​Lee Jinki

Kim Kibum

Kibum merengut. Ia duduk sambil menopang dagu dengan bibir yang mengerucut dua senti. Membuatnya terlihat imut dan menggemaskan. Namun, sayang aegyo-nya itu tidak berhasil pada kedua sahabatnya, Jonghyun dan Taemin. Kedua orang itu hanya memandangnya malas. 
“Ya, Kibum. Kau kan’ sudah memilih ‘dare’. Jadi, kau harus melaksanakannya! Jangan seenaknya membatalkan begitu!” ketus Jonghyun. Taemin yang duduk di sampingnya ikut mengangguk-angguk membenarkan. 
“Oh, ayolah. Apapun selain itu. Aku tidak bisa!” ucap Kibum lagi, untuk kesekian kalinya. 
“Kau belum mencobanya, Kii. Coba saja dulu. Kalau kau gagal, berarti kau harus rela jadi pembantu kami selama sebulan.” Kata Taemin. 
“Aish… shireo!!! Aku tidak mau jadi pembantu kalian!” Kibum menghela nafas. “Baiklah. Aku akan mencobanya.” 
Kibum menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya lalu tertuju pada siswa yang duduk di bangku paling belakang ujung kanan. Siswa berambut hitam dengan rahang tegas, hidung mancung, dan kulit putih susu. Kedua matanya terbingkai kacamata baca berwarna hitam menatap buku di tangannya dengan bibir tebal yang terkatup rapat. Dia adalah Lee Jinki, si ketua kelas yang sudah terkenal seantero sekolah sebagai namja poker face karena ekspresinya yang selalu datar. Entah senang, marah, atau sedih, ekspresinya tetap sama sehingga tidak ada seorangpun yang dapat menebak apa yang sedang ia pikirkan. 
Kibum berjalan pelan mendekati namja itu. Memang ia tak begitu akrab dengan si ketua kelas karena kepribadian mereka yang sangat bertolakbelakang. Yang ia tahu, teman Jinki yang paling akrab hanyalah Minho. Bahkan dengan Minho pun, Jinki tetap namja poker face. Kibum tidak pernah melihat Jinki tersenyum pada Minho, apalagi sampai tertawa. Lalu, bagaimana Kibum, yang hanya sekadar teman sekelas itu bisa membuat Jinki tertawa? Ugh, Kibum menyesal telah ikut dalam permainan ‘truth or dare’ dengan Taemin dan Jonghyun. Mereka pasti sedang bergembira saat ini karena yakin bahwa Kibum akan gagal menjalankan tantangan-nya. 
Jinki mendongak saat menyadari ada seorang siswa yang menghampirinya. Siswa itu memiliki rambut berwarna cokelat karamel, mata kucing dengan bulu mata yang lentik, hidung kecil, dan bibir plum merah muda yang menampakkan seulas senyuman. Jinki hanya terdiam tanpa ekspresi. Agak terkejut juga mengetahui kalau orang itu adalah Kibum, teman sekelasnya. 
“Hai!” sapa Kibum sok akrab. Jinki hanya diam tak membalas, membuat nyali Kibum mendadak ciut dengan sikap tak bersahabat ketua kelasnya itu. Tapi Kibum tidak mau menyerah sekarang. Ia pun mengambil tempat duduk di depan Jinki dan menatap namja itu dengan wajah ceria. 
“Hmm.. Jinki. Aku punya cerita. Ini tentang gajah dan semut. Suatu hari seekor semut mendatangi seekor gajah. Kemudian sang semut membisiki sesuatu ke telinga sang gajah. Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sang semut, sang gajah tiba-tiba pingsan! Kau tahu kenapa gajah itu pingsan?” tanya Kibum. Matanya berbinar cerah menunggu sampai Jinki menjawab pertanyaannya. 
“Tidak.” Jawab Jinki dengan ekspresi yang sama, datar. 
Kibum tersenyum, “Ternyata semut tadi bilang, ‘Aku hamil, dan kau adalah bapaknya’ HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA….” Kibum tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa begitu keras. Semua siswa yang sempat mendengar lelucon yang diceritakan Kibum pun tertawa, termasuk Jonghyun dan Taemin. Namun, orang yang diceritakan di depannya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, membuat Kibum menghentikan tawanya. 
“Ya. Kenapa kau tidak tertawa? Itu adalah lelucon paling lucu, tahu?” tanya Kibum sambil menyeka liquid bening di sudut matanya. 
“Itu sama sekali tidak lucu.” Cuek Jinki lalu kembali membaca bukunya. 
Kibum mendengus kesal, “Aish… kau memang tidak asyik. Apa salahnya sih tertawa? Kalaupun itu tidak lucu, paling tidak kau bisa berpura-pura tertawa sebagai tanda simpati karena aku sudah berbaik hati menceritakan lelucon padamu. Ah, sudahlah. Aku tahu akan begini akhirnya.” 
