonghyun hyung?”
.
.
.
.
.
“Bagaimana kabarmu sekarang, Bum?” Jonghyun meneguk latte yang tadi ia pesan, begitupun dengan Kibum. Mereka kini sedang berada disebuah cafe. Jonghyun yang mengusulkan untuk berbincang sebentar disini.
“Aku baik. Kau sendiri, hyung?”
“Aku masih tampan dan baik, tentu saja.” Kibum tersenyum geli mendengar jawaban Jonghyun.
Kim Jonghyun adalah seniornya dan Jinki ketika mereka SMA dulu. Pria itu terkenal dengan keramahan dan kelucuannya ketika sekolah dulu. Jonghyun juga begitu perhatian dengan Kibum -dulu-. Berbeda sekali dengan Jinki.
“Ehm, Kibum,”
“Ya hyung?” Jonghyun meneguk salivanya. Ia berusaha mencari kata yang tepat untuk bertanya pada pria didepannya ini.
“Kau tadi … menangis?”
“Ah tidak. Mataku hanya kelilipan tadi hyung.” Alasan klasik. Kibum langsung berpura-pura tersenyum ceria didepan Jonghyun. Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain.
“Oh begitu,” Jonghyun sebenarnya tidak begitu percaya dengan Kibum. Dari wajah Kibum saja terlihat kalau Kibum  sedang bersedih. Namun ia tidak ingin mencampuri urusan orang lain jika orang lain itu tidak meminta bantuannya.
Keheningan melanda mereka untuk beberapa saat. Pandangan mata Kibum jatuh kepada sepasang kekasih yang tengah bermesraan disudut cafe. Sang pria menyuapi kekasihnya sementara kekasihnya-sang wanita- mencium pipi pria itu setelah pria itu menyuapinya. Kibum tau akan terasa aneh jika ia dan Jinki yang seperti itu didepan umum mengingat mereka berdua itu sama-sama pria. Namun, hati kecilnya tidak bisa berbohong jika ia menginginkan diperlalukan seperti itu oleh kekasihnya.
Jonghyun yang menyadari jika Kibum sedang melamun, tersenyum kecil.
“Kau tau, Bum? Sebagian dari pasienku dulunya keseringan melamun,” Kibum merona malu mendengar sindiran Jonghyun. Kibum yang salah tingkah akhirnya memilih untuk menunduk.
Jonghyun adalah seorang psikiater. Pria itu memutuskan menjadi psikiater sejak kakaknya mengalami gangguan jiwa. Bukan hal yang sulit bagi Jonghyun untuk membaca masalah seseorang.
“Berbagi itu memang sulit. Entah itu berbagi kebahagian atau ke bahagian atau kesedihan, benar kan?” Jonghyun mengedipkan sebelah matanya pada Kibum membuat Kibum semakin merunduk. Kibum tau dengan jelas maksud dari perkataan Jonghyun. Jonghyun kembali meneguk lattenya saat melihat Kibum yang salah tingkah.
Kibum terdiam. Pikirannya menimang-nimang sesuatu. Apakah ia harus menceritakan masalahnya pada Jonghyun atau tidak. Namun mengingat profesi Jonghyun, Kibum rasa tidak ada salahnya bercerita kepada pria ini.
“Hyung… boleh aku cerita?”
.
.
.
.
.
Kibum menghembuskan nafasnya. Ia berusaha menghilangkan nervous yang melandanya. Setelah bercerita pada Jonghyun kemarin, Kibum memutuskan hari ini ia akan menanyakan pada Jinki tentang perasaan pria itu padanya. Sejujurnya, selama ini Kibum meragukan perasaan Jinki padanya. Jika Jinki memang masih mencintainya, Kibum akan mencoba bertahan dengan pria itu. Namun jika tidak… Kibum tidak tau apakah dia sanggup untuk mengakhiri hubungan mereka. Sesungguhnya ia sangat mencintai pria itu.
Pintu lift tersebut terbuka, Kibum melangkah keluar. Ia berjalan menyusuri lorong apartemen. Hingga akhirnya ia sampai didepan apartemen Jinki. Kibum mengetuk pintu tersebut. Tangannya meremat ujung kaosnya. Jantungnya berdegup kencang menunggu Jinki membukakan pintu.
