Lee Jinki

Lee Kibum

.

.

.

.

.

 

Disini ceritanya Jinki sama Kibum kembar ya. Kibum kakak nya dan Jinki adik nya.

.

.

.

.

.
Kibum terbangun kala sinar mentari berusaha menerobos masuk melalui celah ventilasi kamar, menembus jutaan lubang serat benang tirai jendela. Ia memegang kepalanya yang terasa pening. Darah rendah. Ingin sekali rasanya menjambak helaian surai madu dikepalanya guna mengurangi rasa tak mengenakan tersebut.
 
“E-eegh~ pusing…” keluhnya dengan suara parau.
 
Ia berniat meninggalkan ranjang namun tubuhnya berhenti bergerak ketika merasakan sesuatu yang hangat melingkari pinggang rampingnya. Kibum menoleh dan menatap sosok rupawan disebelahnya dengan mata sayu, ia mendesah pelan. Perlahan Kibum melepaskan tangan Jinki dari tubuhnya dan segera beranjak menuju kamar mandi yang memang ada dikamar mereka.
 
Suara percikan shower mulai terdengar samar dari luar kamar mandi, disusul oleh senandung pelan tanpa syair.
 
Jinki terbangun dan segera menyadari bahwa Kibum tidak ada disampingnya. Ia menyibak selimut dan membiarkan telapak kakinya merasakan dingin lantai kamar. Mendengar suara-suara dari kamar mandi, ia segera menyadari jika pastilah Kibum didalam sana. Pemuda berkulit putih itu menguap sejenak lalu mengusak helai darkbrown dikepalanya.
 
“Kibum, kau sedang mandi?” tanya Jinki didepan pintu kamar mandi seraya menggeliat, merentangkan kedua tangannya.
 
“Ung! Aku tidak akan lama!” balas suara dari dalam sana.
 
Jinki hanya mendengus kemudian melepas satu-persatu pakaian ditubuhnya dan menjatuhkannya begitu saja dilantai “Tidak perlu, aku akan masuk…”
 
“Okay, masuklah…”
 
Hawa hangat segera menyapa tubuh polos Jinki ketika ia memasuki kamar mandi, Kibum mandi dengan menggunakan air panas rupanya.
 
“Kau kedinginan?”
 
“Tidak, hanya saja…aku sedikit pusing.”
 
Jinki yang awalnya hendak meraih tube facialwash diatas wastafel, menoleh dan menemukan Kibum dibawah shower, tengah kesulitan menggosok punggunggnya. Ia lalu mengabaikan tube facialwash-nya dan melangkah mendekati pemuda bertubuh mungil tersebut, hingga tubuh tegapnya turut merasakan hangat butiran air yang berjatuhan dari lubang shower. Kemudian merampas begitu saja sponge sabun dari tangan Kibum.
 
“Ah, terima kasih…” ucap Kibum ketika Jinki mulai menggosok punggungnya dengan sponge penuh busa beraroma lemon segar.
 
“Jika merasa tidak baik, seharusnya tidak perlu mandi pagi…”
 
“Tubuhku juga berkeringat. Semalaman kau memelukku erat sampai terasa gerah, bodoh!”
 
Jinki tersenyum tanpa menyeka buliran air hangat yang membasahi parasnya “Maaf, kebiasaanku…”
 
“Cih, seenaknya…”
 
.
.
.
Jinki mulai merasa risih karena sejak memasuki gedung sekolah, Kibum terus saja memandanginya tanpa henti. Namun hebatnya, pemuda bertubuh mungil itu sama sekali tak mengalami hambatan meski berjalan tanpa memandang kedepan.
 
“Hei, Jinki…” ucap Kibum mendahului mulut Jinki yang hendak mengeluarkan suara.
 
“Hm?”
 
“Berapa…tinggimu sekarang?”
 
Tatapan penuh tanya kini melayang pada sang pemilik mulut yang baru saja bertanya. Detik selanjutnya Jinki nampak berfikir seraya memandang sejenak langit-langit koridor kelas.
 
“Hmm…182 sentimeter…seingatku…” (anggap aja tinggi nya Jinki segitu lah, hahahaha, nama nya juga FF)
 
Kibum berdecak kesal “Sialan. Aku lahir lebih dahulu mengapa selalu dirimu yang lebih segala-galanya dariku? Sebagai kakak, tidak seharusnya aku menengadah ketika menatapmu!”
 
“Sayang sekali, kakak…” ujar Jinki sedikit mencibir dengan senyum jahil diwajah tampannya “Sebagai kakak, kau juga harus selalu mengalah dariku.”
 
“Heh, bersyukurlah kau memiliki kakak yang selalu bermurah hati sepertiku.”
 
Keduanya berjalan bersama menyusuri lorong kelas. Suasana mulai ramai dikarenakan pelajaran akan dimulai beberapa menit lagi.
 
“Sebentar, aku mau ketoilet.” Ucap Kibum seraya menunjuk pintu toilet didepan mereka. Jinki tak mengatakan apapun kecuali hanya mengikuti langkah saudaranya kedalam sana.
 
Kibum menghampiri salah satu washtafel, air mengalir begitu saja ketika ia mendekatkan kedua tangannya pada mulut keran. Sementara Jinki hanya diam bersandar pada salah satu sisi dinding seraya menyusupkan kedua tangan dalam saku celana seragamnya.
 