Kibum meninggalkan meja Jinki kembali ke mejanya. Di sana sudah ada Jonghyun dan Taemin yang tersenyum penuh kemenangan. Kibum menempatkan bokongnya dan duduk dengan malas. Kepalanya terkantuk di meja dengan pipi kanan yang menempel. 
“Ingat untuk membelikan kami cup cake sepulang sekolah, Kii.” Ujar Taemin yang hanya dibalas gumaman oleh Kibum. 
Tanpa Kibum ketahui, sebenarnya kedua sudut bibir Jinki sedikit terangkat dan menampilkan seulas senyuman yang tak disadari siapapun. 
‘Menarik’ 
*** 
Dua minggu berlalu, dan hari demi hari dilalui Kibum dalam kesengsaraan. Jonghyun dan Taemin yang kini berstatus sebagai majikannya itu selalu saja menyuruh Kibum ini-itu. Pertama, mengerjakan PR mereka, walaupun Kibum sebenarnya tidak tergolong jenius untuk hal itu. Kedua, menemani kemanapun mereka mau, baik ke toilet, ruang guru, bahkan ke acara kencan bersama kekasih mereka yang berakhir Kibum menjadi obat nyamuk di sana. Ketiga, sebagai atm berjalan yang selalu membelikan apapun pesanan mereka, baik eyeliner untuk Taemin maupun kue-kue manis untuk Jonghyun yang menyebabkan uang jajannya habis hanya untuk hal itu. Padahal dimana-mana pembantu yang seharusnya dibayar, bukan? Aish, ini penjajahan namanya. Penjajahan akan kemerdekaan seorang Kim Kibum. 
“Ya! Aku sudah tidak tahan lagi. Ini penjajahan! Kalian memanfaatkanku.” Ketus Kibum sambil meletakkan pesanan Jonghyun dan Taemin di meja. Kedua orang itu hanya menghela nafas bosan mendengar kalimat yang sering dilontarkan Kibum tiga hari terakhir itu. 
“Itu hukumanmu, Kii. Kau gagal menjalankan tantangan dari kami, ingat?” Taemin mengeluarkan eyeliner dari saku almamaternya dan memakainya dengan hati-hati tanpa melihat cermin, benar-benar terampil. 
“Ya… Tapi…” Kibum menunduk sedih mengingat tugasnya hanya akan berakhir dua minggu lagi. Dua minggu! Bayangkan betapa lamanya itu. 
“Sebenarnya kami sudah membicarakannya, Kii. Bagaimana jika kau menjalankan satu tantangan terakhir dari kami? Kalau kau berhasil, masa hukumanmu akan berakhir.” Ujar Taemin di sela-sela memakan cup cake-nya. Kibum yang mendengar hal itu, matanya seketika berbinar penuh harap. 
“Oke-oke! Aku setuju!” ucapnya semangat. Taemin pun menutup eyelinernya lalu menatap Kibum serius. “Baiklah. Tantangannya adalah kau harus bisa membuat ketua kelas kita terkejut. Sebenarnya kami penasaran dengan ekspresi terkejutnya. Itu lebih mudah daripada membuatnya tertawa atau menangis, kan?” 
“Astaga, itu sama sulitnya tahu. Yang lain saja, please. Apapun yang tidak berhubungan dengan namja poker face itu!” mohon Kibum. 
“Kau sudah menyanggupinya, Kii. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Hukumanmu akan berakhir dua minggu lagi.” Ujar Taemin. Kibum menghela nafas panjang. “Baiklah.” Ujarnya. 
Bel tanda jam istirahat berakhir berbunyi. Kibum menata bekal makanannya yang sudah habis lalu meminum air putih dari botol. Siswa-siswa teman sekelasnya mulai memasuki kelas dan duduk di tempat masing-masing. Ketua kelasnya, Lee Jinki, menjadi siswa yang masuk paling akhir dan berdiri di depan kelas dengan wajah serius seperti biasa. Suasana kelas pun mendadak sunyi karena fokus mereka tertuju pada sang ketua kelas yang tampaknya akan memberikan pengumuman penting. 
“Jung songsaenim tidak masuk hari ini. Sebagai gantinya, kita diperintahkan mengerjakan tugas halaman 136 di buku paket dan kumpul di jam terakhir.” beritahu Jinki. Matanya melihat ke seluruh penjuru kelas. Memperhatikan teman-teman sekelasnya yang tampak memahami informasi tersebut. 
“Ne.” Jawab mereka serempak. 
“Kalau kalian ada pertanyaan, kalian bisa menanyakannya padaku.” Ucap Jinki lagi. 
