​Key adalah manusia ter-agresive di dunia. Apa jadinya jika Key merupakan..

*****
Sebagai Teman
Jinki selalu tak merasa sendiri karena Key selalu ada untuknya. Mendengarkan keluh kesahnya dan Key berusaha menjadi teman terbaik yang Jinki miliki. Dan Key akan pergi kemanapun Jinki melangkah.
Kelas fisika hari itu tetap saja membosankan, di tambah dengan cuaca terik di luar. Uhh semua orang tentu lebih memilih bersantai-santai sambil menikmati jus jeruk yang super segar. Jinki pun sama. Ia menguap beberapa kali namun masih saja mencatat materi di buku tulisnya. Bahu kirinya terasa berat sebelah. Ada Key disana yang tertidur di atas pundaknya. Tempat duduk Key memang sedikit tersembunyi di antara teman-teman yang lain.
“Hei bangun Key.” Jinki berbisik sambil menaik-turunkan bahu kirinya.
Key melengguh pelan namun kembali tidur. Jinki menaik-turunkan kembali bahunya.
“Bahuku terasa pegal. Kepalamu berat sekali, huh?” Ujar Jinki masih berbisik.
Key tak merespon. Kini ia mendekap lengan Jinki dengan erat dan membuat laki-laki tampan itu semakin sulit bergerak.
Jinki berdecak pelan. Ia meletakkan pulpennya di atas meja, dan melepaskan cengkraman Key disana. Key masih menutup mata namun cengkramannya semakin kuat saja, memaksa Jinki menambah kekuatan lebih.
Laki-laki manis itu mencondongkan tubuhnya semakin dekat pada Jinki dan tubuh itu semakin terdorong ke samping.
Pergulatan kecil itu pun terjadi. Dimana Jinki mencoba menarik paksa lengan kirinya dibantu tangan kanan dan Key tetap keukeuh mempertahankan lengan itu dalam dekapannya. Sambil terus mencondongkan tubuhnya pada Jinki.
Kau tau, itu sungguh sangat-sangat menjengkelkan..
Suara pergesekan kaki kursi pada lantai membuat suasana gaduh seketika. Beberapa orang siswa yang tadi tertidur pun ikut terbangun hingga…
BRUAKK
“Akh~!”
Suara yang lebih keras terdengar memenuhi ruangan. Jinki mengaduh tertahan yang di timpa Key di atasnya. Kepalanya ikut terbentur sudut meja sebelum mencium lantai kelas. Lalu di ikuti Key yang mendarat di atas badannya.
Oh! Itu benar-benar sakit.
Kelas menjadi sepi beberapa detik lalu diikuti suara tawaan membahana. Wajah Jinki memerah menahan malu. Key pun sama, ia membenamkan wajahnya dekat-dekat pada dada Jinki.
Guru Kang membenarkan letak kacamatanya sebelum menghampiri keduanya yang berbaring di lantai dengan posisi yang aneh.
“Jadi kira-kira hukuman apa yang pantas ku berikan pada kalian berdua?”
Jinki menahan nafas. Ia sudah tau kalau akan berakhir seperti ini dan Ia cukup mental sebenarnya.

“Jinki maaf–”

“tak apa..” Jinki menjawab cepat.

“apa punggungmu sakit?”

“tidak.”
Key terdiam dan menunduk. Sungguh ia tak menyangka jika Jinki akan terjungkal ke belakang. Ia hanya bosan dan hanya ingin sedikit menjadi hiburan. Dengan menganggu Jinki?
Dasar! Mereka tengah berada di dalam kolam berenang yang hanya memiliki air sampai betis. Menjalani hukuman membersihkan kolam berenang–yang demi apapun ini terlalu besar untuk ukuran kolam berenang pada umumnya–. Jinki bertanya-tanya kapan kolam ini terakhir di bersihkan?
Ada banyak lendir tak berwarna di dinding dan juga di dasarnya. Sedikit salah mengambil langkah maka mereka akan kembali mencium lantai.
“maaf Jinki. Tidak akan ku ulangi lagi.” Kata Key lirih. Jinki tak menjawab. Ia menggosok dinding-dinding kolam dan mengacuhkan Key yang berdiri di sampingnya.
“Jinki..-”

“aku baik-baik saja. Jadi bisakah kau berhenti mengoceh?”
Jinki bersuara datar. Namun Key tau jika Jinki tak marah padanya, mungkin kesal Ya. Key tersenyum lebar.
Ia mendekati Jinki dan melingkarkan kedua lengannya pada pinggang laki-laki itu.
 Menghentikan pergerakannya secara tiba-tiba. Punggungnya terasa nyaman bersandar pada dada Key yang memuluk ia dari belakang.
“Ku traktir bubble tea ya?” kata Key di telinganya.
Jinki tersenyum tanpa Key ketahui.
“Ok.”