Sebenarnya, Kibum tau password apartemen Jinki. Namun Kibum tetap sungkan jika harus masuk apartemen orang tanpa ijin orangnya. Meskipun orang tersebut adalah kekasih.
Pintu tersebut terbuka, menampilkan Lee Jinki dengan rambut berantakan dan wajah mengantuknya. Kibum bisa menebak jika pria itu baru bangun. Sementara Jinki terbelalak kaget melihat Kibum yang ternyata adalah tamu dipagi harinya. Jinki menutup pintu apartemennya hingga hanya tersisa celah untuk tubuhnya.
“Ada apa, Kii?” Jinki segera memasang poker facenya dengan sangat baik. Kening Kibum berkerut saat melihat gerak-gerik Jinki yang aneh. Namun ia berusaha menutupi rasa curiganya. Ia berusaha mengingat kata-kata Jonghyun.
Kejadian negatif kebanyakan berasal dari pikiran negatif.
Kibum berusaha menanamkan dalam pikirannya jika ini tidak mungkin seperti drama-drama yang sering ia tonton. Tidak mungkin kan Jinki berselingkuh lalu sekarang pria itu mencoba menutupinya dari dirinya. Ah tapi sial, kenapa ini mirip adegan-adegan yang ditontonnya dalam drama-drama?
Jinki mengerutkan keningnya melihat Kibum yang melamun. Namun sedetik kemudian, Jinki tersenyum tipis. Ia bisa menggunakan kesempatan ini. Jinki masuk kedalam apartemennya dan menutup pintunya pelan. Ia berharap lamunan Kibum akan berlangsung lama.
Namun ternyata tak lama Kibum sadar dari lamunannya. Wajahnya memerah karena emosi. Apa-apaan pria itu?! Setelah kemarin pria itu tidak menghubunginya sama sekali, pria itu sekarang malah menghindarinya?!
Kibum rasa kesabaran yang sudah ia kumpulkan sejak kemarin hilang entah kemana. Kibum menggedor-gedor pintu apartemen Jinki dengan brutal. Tidak peduli jika ia akan mengganggu ketenangan penghuni lain apartemen tersebut.
“LEE JINKI! BUKA PINTUNYA!”
Tidak ada jawaban dari dalam apartemen Jinki. Sungguh, Kibum ingin meninju wajah -tampan- menyebalkan kekasihnya.
“JINKIII!”
Masih tidak ada jawaban sama sekali.
“DUBU JELEK LEE JINKIII!”
Beberapa penghuni lain apartemen mulai terganggu dengan teriakan Kibum. Mereka keluar dan memberikan tatapan mematikan pada Kibum yang mengganggu ketenangan pagi hari mereka. Namun Kibum tidak perduli dengan tatapan mereka. Yang ada dipikirannya sekarang adalah melampiaskan amarahnya pada Jinki.
“LEE JINKI, BUKA PINTUNYA SEKARANG ATAU KITA PUT-”
Pintu apartemen Jinki terbuka -sebelum Kibum menyelesaikan perkataannya- dan menampilkan Lee Jinki dengan pakaian dan gaya yang berbeda. Jinki membekap mulut kekasihnya lalu menariknya masuk kedalam apartemennya -setelah sebelumnya meminta maaf lewat tatapan matanya pada tetangganya yang terganggu oleh polusi suara Kibum -.
Jinki menutup pintu apartemennya lalu bersandar pada pintu apartemennya masih dengan tangan membekap mulut Kibum. Kibum baru saja berniat akan menggigit tangan Jinki, namun saat menyadari kondisi apartemen Jinki, Kibum justru terdiam. Jinki yang melihat Kibum udah tenang, mulai melepaskan tangannya dari mulut pria itu.
“Jinki, kenapa disini gelap?”
Jika tidak ada cahaya dari ventilasi udara diapartemen Jinki ini pasti Kibum sudah menambahkan kata ‘sangat’ pada pertanyaannya. Namun cahaya yang minim dari ventilasi udara tersebut tidak terlalu berarti. Semua lampu diapartemen Jinki dimatikan. Pintu balkon apartemennya tertutup. Bahkan gordennya pun masih ditutup.
