​Lee Jinki

Kim Kibum

Jonghyun mempercepat langkahnya dalam keramaian kantin sekolahnya. Ia sedang mencari seseorang, namun karena keadaan kantin begitu ramai sulit sekali menemukannya.

Ekspresi Jonghyun berubah cerah begitu menemukan seseorang yang dicarinya. Orang itu berada dimeja terpojok―bersama pria sipit lain. Jonghyun berjalan mendekat dan mengabaikan bisikan orang-orang disekelilingnya ketika ia duduk dimeja yang ditujunya lalu menepuk pelan bahu orang yang dicarinya.

“Maaf mengganggu sebentar,” kata Jonghyun sambil tersenyum ketika orang yang dicarinya―Kibum―dan Taemin menatapnya sedikit terkejut. Matanya kini beralih menatap Kibum, “Kibum, kau bisa menemaniku nonton nanti malam?”

Ada satu kesamaan antara Jonghyun dan Jinki yang Kibum temukan. Straightforward. Mereka sama-sama lebih suka to the point. Namun bedanya, Jonghyu  lebih sopan dari Jinki.

Kibu. mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu tersenyum dan menjawab, “Kurasa bisa. Memangnya nonton film apa?”

“X-Men: Apocalypse. Aku punya dua tiketnya.”

“Wah, kau berniat sekali mentraktirku ya?” ujar Kibum setengah bercanda.

Jonghyun menggeleng lalu tertawa, “Tadinya aku akan pergi dengan Joohyun nuna. Tapi ia bilang ia ada janji dengan orang lain dan Jinki pasti tak akan mau ku ajak menonton film itu.”

“Err―kenapa Jinki tidak mau?” Rasa penasaran Kibum kembali muncul begitu mendengar nama pria itu. Apapun tentang pemuda itu―selalu berhasil membuat Kibum ingin tahu.

“Jinki tidak suka film Superhero.”

“Kena―”

“Hoi, Woohyun!” pertanyaan Kibum terpotong oleh panggilan Jonghyu pada pria lain di meja yang tak jauh dari tempat mereka sekarang.

Pria itu―Nam Woohyun. Mantan teman sekelas Kibum juga. Namun, pemuda itu satu-satunya orang yang tidak pernah membully Kibum. Namun pemuda itu juga tidak menganggapnya teman. Pemuda itu lebih bersikap seakan Kibum tidak pernah ada.

“Kibum, aku duluan.” setelah pamit, Jonghyun berlari menghampiri Woohyun yang beranjak pergi dari kantin itu. Dan Woohyun bahkan tidak menoleh padanya saat tadi melemparkan tatapan tanya pada Jonghyun yang memanggilnya. Pria itu benar-benar menganggapnya tidak ada.

Kibum kembali menoleh pada Taemin begitu punggung Jonghyun dan Woohyun yang menjauh sudah hilang dari pandangannya. Keningnya berkerut melihat Taemin yang tersenyum aneh padanya.

“Apa?”

“Apa kau sedang mendekati Jonghyun karena Jinki tak kunjung meresponmu, Kibum?”

Kibum melotot, “Tentu saja tidak! Aku dan Jonghyun hanya teman.”

“Kau dan Jinki juga hanya teman ngomong-ngomong.” ucap Taemin sambil tersenyum menyebalkan. Kibum mendengus.

“Aku tahu.”

Taemin tertawa mengejek, “Tapi aku serius, Kibum. Ini sudah 3 bulan dan Jinki masih kelewat acuh padamu. Dekati saja Jonghyun. Sama saja kan? Toh mereka kembar. Lagipula―Jonghyun sudah mengajakmu kencan tadi.” lalu, Taemin itu menyeringai padanya.

“Itu bukan kencan! Lagipula, Jonghyun straight. ”

“Bagiku itu terdengar seperti kencan. Jonghyun straight? Well, tidak mustahil jika tiba-tiba ia menjadi gay, Kibum. Banyak orang lurus menjadi belok saat ini. Itu sebabnya aku mudah mendapatkan kekasih.” Taemin mengerling diakhir kalimatnya membuat Kibum memutar bola matanya malas.