Sebagai Tetangga
Sebuah truk berukuran sedang berhenti tepat di samping rumah Jinki. Ia tengah memperbaiki mesin motornya di halaman depan. Dan seorang laki-laki turun dari pintu di samping kemudi.
Laki-laki itu tampak memberikan arahan mana barang yang harus mereka bawa masuk ke dalam rumah di depannya, beserta cara bagaimana cara mengangkat barang tersebut.
Dan Jinki tau jika rumah kosong di samping rumahnya kini telah ada yang menempati. Jinki mempunyai tetangga baru ternyata.
Lalu Jinki kembali bergelut pada mesin motornya ketika sebuah suara menyapa dengan lembut.
“Hello.” Juga ramah. Jinki mengangkat kepalanya kembali. Menemukan sosok laki-laki yang memberikan arahan tadi berdiri di depannya kini.
Sebuah senyuman laki-laki itu layangkan padanya.
Jinki bangkit.
“Sepertinya kita adalah tetangga. Aku Key. Salam kenal.” Laki-laki bernama Key itu mengulurkan tangannya ingin berjabat.
Jinki mengangkat tangannya yang penuh oli dan Key paham. Maka ia turunkan kembali.
“Aku Jinki.”
“semoga kita dapat berteman dengan baik.” kata Key lagi.
Jinki mengangguk. “tentu.”
Setelah itu Key berbalik menuju rumahnya kembali.
***
Langit telah berubah gelap.
Jinki berniat untuk ke supermarket untuk membeli beberapa keperluannya sekalian ia akan makan malam di luar.
Pintu rumahnya di ketuk dari luar dan Jinki bergegas membukakan pintu. Key berdiri di depan pintu dengan senyum manis.
“Hai Jinki.” Key menyapanya.
“Key? Ada apa?” tanya Jinki, sedikit bingung karena Key yang menjadi tamunya.
“apa kau akan pergi?”
“seperti itulah.”
“benarkah? Padahal aku ingin mengundangmu makan malam, aku memasak banyak makanan.”
Jinki pikir itu bagus. Hei, bukankah Jinki memang ingin makam malam?
“hitung-hitung sebagai formalitas kita sebagai tetangga.”
“Baiklah.”
Jinki mengunci pintu rumahnya sebelum ikut langkah Key menuju rumah laki-laki manis itu.
Keadaan rumah Key memang sedikit berantakan dengan banyaknya kardus yang bertebaran di setiap sudut ruangan. Bagaimanapun Key baru menempati rumah ini tadi siang. Wajar jika masih banyak barang yang belum tertata.
“maaf sedikit berantakan.” Ujar Key. Ia menuju menuju sebuah meja yang Wow ada banyak sekali makanan disini.
Ada nasi gulung di atas piring yang besar, daging kepiting yang dengan campuran saus hitam yang tampak lezat, beberapa makanan yang tertata rapi dan Oh! ada kimchi juga.
Jinki semakin merasa lapar saja.
Key mempersilahkan ia untuk duduk dan mereka menikmati makan malam itu dengan posisi saling berhadapan.
“masakanmu rasanya enak.” puji Jinki sungguh-sungguh.
“benarkah? Terima kasih Jinki. Aku akan sering-sering mengundangmu untuk mencicipi masakanku kalau begitu.”
“Eh? Bukan seperti ini. aku—”
“Apakah sausnya terasa pas?”
Jinki hanya mampu mengangguk.
Selama makan malam itu berlangsung, mereka saling bertukar cerita–sebenarnya Key yang berbicara terlalu banyak– saling bertanya dan mereka terlihat tak lagi canggung seperti di awal-awal. 
“Jadi kau mahasiswa teknik mesin?”
Jinki mengangguk. “begitulah.”
“pantas tadi kulihat kau memperbaiki mesin motor mu.”
“bagaimana denganmu?”
“aku mahasiswa kedokteran. kau tau bukan betapa menyebalkannya nama dan jenis setiap sel ini itu. belum lagi beberapa istilah yang ah~ aku tak suka membahasnya.”
Jinki terkikik pelan.
“kau lucu sekali?”
Key menggembungkan pipinya dan Jinki mengatakan itu sangatlah imut.
“jangan katakan. Aku sudah bosan mendengarnya.”
Jinki hanya tertawa. Lagipula Key memang sangat imut dan— apa yang baru saja ku pikirkan??
“kau bilang kau akan tadi pergi, bukan begitu?”
“ah~ Ya. aku harus membeli beberapa keperluanku.”
“kau ingin ku temani?”
“Eh?”
“tak apa. sebentar aku akan berganti baju dulu.” Key melesat cepat masuk kamarnya tak membiarkan Jinki mengeluarkan suaranya terlebih dahulu.