“Ah, aku lupa memberitahumu.” Ucap Kibum membuat Jinki mendelik kearahnya. Mereka saling melempar pandang melalui cermin washtafel “Ayah dan ibu…mereka menghubungiku lewat video call saat kau sedang tidur siang kemarin. Sepertinya bulan ini mereka tetap tidak bisa pulang karena─”
 
“Akh! Enggh~ hentikan…akh, Minho…kubilang─”
 
Pemuda bertubuh mungil itu menghentikan ucapannya. Tatapannya pada Jinki berubah menjadi sedikit bingung. Keduanya menoleh kearah sumber suara, salah satu pintu bilik toilet nampak bergetar serta terdengar suara berisik seperti benturan dan…desahan─
 
“Ini tidak akan butuh waktu lama, Taemin. Masih ada beberapa menit sebelum masuk, hm?”
 
“Kubilang, akh─ setidaknya…ja-jangan seka…si-sialhh~”
 
Kibum mengeringkan tangannya dengan beberapa lembar tisu yang diambilnya dari slot yang tersedia disisi cermin. Ia dan Jinki masih menatap pintu bilik sumber kebisingan tersebut.
 
“Akh~ Cukup, hentikan!!” kali ini terdengar suara seperti benturan yang cukup keras, tak lama kemudian pintu terbuka menampilkan sosok seorang lelaki bertubuh mungil seperti Kibum dengan wajah manisnya yang nampak kesal. Ia tengah memperbaiki kancing seragamnnya yang kacau ketika itu. “Menyusahkan! Bisakah kau tidak berbuat seperti itu padaku sehari saja?!”
 
Disusul keluarnya seorang lelaki lain, kali ini bertubuh jauh lebih tinggi dan tegap, bersurai gelap dan mengenakan seragamnya secara asal…dari tempat yang sama.
 
“Selamat pagi! Kibum, Jinki!” ucapnya ceria. Ia bahkan tidak mengenakan dasi dan membiarkan ujung kemejanya diluar celana begitu saja.
 
“Pagi yang menyusahkan, hm? Minho.” Sahut Kibum setelah melempar gumpalan tisu-nya kedalam tempat sampah.
 
“100 persen tepat sekali, Kibum!! Apa kau tahu, aku baru saja meletakan tasku diatas meja dan orang ini langsung menyeretku kedalam toi─ hmppph! Hei, sialan! lepaskan─ hmmph!”
 
Kibum dan Jinki nampak tertegun melihat betapa gesitnya Minho ketika ia merengkuh Taemin dari belakang dan segera membekap mulutnya hingga pemuda yang merupakan kekasihnya itu kesulitan bicara…dan juga bernapas.
 
Minho lalu mendekatkan mulutnya ketelinga Taemin dan berbisik pelan “Akan lebih baik jika kau menjerit dan mendesahkan namaku ketimbang berbicara tak karuan seperti itu, sayang.”
 
Sepercik sengatan listrik segera menggelitik sekujur tubuh Taemin dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dengan wajah merona merah, sekuat tenaga ia melepaskan diri dari pelukan kekasihnya tersebut.
 
“Aku-tidak-akan-sudi!!” ejeknya seraya menjulurkan lidah kemudian berlari begitu saja meninggalkan toilet.
 
Minho berdecak dan mengacak helaian hitam pekat dikepalanya “Menyusahkan saja.” Keluhnya sambil melangkah mendekati pintu, namun ia menoleh kepada Jinki dan Kibum tepat sebelum memijakan kaki diluar pintu “Tolong katakan pada guru kalau aku dan Taemin izin tidak masuk kelas sampai istirahat siang nanti. Okay? Thank you! Bye!”
 
Hening menyeruak. Tak terdengar lagi suara langkah Taemin yang berlari atau pun Minho yang berjalan dengan santai.
 
“Ah, soal ayah dan ibu yang tadi kau bicarakan…bagaimana kelanjutannya?” tanya Jinki menyadarkan Kibum yang pada awalnya masih terdiam menatap pintu dimana Taemin dan Minho menghilang.
 
“Oh, mengenai itu…seperti biasa, mereka tidak akan pulang lagi bulan ini karena masalah pekerjaan. Besok mereka akan bertolak ke China atau kemana…entahlah.”
 
“Heeehh~ aku bertaruh kalau mereka tidak ingat alamat rumah kita.” Jinki mencibir.
 
“Haha! Mungkin saja.”
 
Bunyi bel terdengar nyaring memaksa Kibum dan Jinki untuk berlari menuju kelas mereka.
 
……………

“Ini apa? Cupcake coklat?”
 
“Hm.” Jinki menangguk tanpa mengalihkan perhatian dari layar notebook dihadapannya, pemuda berkulit putih ini telah berkutat dengan benda elektronik canggih itu sejak sekitar 20 menit lalu.
 
“Kau mendapatkannya darimana?” tanya Kibum lagi, kali ini ia terlihat mengendus aroma coklat yang menguar dari kotak ditangannya.
 
“Erika.”
 
“Erika? Siapa?”
 
“Erika Takagi. Murid pindahan dikelas sebelah.”
 
“Dia orang Jepang?”
 
“Begitulah.”
 
Kibum terdiam memandangi kotak imut ditangannya. Terdapat gambar dan tulisan lucu dengan warna yang menarik disana. Feminine sekali gadis yang memberikan benda ini pada Jinki, ia pikir…meski pun belum pernah bertemu dan melihat sosoknya secara langsung.
 
“Aku rasa gadis bernama Erika itu menyukaimu, Jinki.”
 
“Oh ya? Aku juga berfikir seperti itu.”
 
“Lalu?”
 
“Biasa saja.”
 