“Sudahlah. Aku ke kelas duluan.” Kibum mulai beranjak dari tempat duduknya. Ia mulai malas meladeni Taemin jika sudah membicarakan soal kekasih.

“Jangan lupa dandan yang cantik untuk nanti malam, Kibum!” Taemin dengan sengaja meneriakan kata-kata itu pada Kibum yang sudah melangkah menjauh darinya. Kibum hanya menunduk malu ketika menyadari orang-orang mulai menatapinya karena perkataan Taemin.

Terkadang, Taemin memang kelewat menyebalkan. Tapi pria itu juga kelewat sering membantunya hingga Kibum tak bisa benar-benar marah pada pemuda itu.

Malamnya, Kibum kembali datang ke kediaman keluarga Lee. Kibum belum sempat mengajak Jonghyun ke rumahnya. Jadilah ia yang harus datang ke rumah pemuda itu.

Mereka pergi dengan bus ke bioskop terdekat. Ibu Jonghyun belum pulang jadi mereka tidak bisa meminjam mobilnya untuk pergi. Dan Kibum sama sekali tidak keberatan untuk naik bus bersama orang se-menyenangkan Jonghyun.

Kibum memang bukan penggemar X-Man. Tapi ia pernah membaca ulasan filmnya beberapa kali―membuatnya bisa mengerti jalan cerita film itu hingga bisa mengimbangi Jonghyun yang terus membicarakan film itu bahkan ketika mereka memilih makan disebuah foodcourt seusai menonton.

Jonghyun memperlakukannya dengan cukup baik seperti biasa malam ini. Itu membuatnya teringat pada kata-kata Taemi . Dekati saja Jonghyun. Well, mereka sudah cukup dekat. Tapi Kibum tetap merasa biasa saja. Berbeda dengan yang ia rasakan saat bersama Jinki.

Tapi―sifat Jonghyun memang membuatnya cukup mengagumi pemuda itu. Pemuda itu tidak memandangnya sebelah mata seperti yang dilakukan orang lain. Dan Kibum berharap jika Jinki akan bersikap seperti Jonghyun jika pemuda itu mengetahui yang sebenarnya nanti.

Ah―tunggu.

Ada satu pertanyaan yang tiba-tiba ingin sekali ia tanyakan pada Jonghyun.

“Err―Jonghyun?”

“Ya?”

“Jinki belum tahu aku gay? Kau tidak memberitahunya?” tanya Kibum. Rasanya aneh sekali melihat Jinki yang tak pernah membicarakan soal statusnya padanya. Semua orang di sekolah sudah tahu dan sering membicarakannya. Semua kecuali Jinki.

J tersenyum kecil. Ia menyeruput minumannya sejenak lalu menjawab, “Sepertinya dia belum tahu. Dan kurasa kau lebih berhak memberitahunya, Kibum.”

“Err―apa Jinki akan membenciku jika ia tahu aku gay?” tanya Kibum dengan suara yang semakin memelan diakhir pertanyaannya. Kibum tak ingin Jinki menjauhinya. Setidaknya menjadi teman pemuda itu saja lebih baik dari pada harus berakhir dibenci pemuda itu.

Jonghyun menggeleng, “Aku tak tahu. Ini pertama kalinya untuk Jinki juga.”

“Pertama kali bagaimana maksudmu?”

“Punya teman yang orientasi seksualnya berbeda―”

“Sebut gay saja, Jonghyun. Aku tak keberatan.” potong Kibum. Ia mengerti Jonghyun mencoba untuk tidak menyinggung perasaannya.

“Intinya, ini pertama kalinya bagi kami punya teman seorang gay. Tapi menurutku paling Jinki hanya bersikap tidak peduli seperti biasa.” jelas Jonghyun. Kibum mengangguk mengerti.