Sebenarnya ini terlihat seperti Key-lah yang berbelanja sedangkan Jinki hanya menemaninya saja.
Key mengambil alih troli Jinki dan mendorongnya. Ia juga mengambil kertas yang berisi list yang harus di beli oleh Jinki.
Jinki merasa tak nyaman awalnya. Key bersikap seolah mereka telah lama akrab dan yeah semua terlihat aneh saja. Namun, entah mengapa Jinki suka hal itu. Ia membiarkan Key yang mengambil alih pekerjaannya.
“terima kasih Key.” Ucap Jinki sungguh-sungguh.
***
Berawal ketika pagi menjelang, Jinki telah mendapati Key di depan pinru rumahnya sendiri. Laki-laki manis itu kembali menghampirinya dan yeah sedikit modus, Key akhirnya berangkat ke kampus hari itu bersama dengan Jinki dengan motor milik Jinki sendiri.
Ia memeluk pinggang Jinki erat-erat sepanjang perjalanan mereka ke kampus.  Jinki berbaik hati mengantar Key sampai ke kampusnya walaupun jaraknya yang lumayan jauh sebenarnya.
Dan Jinki harus terbiasa ketika setiap paginya selalu mendapati Key yang duduk di jok belakang motornya dan dua lengannya yang melingkar pada pinggangnya. Jinki tidak tau mengapa, namun ini terasa menyenangkan.
“terima kasih, Jinki.”
Itu adalah ucapan terima kasih yang entah ke berapa kalinya, ketika Jinki telah menghentikan motornya di depan gerbang kampus Key. ia hanya akan tersenyum dan menjawab,
“Bukan masalah.”                                                    
Key telah melanjutkan langkah masuk ke dalam lingkungan kampusnya, ketika ia tiba-tiba berbalik dan mengecup pipi Jinki dengan cepat. Lalu tanpa mengatakan apapun ia langsung berlari menjauh dari sana dengan pipi yang telah merona.
Meski terkejut dan butuh beberapa menit untuk menyadari apa yang baru saja terjadi, Jinki hanya mampu tersenyum. Matanya masih fokus menatap sosok Key yang semakin mengecil dari pandangannya.

