​Kim Key

Choi Minho

Choi Minho berjalan santai di koridor bagian selatan. Laki-laki dengan tinggi badan melebihi semampai itu memasang tampang keren. Kedua telapaknya dikantungi pada saku celana. Ia juga tersenyum untuk siapapun yang berpapasan dengannya.
Sesekali, ada beberapa adik tingkat atau kakak tingkat menyapanya.
“Annyeong, Minho sunbae~”
“Hai, Minho!”
“Siang, Minhonie~”
“Annyeong, sunbaenim~”
“Hola, hoobae tampan.”
Dan seterusnya—dan seterusnya—
Minho membalas semua sapa itu dengan ramahnya. Ia memang laki-laki yang rendah hati. Meski populer, ia tetap membumi. Maka tak mengherankan jika banyak murid mengharapkan menjadi kekasihnya.
Sudah tampan, tinggi, pintar, kaya, terkenal, bersuara merdu, anggota OSIS, salah satu atlet basket utama kebanggaan sekolah, tidak sombong pula. Bukankah kelebihannya bejibun?
Siapa sih, yang mampu menolak pesonanya?
Yang jelas, hampir seisi sekolah akan menggeleng pasti bila ditanya.
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Sudah banyak—sangat banyak malah—murid-murid mendatangi Minho dan meminta jadi kekasihnya.
Dan Minho sadar betul dengan semua itu. Namun nampaknya, di antara beratus penggemar tadi belum ada barang satu yang sanggup menggetarkan hatinya.
Minho masih lajang!
Nah, terlepas dari semua itu, Minho yang sekarang tengah membawa setumpuk buku.
Tadi ada guru yang kebetulan berpapasan dengannya dan memintai tolong laki-laki jangkung itu membawa titipan buku perpustakaan yang baru diantar pagi ini. Jadilah ia mesti ke perpustakaan untuk menaruh titipan tadi.
.
.
“Permisi, Nari Noona.” panggilnya ramah pada seorang perempuan cantik yang memakai kacamata.
Perempuan itu tersenyum hangat pada Minho, “Eh, Minho. Ada apa?”
“Ini, tadi Jung Seonsaeng menyuruhku menaruh titipan ini di perpustakaan.” jelas Minho sambil menunjuk boks besar yang berada di sebelah kakinya.
Nari memperhatikan boks besar itu intens. Kumpulan soal-soal? gumamnya dalam hati. Tak lama ia mendongak lalu menatap Minho. “Kalau begitu, bisa tolong kau letakkan disana?” titahnya halus.
“Siap, bos!”
Minho berjalan dengan mengangkat boks itu ke sudut perpustakaan yang lumayan sepi. Letaknya paling ujung, sebelah kanan rak-rak buku.
Bruk!
“Fyyuuuh~” Minho menghela napasnya.
Ia menyandar pada salah satu rak buku besar. Kaki jenjangnya diselonjorkan, kelopak matanya yang lebar ia katupkan. Jujur, Minho capek sekarang. Bermalas-malasan tak ada salahnya, bukan?
Jam sekolah sudah habis. Lagipula kegiatan OSIS selesai dari tadi, sejak anggotanya sudah membubarkan diri masing-masing…, tanpa dikomando.
“Cari bacaan saja, deh~” gumamnya tak lama kemudian.
Minho merangkak mendekati rak etalase tak jauh darinya. Ternyata itu kumpulan buku-buku novel. Sibuk memilah buku yang menarik perhatiannya sampai ada keluhan kecil merasuk pendengarannya.
“Ih, kenapa ini tinggi banget?!”
.
.
“Ya ampun, siapa sih orang gila yang bikin ini rak setinggi ini?”
Key mengeluh kesal. Sudah ada limabelas menit sejak ia berkutat dengan pekerjaan bodoh ini; menggapai sebuah buku!