Mungkin, Jonghyun benar jika Jinki hanya akan bersikap acuh seperti biasa dan tak akan membencinya jika mengetahui fakta bahwa ia gay. Tapi―apa Jinki tetap tak akan membenci atau jijik padanya jika tahu Kibum sudah menyukainya sejak pertama kali Jinki duduk disampingnya? Kibum tidak yakin jika pemuda itu akan bisa bersikap seperti biasa padanya. Paling tidak―pria itu akan memandangnya jijik dan mulai menjauhinya.

“Kibum?” panggilan Jonghyun menyadarkannya dari lamunan. Kibum menatap tanya Jonghyun yang memandangnya dengan tatapan aneh, “Kenapa kau peduli sekali pada Jinki?”

Tubuh Kibyn menegang mendengar pertanyaan Jonghyun. Ia harus menjawab apa sekarang? Ia tak mungkin jujur pada Jonghyun mengenai perasaannya pada Jinki. Bisa-bisa, Jonghyun tidak mau berteman lagi dengannya karena ia berniat membuat kembarannya menyukainya juga. Dengan kata lain, menjadi gay seperti dirinya.

“Tak apa kalau kau tak mau menjawab.” kata Jonghyun lagi. Ia berusaha menghormati privasi Kibum sama seperti Kibun menghormati privasinya.

Kibum hanya mengangguk pelan lalu melanjutkan makannya sambil menunduk.

Kibum tahu ia sudah berdosa dengan menjadi pecinta sesama jenis. Ia juga akan lebih berdosa lagi jika membuat orang yang disukainya menjadi pecinta sesama jenis seperti dirinya. Tapi―ia juga ingin seperti remaja normal lainnya. Bersama dengan orang yang disukai dan mendapatkan perhatian serta hatinya.

Kibum melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolahnya. Ia pulang sendiri hari ini karena Jinki membolos dijam terakhir. Kibum yakin pemuda itu sudah berada dirumahnya sendiri sekarang.

Namun langkahnya langsung terhenti begitu melintasi sebuah gang buntu. Disana ada beberapa orang yang sedang berkelahi. Dan yang membuat Kibum berhenti adalah orang-orang yang tengah berkelahi itu menggunakan seragam yang sama dengan dirnya. Yang berarti bahwa jika mereka adalah teman-teman satu sekolahnya.

Kibum memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Ia mengamati orang-orang yang sedang berkelahi itu dan matanya membelalakan ketika menyadari sesuatu.

Jinki ada disana.

Dikeroyok oleh Zico dan teman-temannya.

Namun pemuda itu terus berusaha melawan.

“Aku bersumpah akan memanggil polisi jika kalian tidak berhenti.” Kibum mendekat dan berteriak dengan lantang. Membuat orang-orang yang sedang berkelahi disana menghentikan perkelahiannya dan mulai menatapnya dengan pandangan berbeda-beda.

Zico berdecih lalu mulai berjalan mendekati Kibum, “Dasar jalang!”

Kibum hanya diam tak berniat menjawab. Sementara Zico mulai kembali menatap Jinki, “Ini yang akan kau dapatkan jika berani mempermalukanku didepan banyak orang lagi.” lalu, pria itu meninggalkan Kibum dan Jinki diikuti oleh teman-temannya.

Kibum bisa melihat tangan Jinki yang mengepal karena perkataan Zico. Wajahnya menahan amarah. Dan Jinki merasa ia benar-benar harus melampiaskannya dengan sesuatu.

Kibum terkejut begitu Jinki tiba-tiba meninju tembok dibelakangnya lalu memukuli benda-benda disekelilingnya dengan tangannya sendiri. Ia bisa melihat tangan Jinki yang memerah akibat pukulannya sendiri―dan itu membuat Kibum merasa tidak bisa diam begitu saja.

” Jinki, berhenti!” Kibum berusaha memegangi tangannya namun Jinki yang tengah emosi malah mendorong pria itu menjauh dengan kasar. Pemuda itu sama sekali tidak mendengarkan teriakan Kibum yang menyuruhnya berhenti. Pemuda itu seakan tuli karena emosi yang mengontrolnya sekarang.

Kibum tak tahu sejak kapan ia secengeng ini, namun air matanya mulai turun melihat Jinki yang terus memukuli benda-benda hingga membuat tangannya sendiri berdarah.