“Memangnya kenapa kalau gelap, Kii?” Bukannya menjawab, Jinki justru bertanya balik. Dari suaranya, Kibum tau pria itu masih ada dibelakang tubuhnya.
“Ish, aku bertanya padamu tapi kau malah bertanya balik.” Bibir Kibum mengerucut lucu. Tangannya merogoh kantung celananya. Ia berniat untuk mengambil ponselnya agar bisa mendapatkan sedikit cahaya ditempat yang gelap ini. Namun, Jinki yang merasakan pergerakan Kibum -karena posisi mereka yang masih menempel- menghentikan pergerakan tangan Kibum.
“Jangan. Biarkan gelap seperti ini dulu.” Jinki mengatakannya tepat ditelinga Kibum. Sontak Kibum maju satu langkah lalu berbalik saat merasakan nafas pria itu ditelinganya. Jinki yang merasakan pergerakan pria itu secara spontan terkekeh kecil.
Tangan Jinki mulai menyentuh bahu Kibum. Jinki mendekatkan wajahnya pada wajah Kibum -ia masih bisa wajah pria itu walaupum samar-. Kibum yang merasakan nafas Jinki tepat didepan wajahnya reflek memejamkan matanya.
Hingga akhirnya Jinki mencium bibirnya. Awalnya hanya sekedar menempel. Namun setelah beberapa saat, Jinki mulai melumat bibir Kibum lembut. Jinki melumat bibir Kibum tanpa nafsu. Jinki hanya ingin menyalurkan perasaannya pada pria yang sedang dicumbunya ini lewat ciumannya.
Dan itulah mengapa alasan Kibum suka saat menciumnya. Karena hanya pada saat itu Kibum merasa Jinki juga mencintainya
Tanpa Kibum sadari, Jinki mulai menggiringnya tanpa melepas tautan mereka. Tangan kanan Jinku meraba dinding apartemennya sementara tangan kirinya memeluk pinggang Kibum.
Jinki tersenyum dalam ciuman mereka saat ia mendapatkan apa yang ia cari.
TIK
Tepat saat lampu tersebut menyala -setelah Jinki menekan saklarnya- Jinki menghentikan ciuman mereka. Ia sekarang bisa melihat wajah memerah Kibum yang membuat pria itu terlihat makin lucu.
Sementara Kibum, mulutnya menganga lebar saat maniknya menangkap dengan jelas seperti apa apartemen Jinki sekarang ini.
Pita-pita yang terhiaskan diatap-atap apartemen Jinki.
Balon-balon berbentuk hati yang berserakan disekitar sofa apartemem Jinki.
Boneka spongebob besar diatas sofa apartemen Jinki.
Dan yang paling menarik perhatian Kibum adalah kue red velvet yang terdapat dimeja makan Jinki.
“Kau… suka?” Kibum langsung menatap ke arah Jinki dengan matanya yang berkaca-kaca.
“Ck dasar cengeng.” Ledek Jinki.
“Aku menangis karena terharu, bodoh. Ini semua kan bukan gaya Lee Jink8 sama sekali.” Kibum langsung memeluk pria itu. Air matanya masih mengalar. Ia tidak perduli jika itu akan membasahi kemeja Jinki. Jinki membalas pelukan pria itu. Satu tangannya memeluk pinggang Kibum, sementara tangan yang satunya mengusak rambut pria itu.
“Aku bertanya dengan beberapa temanku tentang kejutan untuk kekasih yang tepat, ia menyarankan seperti ini. Awalnya kupikir ini lebih cocok untuk bocah, namun kau kan memang seperti bocah, jadi kurasa ini cocok untukmu.” Kibum memutar bola matanya malas mendengar ucapan Jinki yang mengatainya bocah. Air matanya sudah mulai berhenti mengalir. Setelah menghapus air matanya, Kibum melepas pelukannya.