Taemin segera mencolek bahu Kibum yang duduk tepat di depannya. Kibum menoleh sebentar dan mendapati bahasa isyarat Taemin yang mengatakan ‘Ini saatnya. Cepat buat Jinki terkejut.’ 
Kibum kembali menatap lurus ke depan dimana sang ketua kelas masih menunggu siswa yang ingin bertanya perihal tugas yang diberikan. Otak Kibum masih berputar keras memikirkan pertanyaan apa kiranya yang bisa membuat namja itu terkejut. Sebuah pertanyaan mendadak dan tak pernah disangka olehnya. Sebuah pertanyaan mengejutkan pastinya. Baiklah. Kibum sudah menemukannya. Dengan gerakan slow motion Kibum pun mengangkat tangannya. 
Jinki mengalihkan pandangannya pada siswa yang duduk paling depan itu. “Ya, Kibum.” 
Tatapan seluruh siswa kelasnya itu kini sedang tertuju pada Kibum. Memang sebuah pemandangan yang baru saat seorang Kim Kibum bertanya di kelas, apalagi pada Lee Jinki. Sehingga fokus mereka sepenuhnya tertuju pada siswa manis itu. 
Kibum berdehem sebentar, “Aku menyukaimu. Maukah kau jadi pacarku?” 
Dua kalimat itu sukses membuat seluruh siswa di dalam kelas itu terkejut bukan main. Bahkan mata sipit Taemin sudah melebar maksimal ditambah mata bulat Jonghyun yang semakin bulat seakan tak percaya akan apa yang baru saja mereka dengar. Fokus mereka pun segera berpindah pada sang ketua kelas menanti jawaban dan ekpresi seperti apa yang akan ditunjukan oleh namja itu. 
Ternyata ekspresi sang ketua kelas lebih mengejutkan lagi. Untuk pertama kalinya dalam satu semester, mereka melihat sang ketua kelas tertawa. Tertawa, catat. Jinki tertawa menampilkan deretan giginya yang rapi dan mata yang menyipit membentuk bulan sabit. Sebuah ekspresi yang baru pertama kali mereka lihat. 
“Hahahaha…” Jinki memegang perutnya yang mulai sakit karena tertawa. Bahkan, air matanya keluar dan menggenang di sudut matanya. Semua siswa terpaku tak percaya. Apalagi Kibum. Seingatnya, ia tidak sedang menceritakan lelucon pada sang ketua kelas. 
Jinki dapat mengendalikan dirinya lagi saat melihat wajah Kibum berubah merah padam. Aura tak menyenangkan dapat terlihat dari tatapan tajamnya. Kibum segera berdiri sambil memukul mejanya keras sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring. Suasana berubah tegang dalam sekejap. 
“Selera humormu buruk sekali, Lee Jinki.” Kibum memilih pergi meninggalkan kelas beserta seluruh penghuninya dalam perasaan bingung dan tak mengerti. Mereka pun menatap sang ketua kelas yang tampak shock dengan reaksi dari salah satu teman sekelasnya itu. 
“Kalian kerjakan tugas yang diberikan. Aku akan memanggil Kibum kembali.” Jinki beranjak keluar kelas. Taemin dan Jonghyun saling pandang sejenak dan menyadari bahwa mereka sempat melihat ekspresi khawatir yang ditunjukkan oleh sang ketua kelas. Taemin dan Jonghyum harus mencatat hari bersejarah ini dalam jurnal mereka. Hari dimana mereka bisa melihat ekspresi tawa, terkejut, dan khawatir dari seorang Lee Jinki. 
Kibum menuju rooftop gedung sekolah dan berdiri di sana sambil menghembuskan nafas panjang. Ia melihat pemandangan kota dari atas lalu kembali menghirup nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Hal itu ia lakukan untuk sekadar meredakan amarah yang meledak-ledak dalam dadanya. Ia marah pada Jinki. Marah karena Jinki tertawa di saat yang tidak tepat. Padahal seharusnya Jinki tertawa dua minggu yang lalu, saat Kibum menceritakan lelucon padanya. Bukan di saat Kibu. menginginkan ekspresi terkejut darinya. Namun, hal yang tidak ia terima adalah Jinki tertawa saat Kibum menyatakan perasaannya. 
Memang Kibum tidak serius mengatakannya. Tentu tidak. Kibum hanya menanyakan sebuah pertanyaan yang kiranya dapat membuat Jinki terkejut. Tapi reaksi Jinki terhadap pertanyaan itu membuat Kibum tersinggung. Bayangkan jika Kibum serius mengatakan hal itu. Mau ditaruh dimana wajah cantik-ralat-tampannya sekarang? 