” Jinki, kumohon berhenti.” Kibum memohon dengan suara paraunya, khas orang yang ingin menangis. Dan berhasil, Jinki langsung menghentikan gerakannya.

Jinki tersentak saat mendengar suara itu. Ia juga terkejut ketika emosinya lenyap begitu saja dan berganti dengan sebuah rasa bersalah pada pemuda dibelakangnya itu. Pemuda itu tak seharusnya melihat ini.

Ini terasa aneh karena selama ini tak ada yang berhasil menghentikannya saat dalam keadaan emosi. Bahkan ibunya sekalipun. Namun kali suara seorang pria yang akan menangis bisa menghentikannya. Mustahil tapi memang itu yang terjadi.

Jinki berbalik menatap Kibum. Dan benar-benar saja mata pemuda itu sudah berkaca-kaca. Terlihat sekali jika sebentar lagi pemuda itu akan menangis.

“Maaf.” kata Jinki terdengar begitu ragu. Ia bahkan tidak tahu ia meminta maaf karena apa. Dan Jinki lupa kapan terakhir kali ia mengucapkan maaf sebelum ini.

Kibum menggeleng lalu menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir, “Ayo kita obati lukamu dirumahmu.”

“Aku tak ingin pulang ke rumah.” potong Jinki cepat. Ia tak mungkin pulang pada saat seperti ini. Pada saat ia baru saja berkelahi. Ibunya pasti akan panik sekali. Dan Joohyun pasti akan meledek wajahnya yang babak belur abis-abisan.

“Baiklah. Kita ke rumahku.” kata Kibun sambil menghapus air matanya yang kembali menetes.

Ah, sial. Ia jadi kelihatan benar-benar lemah sekarang.

Ini sudah beberapa menit sejak Kibum mengobati lengan dan memar diwajah Jinki. Namun belum ada satupun kata yang diucapkan oleh keduanya. Kibun terlihat begitu serius mengobati luka Jinki sementara Jinki sendiri terlalu malas untuk berbicara.

Setelah selesai membalut tangan Jinki yang berdarah dengan perban, Kibum beralih ke memar kecil dibawah mata kanan Jinki. Kibum hanya akan mengompresnya untuk menghilangkan sakitnya. Namun Kibum merasa jantung berdetak lebih cepat lagi karena wajahnya dengan Jinki hanya berjarak beberapa senti. Dan juga― Jinki terus memandanginya.

Jinki tidak tahu kenapa ia tak bisa mengalihkan tatapannya dari wajah Kibum. Terlebih pada bibir pemuda itu. Jinki meneguk salivanya kasar begitu keinginan untuk mencicipi bibir ranum itu semakin besar. Terlebih dengan jarak segini. Ia hanya perlu memajukan wajahnya sedikit dan bisa menikmatinya dengan leluasa.

Persetan, apa yang baru saja ia pikirkan? Ia ingin menikmati bibir―seorang pria? Ini tidak benar. Jinki yakin ada yang tidak beres dengan dirinya sendiri.

“Aku bisa sendiri.” Jinki merebut handuk berisi es batu dari tangan Kibum. Ia tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi jika mereka tetap bertahan pada posisi itu. Dan Jinki tak ingin melakukan sesuatu yang nanti akan disesalinya.

Kibum langsung memundurkan wajahnya begitu Jinki merembut handuk ditangannya tadi. Sementara Jinki menatap ke arah selain Kibum. Wajah Kibum memerah dan jantungnya terus berdetak cepat. Tiba-tiba, Kibum merasa kecanggungan meliputi mereka.

“Err―Aku akan membuatkanmu minuman.” Kibum langsung berlari ke dapur tanpa menunggu jawaban Jinki. Ia tak ingin pemuda itu melihat wajahnya yang memerah. Itu hanya akan membuatnya semakin malu.

Ibunya belum pulang kerja. Dan Kibum tak punya siapa-siapa lagi sehingga ialah yang harus membuatkan minuman untuk tamunya sekarang. Kibum berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak cepat, lalu mulai mengambil gelas.