Jadi begini, Key sedang mencari buku, tapi sialnya—buku yang Key cari itu justru letaknya di atas rak besar ini. Jadilah ia harus berjinjit-jinjit menggapainya. Satu fakta yang mesti diketahui; dia cukup pendek untuk murid laki-laki seumurannya. Jangan tatap begitu, ini hanya masalah gen. Selebihnya, Key tetap lucu, kok! Eh? Lucu? Dia laki-laki. Terserahlah kau menyebutnya apa.
“Dikit lagi, ayo…, hampir dapat.” ucap Key menyemangati diri sendiri.
Baiklah, Key akan berusaha lebih keras!
Limabelas menit berselang—
Frustasi. Key frustasi.
Sebegini jahatkah takdir mempermainkannya?
Oke, mungkin perumpamaan itu berlebihan. Tapi ya ampun, demi Tuhan kenapa rak-rak itu mesti setinggi ini? Orang gila mana yang buat?
Masalahnya, Key sudah berjinjit. Bahkan sampai kelingking kecilnya terasa kebas, buku itu hanya ujung sampulnya yang mampu tersentuh.
Tapi sudahlah. Key capek. Menyerah saja.
Akhirnya Key bersandar pada dinding sambil menyelonjorkan kaki.
Namun ketika ingin memejamkan mata, sekelebat Key melihat bayangan seorang murid laki-laki dengan tinggi—uh, sialan, bikin iri saja—hampir sama dengan tiang listrik.
Tanpa mendongak atau menjinjit sama sekali, laki-laki itu dengan mudahnya mengambil sebuah buku bersampul tebal. Key melebarkan kelopaknya, lalu memicingkan mata untuk melihat buku itu.
Eh, bukankah itu novel yang tadi ingin kuambil?
Key bangun dari posisinya. Ia mesti merebut novel itu. Sudah lama ia mau membacanya.
.
.
“Hei, Tiang Listrik! Kembali kau,”
Dahi Minho mengerut mendengar lengkingan tujuh oktaf itu. Langkahnya terhenti sejenak namun sepersekian detik kemudian ia mengangkat bahunya. Minho kembali berjalan, mengabaikan suara itu.
Alis Key berkedut kesal. “HEI!”
Berlari kecil, Key akhirnya menghadang tubuh tinggi Minho dengan dua lengannya. “Hei, aku memanggilmu tadi, apa kau tuli?”
Minho tersenyum lembut, “Benarkah? Kupikir kau memanggil orang lain selainku…”
“Mana ada, Tiang Listrik disini kan cuma kau!” tuding Key.
“Tiang Listrik? Aku?” bingung Minho.
Key berkacak pinggang. “Tentu saja kau, siapa lagi? Dasar tolol!”
Minho menggeleng seduktif, “Nampaknya kau anak baru, ya? Kau benar tidak mengenalku?” Ia menunjuk dirinya sendiri. Minho bingung kenapa masih ada murid yang belum mengenal dirinya. Kalau angkatan kemarin…, sudah pasti semuanya kenal Minho.
“Hah! Untuk apa mengenalmu, kurang kerjaan!” Key mengerucutkan bibirnya.
Minho tergelak. Ia mencubit pipi putih Key cukup keras.
Plak—
“Sakit, bodoh!” maki Key.
Minho menyengir lebar. “Kenapa kau imut sekali?” katanya nggak nyambung. “Minho Choi imnida, ireum nuguya?”
“Key.” jawabnya singkat. “Sudahlah, aku tak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan Tiang Listrik aneh sepertimu, aku cuma mau ambil itu—” Key menunjuk pasti novel yang dipegang Minho.
“Ini?”
“Ish! Iya! Ternyata selain aneh kau itu juga lambat. Dasar Tiang Listrik!” cibir Key.
Laki-laki tinggi itu menautkan alisnya, baru sekali ini ia mendengar ada seorang murid berani mengatainya bodoh. Dan yang mengatainya itu seorang laki-laki pendek berpipi berisi yang baru saja ditemuinya belum lama ini.
Ayolah… Siapa tidak tahu Minho?