“Kejutanmu akan sempurna jika kau mengatakan hal-hal romantis sekarang ini bukan malah mengataiku bocah, bodoh.” Jinki tertawa sementara Kibum tersenyum bahagia. Ia tidak pernah menyangka jika akan ada hari dimana Lee Jinki  berinisiatif memberinya kejutan.

Jinki berjalan menjauh dari Kibum. menekan tombol play pada CD Playernya. Lagu Can I Have This Dance langsung mengalun. Kibum tersenyum senang. Ternyata Jinki masih mengingat lagu pengiring ketika Jinki menyatakan perasaannya dulu pada Kibum. Jinki menghampiri Kibum.
Take my hand, I’ll take the lead
And every turn will be safe with me
Jinki mulai mengulurkan tangannya, mengajak Kibum untuk berdansa seperti dalam film aslinya. Kibum tertawa namun tetap menyambut tangan Jinki.
Don’t be afraid, afraid to fall
You know I’ll catch you threw it all
Tangan Kibum mengalung pada leher Jinki, sementara tubuhnya membuat posisi dirinya seperti akan terjatuh namun Jinki menahan punggungnya agar tidak terjatuh.
And you can’t keep us apart (even a thousand miles, can’t keep us apart)
‘Cause my heart is (cause my heart is) wherever you are
Dan mereka mulai berdansa waltz. Tangan kiri Kibum berada dibahu Jinki sementara tangan kanan Jinki berada dipinggang Kibum. Tangan kanan Kibum dan tangan kiri Jinki saling bertautan. Sementara kaki mereka terus menari mengelilingi apartemen Jinki.
It’s like catching lightning the chances of finding someone like you
It’s one in a million, the chances of feeling the way we do
And with every step together, we just keep on getting better
So can I have this dance (can I have this dance)
Can I have this dance
Setelahnya instrumental lagu tersebut mengalun. Namun temponya lebih slow sehingga membuat Kibun dan Jinki memelankan langkah mereka. Namun mereka tidak lagi memutari apartemen Jinki.
Kini kedua tangan Kibum berada dibahu Jinki, sedangkan kedua tangan Jinki berada dipinggang Kibum. Kibum menyenderkan kepalanya dibahu Jinki.
” Kibum,” Kibum yang namanya disebut menegakkan kembali kepalanya. Raut kebahagian tidak lepas dari wajahnya. Jinki melepas pelukannya dipinggang Kibum membuat Kibum ikut melepaskan tangannya dibahu Jinki.
“Kau menyinggung soal kata-kata romantis yang seharusnya aku ucapkan tadi kan?” Kibum mengangguk. Jantungnya kembali berdebar. Apa Jinki juga sebenarnya sudah menyiapkan kata-kata romantis untuknya?
Mata Kibum membulat saat Jinki berlutut dihadapannya. Tangan Jinki merogoh saku celananya. Dan Kibum tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat Jinki menyodorkannya sebuah cincin kepadanya.
“I’m not a romantic guy who always full of sweet seduction. I just wanted to give evidence, not just a promise. So, Kim Kibum, will you marry me?” Kibum tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia menangis -lagi- lalu mengangguk. Jinki langsung berdiri lalu memeluk pria itu. Jinki mengangkat tubuh Kibum lalu berputar-putar untuk menunjukkan kebahagiaannya.
“I Love You, Kibum.”
“Love You Too, Jinki~”
.
.
.
.
.
“Ngomong-ngomong, kenapa kemarin kau tidak membalas pesanku, Huh?”
“Sengaja.” Jawaban singkat Jinki membuat Kibum mengerucutkan bibirnya. Kumat lagi.
“Sengaja membuatku marah? Dasar menyebalkan.” Jinki terkekeh melihat kekasihnya yang kini merajuk padanya. Padahal beberapa jam yang lalu pria itu menangis karena terharu atas apa yang dilakukannya untuk pria itu.
“Kau bertambah jelek saat sedang marah dan aku suka melihat wajah jelekmu.”
“Jinkiiii~”
“Aw, sakit sayang.” Dan Kibum yang kesal mulai mencubiti perut Jinki brutal.
Jinki memang cuek dan menyebalkan. Namun Kibum benar-benar mencintai pria itu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya tentu saja.
.
.
.
.
.
END

Advertisements