Setelahnya, mereka duduk disofa ruang tamu Kibum sambil menonton acara televisi. Namun keduanya tidak benar-benar fokus pada acaranya televisi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Ini sudah petang. Sebentar lagi malam dan ibunya akan pulang. Lalu Taemin sudah mengiriminya pesan akan datang ke rumahnya untuk berkunjung dan mengambil bukunya yang tertinggal malam ini. Sementara Jinki terlihat enggan untuk pulang.

Bukannya ia tidak ingin Jinki berada dirumahnya. Bukannya ia tidak menginginkan kehadiran Jinki. Tapi―Kibum terlalu takut jika ibunya dan Taemin berpikir yang tidak-tidak tentang ia dan Jinki. Terlebih Taemin. Ia pasti akan lebih heboh saat melihat mereka hanya berdua nanti.

“Kau tidak ingin pulang, Jinki?”

“Kau ingin aku pulang?” bukannya menjawab, Jinki bertanya balik.

Kibum menggeleng cepat, “Bukan begitu maksudku. Aku hanya―”

“Kalau begitu diam.” potong Jinki. Dan Kibum langsung cemberut mendengarnya.

“Ibuku sebentar lagi pulang, tahu.” Kibum berkata lagi. Berharap jika itu bisa membuat Jinki pulang ke rumahnya.

“Lalu?”

“Ibuku itu galak pada teman baruku. Bisa-bisa kau―”

“Kau benar-benar tidak ingin aku ada disini? Baik, aku pulang.” kata Jinki kesal. Ia mengerti dengan jelas pengusiran tersirat yang diberikan Kibum. Ia hendak bangkit dan pergi, namun Kibum meraih tangannya.

“Maaf, Jinki. Aku tak bermaksud begitu. Kau boleh disini selama yang kau mau.” kata Kibum sambil menunduk. Ia tahu ia tak seharusnya mengusir Jinki dari rumahnya. Ia tak diajarkan untuk tidak sopan pada tamunya.

“Aku ingin menginap malam ini.”

“Apa?!”

“Ibu pulang.”

Kibum terkejut saat ibunya muncul dari pintu depan rumahnya dengan Taemin disampingnya. Wanita tua itu dan Taemin sama terkejutnya dengan Kibum ketika melihat keberadaan Jinki disana. Hanya Jinki yang terlihat biasa―namun ekspresi pemuda itu tidak sedingin biasanya.

“Kibum, ini siapa?”

“Dia Jinki. Teman sekelasku, bu.”

“Salam kenal, bibi.” Kibum terkejut saat Jinki terdengar lebih ramah dari biasanya pada ibunya. Ia pikir Jinki akan bersikap dingin seperti sikap pemuda itu padanya. Namun pria itu malah terlihat cukup sopan sekarang.

“Salam kenal juga, Jinki.”

“Boleh aku menginap disini malam ini, bi?” Semua yang ada disana terkejut mendengar perkataan Jinki namun Jinki terlihat tidak peduli dengan keterkejutan orang-orang itu.

“Err―tentu. Tapi disini tidak ada kamar tamu, Jinki-ah.” jawab ibu Kibum. Ia tak memiliki alasan untuk menolak pemuda yang merupakan teman anaknya itu untuk menginap dirumahnya.

“Aku bisa tidur diso―”

“Tidur dikamar Kibum saja, Jinki!” potong Taemin cepat. Taemin menyeringai melihat Kibum yang terkejut karena namanya disebut, “Aku selalu tidur dikamar Kibum jika menginap disini.”

Jinki menoleh menatap Kibum. Bertanya lewat tatapannya apa pemuda itu mengijinkannya untuk tidur dikamarnya malam ini.

Kibum menghela napas. Ia tak mungkin juga membiarkan Jinki tidur sofa. Ia tak setega itu. Kibum mengangguk, “Baiklah.”

Jinki menyeringai mendengar jawaban Kibum. Masalahnya selesai. Ia tak perlu menghadapi ibu dan kakaknya malam ini. Dan ia akan berusaha menghindari keluarganya itu setidaknya sampai memarnya tak terlihat lagi.