Mulut kecilnya kembali bungkam. Kibum kembali merasakannya, perasaan aneh yang kerap kali menghampiri hatinya ketika orang lain mencoba menjalin tali kedekatan dengan adik kembarnya itu. Ia memainkan kotak berisi cupcake ditangannya…seraya memikirkan hal-hal random yang membuat seisi kepalanya bagaikan diaduk-aduk dengan brutal. Memang, ini bukan kali pertama Jinki didekati seorang gadis ─atau bahkan laki-laki─ adik kembarnya itu memiliki cukup banyak penggemar, sering mendapat surat cinta dan juga kerap kali difoto secara diam-diam oleh pencari bakat yang berkeliaran dijalan, tidak heran jika esoknya foto Jinki terpampang jelas sebagai ‘Siswa SMA paling menawan’ dalam majalah, urutan pertama.
 
Mengapa?
Kibum sendiri tidak mengerti mengapa hati kecilnya mempermasalahkan hal tersebut.
 
“Kau boleh menghabiskannya. Benda itu sengaja kusimpan untukmu.”
 
“Eh?” Kibum berpaling memandang Jinki yang entah sejak kapan telah menatapnya. Pemuda berparas cantik itu mendengus “Kau tidak keberatan? Gadis itu memberikannya untukmu, bukan untukku…”
 
Jinki menghela nafas dan kembali memutar kursinya menghadap notebook. “Bukan masalah. Kita sudah terbiasa berbagi segala sesuatunya.”
 
Kibum tersenyum tipis. Ia merasa cukup puas, karena Jinki akan selalu mengutamakan kepentingan dirinya.
 
“Thanks.”
 
.
.
.
Saat ini jam telah menunjukan pukul Sembilan malam, dan karena udara cukup mampu memancing peluh, Kibum memutuskan untuk tidur hanya dengan mengenakan kaus dalam tipis dan celana training hitam panjang. Ia sudah siap diatas kasur, belum berbaring…pemuda bersurai coklat-madu itu menyempatkan diri menghabiskan waktu dengan bermain Play station Portable-nya.
 
Detik selanjutnya terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, uap air segera mengepul dari dalam sana, disusul keluarnya seorang pemuda tampan tengah bertelanjang dada seraya mengeringkan surai gelap dikepalanya dengan selembar handuk putih.
 
Jinki memandang saudara kembarnya yang bertingkah laku seperti anak sekolah dasar, begitu bersemangat memainkan PSP ditangannya.
 
“Ada sisa pasta gigi disikat gigi-ku. Berhentilah membeli sikat gigi dengan warna dan model yang sama denganku.“ ucap Jinki seraya melempar handuknya ke atas ranjang, bukan masalah…karena malam ini keduanya telah berencana untuk tidur diranjang Kibum.
 
“Maaf. Kebiasaanku…” sahut Kibum tak acuh tanpa mengabaikan PSP-nya sedikit pun.
 
“Cih, seenaknya.” Rutuk Jinki yang mulai melangkah mendekat kemudian menaiki ranjang Kibum. Menempatkan dirinya tepat dibelakang saudara kembarnya yang tengah duduk bersila memainkan PSP.
 
Jinki merengkuh pinggang ramping Kibum erat, dengan kedua tangannya. Kibum mulai kehilangan focus bermain PSP-nya…ujung dagu bangir Jinki menyentuh pundak kanannya, terasa hangat.
 
“Ada apa?”
 
Pemuda berkulit putih itu tak menjawab. Ia merendahkan tali kaus dalam ditubuh Kibum agar dapat lebih leluasa mengecup pundak lembut kembarannya tersebut.
 
Tanpa perlu melihat langsung, Jinki dapat mengetahui dan merasakannya…kini Kibum tengah tersipu.
 
“…Jinki?”
 
“Aku tidak merindukan ayah dan ibu. Aku tidak peduli mereka akan kembali atau tidak. Aku sama sekali tidak keberatan jika harus menghabiskan sisa hidupku tanpa kehadiran mereka.”
 
Rasa ketertegunan membuat tubuh Kibum membeku, ia masih memegang PSP-nya meski jemari kecilnya tak lagi bergerak menekan berbagai tombol disana.
 
Kedua orang tua mereka adalah orang yang tak pernah berhenti mengejar karir. Sejak kecil Kibum dan Jinki dibesarkan oleh pengasuh sementara orang tua mereka sendiri sibuk bekerja keberbagai tempat, meninggalkan anak kembar mereka.
 
Jinki dan Kibum adalah kembar identik sampai usia 10 tahun, sejak saat itu…mereka tumbuh dengan postur tubuh dan wajah yang berbeda. Dimana Jinki menjelma menjadi pemuda bertubuh tinggi sempurna, rupawan dan merupakan dambaan para gadis mau pun lelaki. Sementara Kibum, ia tumbuh sebagai pemuda berparas manis, bertubuh mungil dan lebih banyak didambakan lelaki ketimbang perempuan…kebalikan dari Jinki.
 
Namun semua perbedaan itu tak mengubah kenyataan bahwa mereka lahir dari satu telur yang terbelah menjadi dua.
 
Kibum tersenyum tipis lalu sedikit menoleh, bermaksud untuk melihat wajah Jinki…ia dapat merasakan puncak hidung Jinki mengenai pipi empuknya.

“Aku juga…tidak membutuhkan mereka.” Ucapnya lirih dengan kedua tangan memegang erat tangan Jinki yang melingkari pinggangnya.
 