“Maaf.” Tahu-tahu sang ketua kelas yang menjadi penyebab kemarahannya sudah berdiri tepat di sebelahnya. Kibum melirik sekilas namja itu dan kembali mengalihkan pandangannya pada bangunan pencakar langit di depannya seakan-akan hal itu lebih menarik dari wajah namja yang sedang menunjukkan perasaan menyesal itu. 
“Kau marah?” tanya Jinki. 
Kibum melirik sinis, “Tentu tidak. Untuk apa aku marah?” jawab Kibum dengan nada lebih tinggi dari biasanya. Dia tidak marah, ingat? Hanya sedikit emosi, mungkin. Jinki menatapnya dalam diam. Kedua sudut bibirnya terangkat melihat ekspresi Kibun -yang katanya tidak marah itu- sedang mengerucutkan bibirnya dengan melipat tangan di depan dada. 
“Baiklah, aku minta maaf, Kibum. Aku tahu aku sudah berlebihan tadi. Aku hanya terkejut, itu saja.” kata Jinki. 
Kibum melihatnya, “Terkejut? Hah! Seharusnya yang terkejut itu aku. Siapa yang menyangka ternyata namja yang terkenal poker face sepertimu bisa tertawa juga. Harusnya kau tertawa dua minggu yang lalu saat aku menceritakan lelucon padamu.” 
“Untuk apa aku tertawa karena lelucon burukmu itu? Itu memang tidak lucu, Kibum.” 
“Lalu apa yang lucu dari pertanyaanku tadi? Itu sama sekali tidak lucu, tahu!” Kibum masih memasang wajah emosinya. Menatap Jinki tajam dengan mata yang seakan-akan memancarkan api itu. 
“Jadi, kau serius mengatakannya?” tanya Jinki dengan tatapan tajam dan ekspresi datar andalannya. Kibum yang tersadar langsung gelagapan menanggapinya. 
“Ten.. tentu saja tidak! Siapa juga yang menyukai namja poker face sepertimu! Aku hanya menjalankan tantangan dari Taemin untuk membuatmu terkejut. Itu saja.” 
“Benarkah? Lalu kenapa kau marah?” 
Kenapa? Kibum juga tidak yakin. 
“Karena kau tertawa di saat yang tidak tepat!” seru Kibum ketus. 
Jinki menghela nafas, lalu kembali menatap Kibum yang sedang menatapnya juga. Jinki terdiam sejenak, menghirup nafas dalam. “Itu mengecewakan.” 
“Hah?” Kening Kibum berkerut tidak paham. Apanya yang mengecewakan? 
“Kupikir kau serius mengatakannya. Ya sudah. Lebih baik sekarang kita kembali ke kelas. Aku tidak mau kena hukuman dari komisi disiplin karena membolos demi meminta maaf pada siswa yang tidak serius pada ucapannya.” Jinki berbalik menuju pintu masuk. Kibum yang terdiam sejak tadi pun mengikuti langkah ketua kelasnya itu dengan pertanyaan yang masih mengganjal di pikirannya.

“Oh ya.” Jinki tiba-tiba berbalik, langkah Kibum terhenti tiba-tiba sehingga mereka tepat berhadapan dalam jarak hanya beberapa senti saja, membuat Kibum bisa menghirup aroma cologne yang memabukkan dari tubuh Jinki. 
“Aku bukan tertawa karena mengejekmu. Tapi karena aku senang kau menyukaiku. Walaupun… ya kau tak serius mengatakannya. Itu cukup membuatku bahagia.” Jinki semakin mendekatkan wajahnya di telinga Kibum membuat Kibum sedikit memundurkan kepalanya untuk menghindar. “Sebenarnya, aku menyukaimu.” 
Deg. 
Kedua mata Kibum melebar mendengar ucapan atau bisa disebut bisikan Jinki di telinganya itu. Jinki menampilkan seulas senyum lalu berbalik dan berjalan kembali meninggalkan Kibum yang masih terpaku di tempatnya. 
‘Apa itu tadi? Aku yang salah dengar atau dia yang salah ucap? Hah… Sudahlah.’ 
Kibum segera menyusul Jinki kembali ke kelas. Teman-teman sekelasnya cukup terkejut melihat Jinki dan Kibum yang datang hampir berbarengan. Jinki duduk di tempatnya dan membuka bukunya dengan wajah datar andalannya sedangkan Kibum kembali ke tempatnya dan membuka bukunya dengan kaku. Taemin yang duduk di belakangnya menepuk pundak Kibum membuat Kibum -mau tidak mau- berbalik sejenak. 
“Hei. Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali?” tanya Taemin penasaran. Kibum hanya mengidikkan bahunya tidak tahu. Kibum ingin berbalik menghadap ke depan saat Taemin kembali melontarkan pertanyaan yang membuatnya mati kutu. 
“Dan kenapa wajahmu merona, Kii?” 
Gawat. 

-Fin-

Advertisements