Kibum mengacak lemari bajunya untuk mencari bajunya yang sedikit kebesaran dibadannya. Jinki tak mungkin tidur dengan baju seragamnya jadilah Kibum berinisiatif meminjamkan pria itu baju.

Jinki mungkin sama kurusnya dengan Kibum. Tapi bahu pemuda itu terlihat lebih lebar darinya. Lengan pemuda itu juga berotot―itu sebabnya Kibum mencari bajunya yang kebesaran.

Kibum sangat bersyukur saat menemukannya. Ia langsung menariknya dari lemari lalu menyodorkannya pada Jinki yang sedang berbaring sambil mendengarkan lagu lewat

earphone diranjangnya.

Jinki melepas sebelah earphone- nya. Ia menatap Kibum yang menyodorkan sebuah kaos padanya dengan alis terangkat.

“Ganti seragammu dengan kaos ini sebelum tidur, Jinki. Tidak enak tidur dengan seragam kan?”

Jinki tak menjawab dan hanya mengambil kaos dari tangan Kibum. Tangannya mulai melepas kancing kemeja seragamnya―dan seperti sebelumnya, Kibum langsung berbalik membelakangi Jinki.

“Maksudku kau bisa menggantinya dikamar mandi bukan disini.” kata Kibum. Sialnya, wajahnya kini kembali memerah.

“Sama saja.”

“Beda! Kau tak bisa bertelanjang dada didepan sembarang orang, Jinki.”

“I’ll do whatever I want. ” Kibum mencibir mendengar jawaban Jinki. Dasarnya pemuda itu memang keras kepala.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk diponselnya. Kibum mendengus ketika membaca isi pesan dan nama pengirimnya.

From : Taemin

Subject : First Night

KAU BERHUTANG CERITA PADAKU TENTANG YANG TERJADI HARI INI. KAU HARUS MENCERITAKAN SEMUANYA BESOK. TERUTAMA ―bagian ‘malam’ ini :p

Dan Kibum hanya memutar matanya malas tanpa berniat membalas pesan itu.

Jinki terdiam saat membuka pintu depan rumahnya. Ia yakin ibunya masih bekerja dan Jonghyun sedang di sekolah sehingga Jinki yakin hanya ada Joohyun disana. Namun Jinki menemukan sosok asing lain―yang beberapa saat lalu sedang asik berciuman dengan kakaknya itu.

Joohyun memerah, begitupun pria yang ada disampingnya saat ini. Ia tak pernah menyangka akan dipergoki adiknya sendiri saat sedang berciuman dengan kekasih barunya.

“Jinki? Kau sudah pulang? Dan wajahmu kenapa? Kau berkelahi lagi ya?” tanya Joohyun begitu sudah dapat menguasai diri. Jinki hanya menatapinya datar.

“Jangan katakan pada ibu soal kondisiku dan aku tak akan mengatakan apapun soal kejadian ini. Setuju?”

Joohyun mendengus. Sial sekali Jinki menjadikan hal ini penawaran untuk menyelamatkan dirinya.

“Baik.”

Dan Jinki langsung pergi ke kamarnya dilantai atas. Meninggalkan Joohyun berdua dengan pacarnya.

Kibum terdiam saat membaca pesan yang dikirimkan Taemin padanya.

Ia bolos hari ini karena tak tega membangunkan ataupun meninggalkan Jinki sendiri dirumahnya. Ia memutuskan untuk kembali mengganti seragamnya setelah ibunya pergi bekerja―dan meminta Taemin untuk memalsukan absennya dan Jinki. Ini pertama kali Kibum melakukannya, sungguh.

Dan kini Jinki sudah kembali ke rumahnya setelah makan siang. Kibum cukup lega karena pria itu terlihat sudah lebih baik dari hari sebelumnya. Namun sayangnya pemuda itu menolak saat Kibum menawari untuk mengatarnya.