Dan kemudian Kibum pun sedikit memutar tubuhnya agar ia dapat menatap lekat wajah Jinki, menangkupnya lembut dan mengecup pelan tiap lekuk pahatan indah tersebut.
 

 

“Aku ditembak.”
 
“HAH?!”
 
“Maksudku, seseorang menyatakan perasaannya padaku…”
 
“O-oohh…” Kibum mengambil gigitan kedua roti coklat ditangannya, perasaannya tiba-tiba saja menjadi kacau.
 
Keduanya kini tengah berdiri didekat jendela lorong kelas, waktunya istirahat siang namun baik Kibum atau pun Jinki sama sekali tak berniat mendatangi kafetaria sekolah untuk makan siang. Mereka lebih memilih membeli beberapa bungkus camilan lalu memakannya bersama sambil mengobrol dan bersenda gurau. Semua berlangsung wajar seperti biasa, sampai ketika Jinki membuka percakapan perihal seseorang yang menyatakan perasaan kepadanya.
 
Hal yang paling membuat Kibum gundah…adalah ketika seseorang mencoba menjalin tali kedekatan dengan Jinki.
 
Dan kini…
 
“Siapa…orangnya?”
 
“Gadis yang memberiku cupcake coklat beberapa waktu lalu.” Tanpa ragu Jinki menjawab.
 
Kibum menelan rotinya dan menghela nafas “Sudah kuduga. Seperti apa dia?”
 
“Lihat saja…dia ada didepan pintu kelas 3-D, sedang bersenda gurau dengan temannya.”
 
Tanpa bertanya lebih lanjut Kibum segera melayangkan tatapannya ketitik yang baru saja Jinki sebutkan. Tanpa sadar mulut mungilnya sedikit terbuka ketika menemukan seorang gadis yang nampak menawan dengan senyum cerahnya.
 
“Dia Erika, yang mengenakan jepit rambut berbentuk cherry.”
 
Kibu. mengabaikan ucapan Jinki dan terus saja menatap lekat gadis bernama Erika itu, gadis yang membuat nafasnya tercekat.
 
Satu kesimpulan terangkai dengan cepat diotaknya…gadis itu…pantas bersanding dengan Jinki.
 
“Bagaimana menurutmu?”
 
“U-uh…itu─”
 
Mulut Kibu. berhenti bersuara ketika menyadari bahwa Erika tengah menatap kearahnya, tidak…menatap Jinki lebih tepatnya. Gadis itu tersenyum riang sebelum akhirnya meninggalkan teman-temannya untuk menghampiri Jinki.
 
“Bolehkah aku pergi bersamanya?”
 
“U-uh…yeah, tentu saja…”
 
“Baiklah, sampai nanti kalau begitu.”
 
Gadis itu datang untuk mengajak Jinki pergi bersamanya, entah kemana, ia hanya membisikkan pada Jinki. Tak ada yang dapat Kibum lakukan selain hanya mengangguk dan memberikan jawaban postif, ia tidak sanggup menolak permohonan Jinki…meski dadanya bagaikan disayat secara perlahan.
 
Kini Jinki berjalan bersama orang lain, tertawa bersama orang lain, berbicara dengan orang lain dan bersentuhan dengan orang lain.
 
Jinki…kotor.

“Eh, Kibum?” ucap suara nyaring yang membuyarkan lamunannya.
 
“T-Taemin?”
 
“Apa yang kau lakukan, jangan diam saja, kau menghalangi jalan…” lanjut Taemin seraya menarik Kibum sedikit menepi. Ia sedikit heran karena tak menemukan kehadiran Jinki disekitar pemuda bertubuh mungil tersebut “Dimana Jinki?”
 
“Dia pergi…dengan gadis bernama Erika.”
 
“Eh?! Gadis yang katanya menyukai Jinki itu kah?” tanya Taemin memastikan yang segera disambut anggukan kepala oleh Kibum “Gadis yang sangat bersemangat, mungkin sebentar lagi mereka akan segera menjalin hubungan…”
 
Menjalin…hubungan???
 
.
.
.

.

.

 
Jinki belum kembali kerumah, ia tak langsung pulang melainkan pergi ketempat lain, sepertinya…Kibum tak perlu susah payah menerka dengan siapa saudara kembarnya itu menghabiskan waktu, sudah pasti…gadis bernama Erika.
 
Pemuda bertubuh mungil itu tengah duduk dilantai bersandar pada kaki ranjang dan berhadapan dengan televisi layar datar. Kamar mereka cukup besar dengan dua ranjang single dan satu kamar mandi, dilengkapi televisi serta seperangkat personal computer untuk masing-masing, tak lupa sebuah kulkas mini dan dispenser. Tentu saja kedua orang tua mereka selalu mencukupi ─bahkan melebihkan─ kebutuhan keduanya, sebagai ganti kebersamaan mereka sebagai satu keluarga…katanya.
 
Sejak dilahirkan, ia dan Jinki selalu menempati kamar yang sama…mereka menolak tegas ketika ayah dan ibunya hendak memisahkan kamar mereka.
 
Semua sudah jelas…karena mereka kembar, tidak ada alasan untuk tidak bersama.
 
Kibum memeluk erat kedua lututnya. Suasana kamar terasa hampa tanpa kehadiran Jinki, ia merasa seperti ada sesuatu yang hilang. Berkali-kali ia membatalkan niatan untuk menghubungi ponsel Jinki, Kibum merasa ia tak memiliki alasan yang kuat, toh nanti Jinki juga akan pulang…ia hanya perlu menunggu, meski rasanya tak sanggup lebih lama lagi menunggu.
 