“Hoi, kenapa diam? Tiang Listrik gila!” cibir Key, lagi. “Cepatlah berikan buku itu padaku, dengan begitu kau bisa cepat pergi.”
Minho sontak tersadar dari lamunannya. Pemuda tinggi itu tersenyum kecil, “Tidak semudah itu, Key. Kau tahu, kau telah mengataiku tadi…, Nona pendek.”
“Whatever! Sekarang yang aku mau cuma buku itu. Cepat berikan!” Key melotot garang. “Dan—ya! Kau benar-benar tidak sopan! Aku ini namja, pabbo!”
Minho hanya menggeleng-geleng.
“Aku tidak mau cari masalah denganmu. Berikan buku itu! S-E-K-A-R-A-N-G!”
Minho terus menggeleng seduktif— “Kalau aku tidak mau, bagaimana?”
Mata sipit terlapis eyeliner milik Key langsung membulat marah. “Berikan!” bisiknya sambil memelototi Minho.
Key berusaha merebut novel itu. Tapi Minho malah semakin menjauhkannya dari laki-laki pendek ini.
“Cih! Kau akan menyesal telah membuatku kesal!”
.
.
“Ayo, katamu kau mau baca novel ini?” goda Minho.
Minho sengaja menggoda Key dengan menarik ulur novel itu ke hadapan laki-laki itu. Tangan Key menggapai-gapai.
Key menggeram, “BERIKAN!”
Tak perlu panik dengan keadaan sekitar. Perpustakaan sudah sepi sejak sepuluh menit duapuluh tiga detik yang lalu… Maklum, ini sudah sore. Dan sekarang sudah ada duapuluh menitan sejak Minho menggoda Key.
Set~
Telapak tangan mungil itu berhasil memegang sisi kanan novel itu.
Key menyeringai, “Dapat.”
Minho terkaget namun dengan gesitnya tangannya langsung menarik kembali novel itu.
Maka, terjadilah adegan tarik-menarik yang tidak terelakkan—
“Berikan!”
“Andwae.”
“Berikan!”
“Andwae.”
“Berikan!”
“Andwae.”
“Berikan!”
Novel itu tak ada berhenti berpindah tempat. Kadang di Key, tapi ujung-ujungnya pun balik ke Minho. Masing-masing dari dua laki-laki itu kukuh mempertahankan novel. Herannya, kenapa perpustakaan harus menyediakan satu novel yang semacam itu? Kalau banyak kan, Key bisa ambil yang lain. Tapi sepertinya sudah seperti itu jalan ceritanya.
Sekarang saja—
“BERIKAN! SEKARANG.” teriak Key, dengan nada suara melebihi tujuh oktaf.
Minho menggeleng, “TIDAK AKAN.” ucapnya mutlak.
Key berdecak, “Kau benar-benar membuatku marah!” Tangannya masih berusaha menarik dengan kuat.
Minho pun tidak jauh beda.
Seeettt—
Entah karena apa—mungkin terlalu lelah berebut—Key justru melepaskan genggaman tangannya pada novel tadi.
Semoga Tiang Listrik itu jatuh. Kalau perlu kepala anehnya itu membentur meja, doa Key nista.
Syung—
Minho kehilangan keseimbangan, tubuh tingginya terhuyung ke belakang.
Tentu saja karena Key—melepaskan genggamannya pada novel. Otomatis Minho yang sedang kuat-kuatnya menarik pasti akan terjatuh.
Sepersekian detik sebelum kejadian yang diprediksi Key akan terjadi…, tak disangka, Minho malah menarik lengan Key.
Dan novel itu terlempar dengan sangat dramatisnya…
Brugghh—
Set~
CHUUUUUUU~!
Lalu—
—satu ciuman manis tak terelakkan berhasil mendarat di bibir keduanya!
.
.
.
.
.
Yang mesti kita ketahui ialah kejadian tidak terduga kadang bisa berakhir cinta…

End

Advertisements