Kibum tahu mengapa Zico memukuli Jinki kemarin. Itu pasti karena kejadian didepan kelas A tempo lalu. Zico tak akan terima dipermalukan seperti itu. Jadi pria itu memanggil teman-temannya untuk menghajar Jinki sepulang sekolah.

Namun yang membuat ini semua semakin buruk adalah bukan hanya Jinki yang pria itu incar. Tapi juga―Jonghyun. Taemin melaporkan padanya jika Zico hampir memukuli Jonghyun digang dekat sekolah mereka jika ketua OSIS mereka tidak memergokinya.

Kibum terdiam. Rasa bersalah mulai menyelimutinya. Ini semua tak akan terjadi jika Jinki dan Jonghyun tak pernah mengenalnya. Jinki tidak perlu dihajar Zico jika pemuda itu tidak digosipkan dengannya karena ia menempel pada pemuda itu terus. Dan Jonghyun juga tak akan menjadi sasaran Zico karena Jonghyun ikut membelanya.

Ya, ini memang salahnya. Seharusnya dari awal ia tak perlu menyukai Jinki. Seharusnya dari awal ia tak perlu berteman dengan Jonghyun. Seharusnya ia menjauh saja dari kehidupan mereka.

Dan―Kibum akan melakukannya sekarang. Ia akan menjauhi mereka.

Sudah lima hari, Kibum tidak masuk kesekolah. Jinki terakhir melihatnya ketika ia akan pulang dari rumah pria itu. Namun kini Kibum tak kunjung datang ke sekolah. Jinki tak mengerti apa yang salah dengan pemuda itu.

Jinki menjadi lebih sering dihukum selama Kibum tak ada. Tugasnya terbengkalai, Jinki sama sekali tidak bernapsu untuk mengerjakannya. Jinki juga lebih sering membolos dibeberapa pelajaran untuk menghindari hukuman yang berlebihan dari beberapa guru mata pelajaran itu.

Namun ada sesuatu yang membuat Jinki tak mengerti.

Tiba-tiba, ia merasa peduli dengan alasan kenapa pemuda itu tak masuk sekolah.

Tiba-tiba, ia merasa harus bertanya pada pemuda itu langsung.

Padahal biasanya―ia tak begitu peduli dengan urusan orang lain. Bahkan ia seharusnya senang karena ia sering merasa terganggu dengan celotehan Kibum yang cukup mengganggu ketenangannya. Namun nyatanya malah sebaliknya. Ia jadi merasa ada yang hilang. Dan ia harus menemukan kembali apa yang hilang.

Dan disinilah Jinki sekarang. Didepan rumah Kibum, mengentuk pintu rumah itu dan menunggu dibukakan pintu oleh pemiliknya. Sebenarnya ia tak begitu yakin untuk datang ke rumah pria ini. Namun akhirnya―kakinya tetap membawanya kesini.

Pintu terbuka dan langsung menampilkan Kibum yang menatapnya kaget. Lalu ekspresi pemuda itu berganti bingung, ” Jinki? Apa yang kau lakukan disini?”

Jinki mengeram, “Kenapa kau tidak masuk sekolah?” tanyanya dengan tatapan mengintimidasi. Membuat Kibum menunduk tak berani menatap pemuda itu.

“Kurasa itu bukan urusanmu.” jawab Kibum pelan.

“Kalau kau ada masalah disekolah, hadapi dengan jantan, Kibum. Jangan jadi banci yang hobi melarikan diri.”

Kata-kata Jinki berhasil membuatnya mendongak. Hatinya terasa sakit saat Jinki mengatainya begitu.

“Kau tahu apa masalahku, Jinki? Orientasi seksualku! Orientasi seksualku menyimpang! Apa yang harus kuhadapi dari masalahku itu?” Kibum tak tahan lagi sehingga ia mengeluarkan semua yang ada dipikirannya. Lalu tanpa menunggu balasan Jinki, Kibum masuk dan menutup pintu rumahnya.

Sementara Jinki ―hanya terdiam tanpa tahu harus bereaksi seperti apa. Ini diluar ekspetasinya. Ini diluar bayangannya.

TBC

Advertisements