Terdengar suara terbukanya pintu.
 
Sosok pemuda tampan berkulit seputih salju segera didapatinya berdiri diambang pintu ketika Kibum menoleh, Jinki…masih dalam seragam lengkapnya serta tas ransel yang menggantung hanya dipundak kanannya saja.
 
Jinki tersenyum lembut, namun Kibum membalasnya dengan tersenyum masam.
 
“Kau belum tidur?” tanya Jinki selagi menutup pintu lalu meletakan tas ranselnya diatas meja belajar.
 
“Ung.” Kibum mengangguk lalu kembali menatap televisi “Aku masih ingin melihat acara di televisi…”
 
Kening Jinki berkerut, sejak kapan Kibum suka menyaksikan acara stand up comedy? pikirnya…lagipula saudaranya itu sama sekali tidak tertawa dan malah menatap kosong siaran tersebut. Merasa ada yang aneh, pemuda rupawan itu memutuskan untuk menghampiri Kibum…tepat duduk dihadapan saudara kembarnya tersebut. Kibum sama sekali tak protes meski pada kenyataannya Jinki menghalangi pandangannya pada televisi.
 
“Tolong lepaskan dasi seragamku.” ucap Jinki seraya menarik kasar dasi yang melingkar dilehernya.
 
Kibum terdiam beberapa saat, matanya berkedip beberapa kali membuat Jinki tersenyum tipis…sebelum akhirnya ia mendesah lalu melepaskan dasi seragam Jinki dengan gerakan lembut.
 
“Kau memikirkan hubunganku dengan Erika?” tanya Jinki seolah dapat membaca pikiran Kibum.
 
Kedua pipi putih Kibum segera diresapi rona kemerahan, tanpa sadar ia menggenggam erat dasi seragam Jinki ditangannya.
 
“U-uh…”
 
Jinki tertawa kecil “Sudahlah, tak perlu kau katakan pun…aku dapat menebak seluruh isi kepalamu.”
 
“Yeah, selalu dan akan selalu seperti itu.” ujar Kibum seraya mendudukan diri ditepi ranjang disusul oleh Jinki yang melakukan hal serupa. “Aku hanya cemas, bodoh! Kau pergi tanpa memberi kabar…”
 
“Lalu mengapa kau tidak menghubungi ponselku saja?”
 
“Heh~ Ha-hal itu tidak terpikirkan olehku!” kilah Kibum yang gugup mengucapkan kebohongan.
 
“Oh ya? Padahal aku sangat berharap kau menelponku, menanyakan keberadaanku juga memintaku segera pulang.”
 
Rona kemerahan segera kembali meresapi pipi putih Kibum, kali ini disertai debaran jantungnya yang berpacu cepat layaknya bom waktu…melihat senyum lembut diwajah saudara kembarnya itu ketika ia mengutarakan harapannya.
 
Kibum meneguk liur-nya beberapa kali. Bibirnya terasa kelu dan kamus kata-kata dikepalanya bagaikan lenyap begitu saja.
.
‘Aku tidak suka gadis itu. Jangan berdekatan dengannya. Jangan bersentuhan dengannya dan jangan pergi bersamanya.’

.

 
Kibum mendengus seraya memalingkan wajahnya “Jangan bicara gombal pada kakakmu sendiri! Cepat mandi dan segeralah tidur!” hardiknya sebelum menarik selimut dan merebahkan diri diatas ranjangnya sendiri.
 
“Ya, baiklah…kakak.” sahut Jinki disertai nada meledek. Pemuda yang bertubuh lebih tinggi dari saudara kembarnya itu kemudian melepas seragam ditubuhnya dan menyampirkannya pada sandaran kursi belajar.
 
Kibum terdiam seraya berlindung dibalik selimutnya, ia meneguk liur berkali-kali…tak sanggup lagi menahan diri hingga akhirnya ia mengeluarkan suara. “Bagaimana…hubunganmu dengan gadis i─”
 
“Ah, benar juga! Itu yang ingin kutanyakan padamu!”
 
“Eh?” Kibum sedikit menjauhkan kepala dari bantal agar dapat memandang Jinki.
 
“Bagaimana menurutmu? Apa aku harus menerima perasaannya?”
 
“Kau menyukainya?”
 
Jinki terdiam dan mengulum senyum, ia melangkah menghampiri Kibum dan duduk ditepian ranjang…dalam keadaan hanya mengenakan kaus dalam, karena baru hanya kemeja dan jas seragamnya saja yang ia lepas.
 
“Aku…tidak yakin. Tapi jika menurutmu gadis itu baik, akan kupertimbangkan untuk menerima perasaannya.”
 
Benar…
Jinki memang selalu mendahului dirinya diatas segalanya. Ia bahkan tidak yakin akan perasaannya dan meminta pendapat Kibum lebih dulu.
 
Namun akan sampai kapan hal ini terus berlanjut?
Bukankah kelak, mereka akan menyusuri jalan yang berbeda?
“Dia gadis yang baik, sepertinya. Selalu tersenyum, ceria dan bersemangat. Dia juga sangat menyukaimu.” ucap Kibum lirih karena menahan rasa tak nyaman dihatinya. Ia kembali meletakan kepalanya diatas bantal dan menghadap kearah yang berlawanan dengan posisi Jinki duduk.
 “Jinki…cobalah…menjalin hubungan dengannya…”
 
……………

Jika Kibum mengatakan bahwa bentuk bumi adalah kubus, maka Jinki berpendapat sama.
Jika Kibum mengatakan bahwa gula itu pahit rasanya, maka Jinki akan berpendapat sama.
Jika Kibum berkata bahwa salju itu panas, maka Jinki akan berpendapat sama.
 