Sebagai Kekasih
Angin sore berhembus pelan di sekitar Key. suasananya nyaman sekali. Di salah satu ayunan itu terlihat Key meniup poninya berkali-kali dengan bosan. Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu Jinki di Jam Besar ini, namun Jinki belum saja datang menemuinya. Ok itu bukan salah Jinki. Tapi Key. ia berangkat satu jam lebih awal karena tak ingin Jinki menunggunya. Tapi kini malah berbanding terbalik.
Ia mendorong tubuhnya di atas ayunan itu.
Hingga akhirnya sebuah tangan menghentikan pergerakan ayunan itu. Key menoleh cepat dan mendapati sosok Jinki disana. Senyumnya merekah.
“Jinkiii!” Ia bangkit dengan cepat dan memeluk kekasihnya dengan hangat.
“Kau menunggu lama, ya?” Tanya Jinki. Tangannya bergerak membelai punggung Key dengan sayang. Key mengangguk dalam pelukan itu.
“Tidak apa-apa. Karena Jinki sudah datang.”
Mereka melepaskan pelukan itu.
“Kau ini bebal sekali, sudah berapa kali kukatakan jangan datang lebih cepat dari jadwal yang telah di buat.” Ia menarik ujung hidung Key pelan.
Laki-laki manis itu mengaduh sambil memengang hidungnya.
“Aku takut terlambat dan Jinki akan menungguku.”
Jinki tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Key dan laki-laki itu kembali merengut.
“Aigo~ kenapa aku bisa memiliki kekasih berhati malaikat sepertimu, hm?”
Rona merah muncul di pipi dan Key menunduk karena malu.
“ah~ kau membuat aku malu, Jinki.”
Jinki kembali mendudukkan Key di atas ayunan itu sedang ia berdiri di belakang. Mulai mengayunkan Key disana.
“Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?” Tanya Jinki dari belakangnya.
“Ngg…” Key bergumam. “Entahlah. Sebenarnya aku ingin melakukakn banyak hal, saking banyaknya aku bingung harus memulai dari mana.”
“Baiklah. Karena kau punya banyak, aku hanya akan memberikan kesempatan untuk mengatakan tiga hal yang ingin kau lakukan.”
“Untuk yang pertama…. Aku ingin selalu bersama Jinki…” Ucapnya polos.
Pergerakan Jinki sedikit melambat. Jinki tau jika ia takkan berhenti tersenyum malam ini.
“Kedua… eum.. aku ingin Jinki tetap mencintaiku—“
“dan… yang terakhir.. haruskah aku mengatakannya sekarang?”
Jinki mengangguk. “Tentu.”
“Karena yang terakhir selalu special, jadi akan ku katakan nanti.”
Key menghentikan ayunan itu dan kembali berdiri.
“Aku ingin makan ddobokki.”
“Apa ini termasuk dalam hitungan?”
“tentu saja tidak.”
***
Key memasukkan potogan ddobokki terakhir ke dalam mulutnya yang penuh. Perutnya terasa kembung dan panas. Jinki menatap Key dengan kasian. Ia tak dapat mencegah ketika Key terus saja memesan ddobokki setiap kali telah menghabiskan porsi yang awal. Key memiliki selera makan yang tinggi, Jinki tau itu.
Jinki menyorkan segelas air putih padanya dan Key menenguknya cepat-cepat.
“Kenyang sekali Jinki.”
“Kau ingin lagi?” Jinki sedikit menggoda.
“Sebenarnya Ya. Tapi perutku serasa akan meledak saja.”
“Baiklah. Kalau begitu saatnya pulang, sayang.”
Key mengangguk. Ia menunggu Jinki yang membayar semua tagihan ddobokki yang habiskan lalu bangkit. Perutnya serasa turun dan Key berjalan sedikit membungkuk. Ia bahkan berjalan terlalu lamban.
Jinki menghentikan langkah dan berjongkok di depan Key membuat laki-laki manis itu menyergit bingung. Ia tak mengatakan apa-apa dan naik ke punggung laki-laki itu dan Jinki kembali melanjutkan langkahnya.
“Jangan makan terlalu banyak, Ok?”
“Ok.” Sahut Key di belakangnya.
“Jinkiii…”
“Ya?”
“aku.. akan mengatakan hal terakhir yang ingin kulakukan.”
“Ok. Apa itu?”
Key tak langsung menjawab. Desahan nafas Key di hembuskan menggelitik daun telinga belakang Jinki.
“Aku ingin… Jinki menikah denganku.”
Dan dunia terasa berhenti saat itu juga.
***
Jinki telah sampai di depan rumah Key dan laki-laki itu turun dari gendongannya. Kembali berpijak di tanah.
“Hati-hati di jalan Jinki… setelah sampai di rumah, langsung beristirahat. Punggungmu pasti sakit.”
Jinki mengangguk. “Baiklah.”
Beberapa detik terdiam dan Jinki kembali membuka suaranya.
“Key.”
“Ya?”
“Aku akan menjawab semua permintaanmu.”
“Ng?”
“Lee Jinki akan selalu mencintai Kim Key dan Kim Key pun harus melakukan itu juga. Lee Jinki akan selalu berada di samping Kim  key apapun yang terjadi—“
“—apakah aku terdengar berlebihan?”
Key  menggeleng. Entah karena dingin atau karena hal yang lain yang pasti Key tengah merasa hangat di pipinya yang memerah. Jantungnya yang berdetak kencang dan Key merasa dunianya hampa, yang ia dengar hanyalah suara Jinki. Yang ia lihat adalah sosok Jinki yang berdiri di sampingnya kini.
“Aku tidak pandai merangkai kata-kata tapi—aku benar-benar mencintaimu. Sangat. Bahkan ku pikir duniaku hanya bepusat padamu—“
“Jinkiii…” Key memeluknya dengan cepat dan erat.
“kau bisa membuatku mati tersipu.. jangan katakan apapun lagi. Aku juga sangat mencintaimu—“
Jinki melepas pelukannya. Menatap Key dengan dalam. Jemarinya mengusap kedua pipi Key dan membawa bibir itu bertemu dengan bibirnya.
Menekan dengan lembut penuh perasaan. Dan Key merasa tak lagi berpijak di tanah. Tubuhnya seolah melayang hingga langit ke tujuh. Sapuan bibir Jinki pada bibirnya memang yang terbaik.
Jinki menarik wajahnya dan melepas bibir itu. mengecup kelopak mata Key yang tertutup lantas mata indah itu pun terbuka.

“Menikah lah denganku Kim Key.”

Satu anggukan Key berikan.

“Tentu. Aku hanya akan menikah denganmu Lee Jinki.”

*****
FIN

Advertisements