Bahkan untuk hal dengan tingkat kesalahan paling fatal sekalipun, Jinki akan tetap menganggukan kepala sambil tersenyum.
 
Jinki akan selalu berkata ‘Ya’
Jinki akan selalu berkata ‘Benar’
Jinki akan selalu berkata ‘Boleh’
 
Maka disinilah Kibum sekarang, memandang dikejauhan ketika Jinki tengah memulai tali kedekatannya dengan gadis asal Jepang bernama Erika. Ia bersentuhan dengan gadis itu, tersenyum kepada gadis itu dan tertawa bersama gadis itu. Jinki melakukan segala yang Kibum katakan…termasuk untuk menerima perasaan Erika meski Kibum sendiri menyadari bahwa Jinki masih ragu akan hatinya.
 
Kibum hanya merasa…jika ia berkata ‘Jangan’ ketika itu…
Ia tak ubahnya bagai seonggok batu hambatan.

.

.

.

.

.

Dilorong kelas yang sepi, ketika pelajaran telah usai dan seluruh siswa meninggalkan sekolah…Kibum berusaha untuk menyaksikan, berusaha untuk memetik sebuah…sebuah saja kebahagiaan dari senyum Jinki yang ditujukan bukan untuk dirinya.
 
Namun buah yang seharusnya terasa manis itu, tetap saja terasa pahit dihatinya…karena Jinki tidak membagi kebahagian kepadanya, melainkan kepada gadis itu.
 
Kibum hanya mampu berbalik dengan hati sesak, ketika gadis itu dan Jinki berciuman.
 
Ia tak sanggup melihatnya.
 
.
.
.
 
Hari ini giliran dirinya yang pulang terlambat, nyaris mendekati waktu tidur. Kibum dengan gontai melangkah menuju kamar tidurnya dilantai dua. Ia merasa sangat lelah, setelah seharian berkeliaran ditengah kota tanpa tujuan yang jelas…namun jelas dengan maksud menghibur diri.
 
Apa yang akan ia lakukan jika bertemu Jinki nanti?
Apa yang akan ia katakan jika nanti saudara kembarnya itu bertanya perihal kondisinya yang menyedihkan ini?
 
Kibum hanya mampu menghela nafas berat dan membuka pintu kamarnya.
 
“Sudah pulang?”
 
“Ng?” dengan lesu Kibum mengangkat kepalanya dan langsung berhadapan dengan Jinki yang baru saja meninggalkan kamar mandi.
 
Pintu kamar mandi dan pintu kamar memang berdekatan jaraknya. Ia memandang Jinki sejenak, pemuda berkulit putih nyaris pucat itu sepertinya baru saja selesai mandi, tubuhnya hanya tertutupi sehelai handuk merah sebatas pinggang hingga lutut, sementara surai darkbrown-nya terlihat basah hingga beberapa tetes air terjatuh dari ujung surai dikepalanya.
 
Wangi maskulin yang segar dan terkesan dewasa. Jinki memang menggunakan sabun mandi yang berbeda dengannya.
Sekali lagi…Kibum hanya menghela nafas “Ng…yah, begitulah.” ucapnya lesu, ia melempar tas ranselnya kesembarang tempat dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja diatas ranjang.
 
“Apa apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Jinki pada Kibum yang menenggelamkan wajahnya pada bantal.
 
“Tidak. Tidak ada apa-apa.”
 
Kali ini giliran Jinki yang menghela nafas. Tak perlu memeras otak untuk menyadari bahwa saudara kembarnya itu kini tengah merasa tertekan, entah mengapa hati Jinki pun turut merasa tak nyaman jika melihatnya.
 
Jinki menyentuh punggung Kibum “Apa yang terjadi? Aku tahu kau tidak berkata jujur, Kibum. Sebenarnya apa yang─”
 
Dengan kasar, Kibum menepis tangan Jinki.
 
“Jangan sentuh aku!!” jeritnya dan menatap kembarannya itu nyalang.
 
‘Jangan sentuh aku! Aku tidak mau bersentuhan denganmu karena kau telah bersentuhan dengan gadis itu! Itu menjijikan!’
 
Suasana bagai membeku, meski udara tak terasa dingin sama sekali. Kibum tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan, pertama kali dalam hidupnya ia memperlakukan saudara kembarnya dengan kasar. Kedua matanya yang melebar itu berbenturan langsung dengan mata Jinki yang menampilkan hal serupa, terliputi keterkejutan dan ketidakpercayaan.
 
Sial, tidak, ini tidak benar. Semua kacau. Apa yang terjadi sebenarnya? Dunia apa ini…mengapa ia merasa terpisah jauh dari Jinki?
 
Kibum menundukan kepala, hingga helaian poni rambutnya menutupi mata…tak perlu ia berucap banyak untuk menunjukan penyesalannya pada Jinki “A-aku mau mandi…”
 
Langkahnya masih gontai ketika ia meninggalkan ranjang. Tubuh yang tak seimbang itu akhirnya jatuh tersungkur kelantai, menimbulkan bunyi debuman yang menggema keseluruh penjuru kamar. Pemilih tubuh limbung itu tak langsung berdiri, ia terdiam sebentar membiarkan rasa dingin meresapi pori-pori kulitnya. Kepalanya terasa sakit dan pening…sinar lampu dilangit-langit begitu menyilaukan ketika menatapnya langsung dengan mata dalam waktu lama.
 
Kibum menutup kedua mata dengan lengannya.
Sial, ada apa dengan dirinya?
Tak sepatutnya ia menyakiti Jinki…seseorang yang merupakan dirinya yang lain.
Belahan jiwanya. Kepingan hatinya.
 
“Kibum.”
 
Sang pemilik nama membuka matanya perlahan dan ia terkejut luar biasa kala mendapati wajah Jinki yang begitu dekat dengan penglihatannya.
 
Kibum memberontak. Ia bersikeras menyingkirkan Jinki dari atas tubuhnya, atau setidaknya menjauhi saudara kembarnya tersebut. Jinki yang mengetahui isi pikiran Kibum, telah lebih dulu mencekal kedua tangannya dikedua sisi kepala. Kibum sempat meringis pilu sesaat, membuat Jinki turut merasa sakit.  Namun hal itu tak membuat Kibum menyerah untuk menjauhi Jinki…ia meronta, meraung dan menjerit sekuat tenaga. Membuat Jinki cukup kewalahan…bukan karena kesulitan atau masalah kekuatan.
 
Karena…Kibum menolaknya…belahan jiwanya itu menolak dirinya.
 
“Aku akan mengakhiri hubunganku dengan gadis itu…jika memang hal itu yang kau harapkan.”
 
Jeritan penolakan itu berhenti. Kibum mulai tenang meski nafasnya terengah…namun kedua matanya terselimuti rasa ketertegunan.
 
Lagi-lagi Jinki…menomorsatukan dirinya.
 
“Ja-jangan bercanda…hubungan kalian bukan seperti waktu sekolah yang dimulai pagi hari dan berakhir pada sore hari.”
 
Jinki menambah kekuatan cengkramannya terhadap tangan Kibum…sang pemilik terdengar mengerang pilu “Aku tidak peduli.”
 
“Kau harus peduli pada kekasihmu…”
“Aku tidak peduli pada orang lain! Aku hanya peduli padamu!”
 
Seruan Jinki cukup mampu membuat Kibum tersentak. Terkejut. Tertegun. Tidak percaya. Ia, sebenarnya…sangat ingin bersuka cinta akan hadirnya rona merah muda yang menjadi warna baru memperindah parasnya. Namun sekali lagi, ia mempertegas diri…ia tidak boleh egois, ia dan Jinki memang kembar…tapi bukan berarti mereka akan terus bersama.
 
Akan tiba saatnya dimana Jinki harus berjalan kearah utara sementara dirinya kearah selatan.
Akan tiba saatnya dimana Jinki harus memilih hitam sementara dirinya memilih putih.
Akan tiba saatnya dimana Jinki harus terbang kelangit sementara dirinya bertahan diatas tanah.
 
Dan saat itu…adalah sekarang.
 
“Tidak. Jangan…” ucap Kibum lirih. Ia menatap Jinki sendu…dengan kedua matanya yang telah ternodai serpihan kaca bening “Kita harus berhenti bersikap egois, Jinki…”
 
Kata Kibum yang membuat Jinki merasa lemah. Kibum menolaknya kedua kali…
Mereka satu jiwa…apa salahnya?
 
“Mengapa tidak boleh bersikap egois? Selama ini kita terus bersikap egois terhadap orang lain…sejak dulu aku tidak pernah menganggap siapa pun didunia ini kecuali dirimu. Aku tidak peduli akan penderitaan orang lain selama kau bahagia, Kibum. Mengapa sekarang harus berhenti? Mengapa kini semua harus berubah?”
 
Paras Jinki terlihat seperti tengah menahan sakit. Kibum paham meski tubuh pemuda itu baik-baik saja…namun tidak dengan hatinya. Ia dapat merasakannya…urat syaraf dan pembuluh darah ini saling terkait.
 
“Kita tidak akan bahagia jika hidup terpisah. Kita tak kan pernah sampai ketujuan jika menyusuri jalan yang berbeda. Aku tidak akan memilih hitam jika kau memilih putih. Jika aku malaikat dan kau tetap manusia, akan kupatahkan sayapku agar kaki ini dapat terus berpijak diatas tanah. Kau tahu mengapa?”
 
Kibum terdiam…namun meski begitu Jinki mengerti akan jawaban negatif yang tengah dipikirkan saudara kembarnya itu. Pemuda berkulit putih nyaris pucat itu tersenyum lembut.
 
“Karena kau adalah aku, aku adalah kau. Karena kita kembar. Kembar hanya memiliki satu hati. Tidak ada seorang pun yang dapat mengusik kita.”
 
“Tapi…bagaimana dengan…”
 
Jinki tersenyum lalu membelai lembut sebelah pipi Kibum dengan punggung jemari kokohnya.
 
“Aku memang menyukai Erika…tapi aku jauh lebih menyukai dirimu…”
 
……………
 

 
“Ini bukanlah cinta, melainkan lebih dari itu.”
 

 
Kedua kalinya Kibum berada dikoridor kelas ketika sekolah benar-benar telah sepi, bagaikan deja vu atau roll film yang rusak dan menampilkan kejadian sama berulang-ulang. Ia berdiri dikejauhan, memandang Jinki dan calon mantan kekasihnya kini tengah membicarakan sesuatu yang telah lebih dulu ia bicarakan bersama Jinki.
 
Detik selanjutnya Kibum mendengar gadis itu meraung seraya menutup wajah dengan kedua tangannya. Jinki hanya terdiam, tak menenangkan mau pun melakukan sesuatu sebagai bentuk penyesalan hati
 
Kibum meneguk liurnya paksa. Jinki berkata…tidak ada ruang kosong diantara kita, jika ada seseorang yang bersikeras ingin menempatinya, buat dia mengerti agar mengenyahkan diri dengan suka rela.
 
Tidak apa menjadi egois…selama ia dan Jinki akan terus bersama.
 
Kibum terbelalak ketika menyadari bahwa gadis itu tengah melayangkan tangan hendak menyarangkan tamparannya kewajah Jinki, namun sebelum hal tersebut sempat terlaksana…ia telah lebih dulu melesat maju dan mencegahnya.
 
Dengan tatapan penuh amarah…Kibum berkata.
 
“Jika kau melukai Jinki…aku tidak akan segan-segan melukaimu!”
 
Wajah gadis itu berubah pucat dengan cepat…ia bagaikan seekor anak ayam yang sebentar lagi akan binasa disantap hewan buas.
 
“Pergilah.” ucap Jinki dengan tenang. Detik selanjutnya gadis itu pergi seraya menangis tersedu-sedu.
Kini mereka kembali hanya berdua…seperti semula, seperti seharusnya dan memang sepatutnya demikian.
 
“Sekarang, akan kulakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu…”
 
“Huh? Apa maksudmu?”
 
Sebelum terjadi pembicaraan lebih lanjut, Kibum segera berjinjit dan menarik kerah seragam Jinki, mendekatkan wajah mereka dan mempersatukan bibir kecilnya dengan bibir merah diantara hamparan kulit putih nyaris pucat tersebut.
 
Semua kata terkunci rapat dalam penyatuan kecil mereka. Kedua belah bibir masing-masing saling memanja pasangannya…saling menyalurkan perasaan dan berbagi kehangatan.
 
“Apa yang kau lakukan?” tanya Jinki ketika mereka menghentikan sejenak penyatuan kecil tersebut untuk bernafas bebas.
 
“Membersihkanmu dari sentuhan gadis itu.”
 
Dan Kibum memulai kembali kegiatan manis yang beberapa detik lalu juga mereka lakukan. Jinki tersenyum ketika dengan sengaja ia membiarkan lidah Kibum agar berhasil memasuki rongga mulutnya.
 
“Bersihkanlah sesukamu, kalau begitu…”
 

 

 
Sungguh menyenangkan ayah dan ibu pulang hari ini meski hanya untuk satu malam saja karena keesokan harinya, mereka harus segera bertolak ke Australia untuk pekerjaan lainnya.
 
Tentu saja ini adalah hal yang membahagiakan dihati Kibum dan Jinki. Hanya seperti itu, tidak lebih dan tidak memberikan kesan berarti bagi keduanya. Ada tidaknya ayah dan ibu mereka, semua sama saja…tidak ada sedikit pun yang berubah. Mereka tetap jarang berbicara satu sama lain dan sekalinya berbicara pun…selalu saja menggunakan bahasa formal, layaknya mitra bisnis. Seperti itulah mereka, anak mereka yang sesungguhnya adalah kerajaan bisnis dan uang mereka yang terus berkembang biak dibank.
 
Bahkan dimeja makan, tempat dimana seharusnya sebuah keluarga menjalin kedekatan dan kehangatan satu sama lain…masalah bisnis dan pekerjaan selalu menjadi topik utama.
 
Jinki dan Kibum makan dengan tenang, lebih menarik memerhatikan makan malam mereka ketimbang saling bertatap muka dengan kedua orang tua mereka yang kini mulai mencela dan merendahkan rekan bisnisnya.
 
“Kami selesai. Terima kasih atas makanannya.”
 
Setelah berkata demikian secara bersamaan, tanpa direncanakan dan tanpa dipikirkan terlebih dahulu, Kibum dan Jinki segera bangkit dari kursi dan meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Perbincangan kedua orang tua mereka mengenai bisnis masih terus berlanjut ketika itu.
 
Sepasang anak kembar itu hanya terus melangkah menuju kamar mereka…bersama.
 .

.

.

.

.
 
“Aaah~ akh…” desah Kibum pilu ketika Jinki mulai memasuki dirinya.
 
Posisi mereka kini berada dalam satu tempat, Jinki diatas dan Kibum dibawah…tentu saja, ukuran tubuh dan kekuatan jelas menjadi faktor utama untuk menentukan siapa yang lebih dominan…sudah jelas Jinki lah sang dominan.
 
Setetes bulir air mata mengalir dari sudut mata indah Kibum dan Jinki menjilatnya dengan penuh kehati-hatian.
 
“Ke…kenapa aku yang…hh~ se…lalu dibawah…?” ucap Kibum dengan susah payah seraya meremas kuat-kuat seprai alas tidurnya.
 
Jinki tersenyum penuh arti dan terus memperdalam penyatuan tubuh mereka, Kibum terpekik merasakan rasa sakit yang tak tertahankan. Sampai pada puncak kenikmatan duniawi…untuk kedua kalinya Kibum menangis. Dengan mata berair yang indah seperti danau dikala malam bertabur cahaya bintang, ia menatap Jinki sendu.
 
Pemuda berkulit putih pucat yang kini dipenuhi peluh itu membelai salah satu pipi Kibum dengan ujung jemari kokohnya, ia tersenyum lembut.
 
“Bukankah seorang kakak harus selalu mengalah pada adiknya?” dan kemudian mengecup kening sang belahan jiwa “Aku menyayangimu, Kibum.”
 
 
………
……

END

Advertisements